Zonasi Kerentanan Gerakan Massa Tanah dan Batuan di Desa Girilayu dan Sekitarnya, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah
ABKA EBO KRISNA, Dr. Wahyu Wilopo, S.T., M.Eng.
2016 | Skripsi | S1 TEKNIK GEOLOGIIndonesia merupakan negara yang memiliki daerah dengan kondisi morfologi berbukit-bukit karena banyak tersebar gunung api. Selain itu, wilayah Indonesia, juga memiliki derajat pelapukan tinggi yang disebabkan oleh iklim dan kondisi daerahnya. Hal tersebut menyebabkan beberapa wilayah di Indonesia mengalami banyak kejadian gerakan massa tanah dan batuan. Salah satu daerah dengan kondisi tersebut adalah Desa Girilayu dan sekitarnya, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Sehingga, perlu dilakukan adanya penelitian tentang pembagian zona kerentanan gerakan massa tanah dan batuan pada daerah tersebut. Selain untuk melakukan zonasi, penelitian ini juga dilakukan untuk mengetahui parameter apa yang bekerja dalam kejadian gerakan massa pada daerah ini, sebaran dan jenis gerakan massa pada daerah penelitian, dan desa mana saja yang secara umum memiliki kerentanan tinggi, menengah, rendah, dan sangat rendah. Penelitian ini dilakukan dengan metode campuran antara metode langsung (lapangan) dan metode tak langsung (statistik). Metode tak langsung yang digunakan adalah metode density weighting dengan dua klasifikasi yang berbeda dalam pembagian zona kerentanannya (natural break dan Keputusan Menteri). Zonasi tersebut didasarkan pada parameter yang berasal dari kondisi geomorfologi, geologi dan struktur geologi. Kelas kelerengan pada daerah penelitian dibagi menjadi enam kelas berbeda, yaitu kelas lereng datar (4%), landai (24%), bergelombang (13%), curam (26%), sangat curam (29%), dan terjal (2%). Desa Girilayu dan sekitarnya tersusun oleh Satuan Breksi Lahar (53%), juga Breksi Piroklastik (43%) dan juga Breksi Tuf (4%) dengan beberapa tingkat pelapukan (Slightly Weathered (0,1), Highly Weathered (17%) dan Extremely Weathered (30%)). Sedangkan jarak dengan struktur geologi dibagi menjadi lima zona dengan rentang jarak < 100 m, 100 m - 200 m, 200 m - 300 m, 300 m - 400 m, dan > 400 m. Namun, gerakan massa hanya tersebar pada daerah dengan jarak < 100 m dan > 400 m. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada daerah tersebut tersebar 69 buah gerakan massa (63 berupa single rotational slide, 3 buah translational slide, dan 3 buah fall) Dari ketiga parameter tersebut terbentuk zona kerentanan dengan 4 kelas yang berbeda, yaitu zona kerentanan sangat rendah, zona kerentanan rendah, zona kerentanan menengah, dan zona kerentanan tinggi. Secara umum dari sebelas desa dapat dibagi menjadi 4 kelompok desa dengan gambaran kerentanan secara umum. Kelompok yang pertama adalah desa yang secara umum memiliki kerentanan sangat rendah (Desa Bandarwung, Karang, dan Karanglo). Kelompok yang kedua merupakan desa yang secara umum memiliki kerentanan rendah (Desa Nglebak dan Desa Salam). Selanjutnya terdapat kelompok desa yang secara umum memiliki kerentanan menengah (Desa Koripan, Pablengan, dan Desa Giribangun). Kelompok yang terakhir adalah desa-desa yang secara umum memiliki kerentanan tinggi seperti pada Desa Girilayu, Plumbon, dan, Desa Gerdu.
Indonesia have an undulating morphological feature because of a lots volcanoes spreads on this country. Besides that, this country also have a tropic climate that cause a high weathering degree. As a result from those conditions, many mass movements spreads all over places in Indonesia. Desa Girilayu, Matesih, Karanganyar Distric, Jawa Tengah Province is one of those places that have similar characteristic from the description above. So, it is important to do a research that concern on the dividing of mass movement susceptibility zone in that area. Not only doing the zonation, but also finding parameters that caused or influenced mass movement, spread pattern and mass movement type, and to find which area that categorized as high, moderate, low, or very low susceptibility zone. This research is using direct (field research) and indirect method (statistic). Indirect method is used for categorize or classify the susceptibility zone with density weighting method. The susceptibility zone will be classified with two different classification methods (based on natural break and based on Keputusan Menteri). The parameters that are used are based on the geomorphological condition, geological (lithology) and, geological structure. Slope on this area is classified into six different classes : flat (4%), sloping (24%), undulating (13%), steep (26%), very steep (29%), and steepest (2%). This area is composed of Breksi Lahar Units (53%), Breksi Piroklastik (43%) and Breksi Tuf (4%) with three different weathering degrees : Slightly Weathered (0,1), Highly Weathered (17%) and Extremely Weathered (30%). This area is divided into five zones according to its distance from a geological structures (< 100 m, 100 m - 200 m, 200 m - 300 m, 300 m - 400 m, and > 400 m). But, mass movements only occur on the area that have distances < 100 m and > 400 m. This research shows that in Desa Girilayu and surrounding, spreads around 69 mass movements (63 single rotational slides, 3 translational slides, dan 3 falls). From that parameters, mass movement susceptibility zone is built with four different classes (very low susceptibility zone, low susceptibility zone, moderate susceptibility zone, and high susceptibility zone). From eleven villages on the research area, it will be divided into four different general susceptibility classes. The first susceptibility class is villages that generally have very low susceptibility zone (Desa Bandarwung, Karang, dan Karanglo). Second zone is low susceptibility zone (Desa Nglebak dan Desa Salam). The next zone is zone that have moderate susceptibility zone (Desa Koripan, Pablengan, dan Desa Giribangun). And the last is the highest susceptibility zone (Desa Girilayu, Plumbon, dan, Desa Gerdu).
Kata Kunci : zona kerentanan, kelas lereng, tingkat pelapukan batuan, jarak struktur, gerakan massa tanah dan batuan