Laporkan Masalah

PERSEPSI WARGA TERHADAP KEPEMIMPINAN DESA DALAM PERSPEKTIF GENDER DI KECAMATAN ADIPALA, KABUPATEN CILACAP, PROVINSI JAWA TENGAH

AROFINGTYAS A., Prof. Dr. Partini, S.U.

2016 | Skripsi | S1 SOSIOLOGI

Persoalan kepemimpinan dan gender merupakan bahasan yang menarik. Stereotype bahwa seorang pemimpin merupakan laki-laki menjadi kendala untuk perempuan. Akan tetapi, dengan adanya pendidikan yang kian maju memungkinkan cara pandang masyarakat berubah seperti halnya perempuan menjadi pemimpin. Penelitian ini mengambil setting sosial Desa mengingat norma dan adat masih cukup kuat. Selain itu, munculnya peraturan alokasi dana Desa menjadi tantangan kepemimpinan Desa. Tujuan penelitian ini, yaitu mengetahui pandangan masyarakat tentang kepemimpinan Desa dalam perspektif gender, mengetahui persamaan dan perbedaan kepemimpinan laki-laki dan perempuan, serta mengetahui pandangan masyarakat tentang kepemimpinan yang dianggap ideal. Lokasi penelitian berada di Desa Adireja Kulon dan Adireja Wetan, Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah dengan menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam, observasi semi partisipatif, focus group discusion dan beberapa data sekunder. Informan dalam penelitian ini diambil berdasarkan kelompok masyarakat dan mata pencaharian. Kelompok masyarakat terdiri dari dua orang anggota karang taruna, dua orang anggota PKK, dua orang anggota kelompok tani, kurang lebih lima orang pegawai atau pejabat Desa. Sedangkan informan mata pencaharian terdiri dari dua orang kalangan akademis, dua orang kalangan pedagang, dua orang kalangan buruh, satu orang pelajar dan satu orang kalangan profesional. Kepemimpinan laki-laki dan perempuan berbeda sebelum dan saat menjadi pemimpin. Perempuan harus memiliki faktor eksternal untuk menjadi seorang pemimpin. Faktor eksternal tersebut seperti halnya dukungan politik dan materi yang dimiliki. Setelah menjadi pemimpin, stereotype bahwa karena ia seorang perempuan masih melekat, terutama ketika terdapat masalah. Berbeda dengan laki-laki yang tidak mengalami hal tersebut. Salah satu pemimpin perempuan tidak sesuai ekspektasi warga dan mendapat sanksi sosial berupa gosip dan sindiran. Pemimpin perempuan mulai berubah sedikit demi sedikit seperti halnya mulai mengikuti kegiatan Desa (gotong royong atau grebegan) dan membawa makanan atau minuman pada saat kegiatan. Hal tersebut menunjukan perempuan memiliki sikap responsif yang lebih terhadap tekanan. Selain itu, pemimpin perempuan yang awalnya kaku dan suka mendikte mulai memiliki sikap mengalah. Berbeda dengan pemimpin laki-laki yang cenderung memiliki kepemimpinan sesuai dengan harapan warga, seperti halnya dekat dengan masyarakat dan suka memberi makanan atau minuman pada saat kegiatan Desa. Walaupun demikian baik pemimpin laki-laki maupun perempuan sama-sama menerapkan prinsip-prinsip musyawarah mufakat. Sekalipun terdapat beberapa argumen miring dapat dimaklumi seperti halnya dalam membuat keputusan atau kebijakan tidak semua warga memiliki kepentingan sama. Selain itu, baik pemimpin laki-laki maupun perempuan sama-sama memberikan rasa percaya diri, kesadaran dan nyaman bekerja. Perbedaannya yaitu salah satu pemimpin perempuan terkesan setengah-setengah. Hal tersebut terlihat dari karakter aktif dan inisiatif yang masih kurang. Berbeda dengan dua pemimpin lainnya yang lebih maksimal menjalankan karakter tersebut, seperti halnya lebih aktif dan inisiatif dalam menyelesaikan masalah warga. Persamaan ketiga pemimpin tersebut, yaitu tidak membuat kesepakatan diawal soal diskusi pertukaran seperti halnya memberi makanan atau minuman saat kegiatan. Hal tersebut hanya dianggap sebagai suatu kepantasan atau etika.

Leadership and gender matters are interesting topics. Male-leader stereotype becomes an obstacle for woman. However, the improving education may change the society's perception such as choosing woman as a leader. This research chose village as social setting considering the strength of norm and custom. Moreover, the emersion of village funds allocation policy considered as one of challenges in village leadership. The purpose of this study is to understand society's perception about village leadership in the perspective of gender, to understand the equality, and the difference of woman and man leadership, and to understand the society's perception of ideal leadership. The research location take place in AdirejoKulon and AdirejaWetan Village, Adipala District, Cilacap, Central Java. It employsdescriptivequalitativeas research method. The collecting data in this study utilizes in-depth interview, semi-participative observation, focus group discussion and secondary data. Informants are chosen based on the group of society and livelihood. The groups consist of two members of village youth organization (KarangTaruna), two members of woman organization (PKK), two members of farmer organization (KelompokTani), and five village officials. On the other side, informantsbased on livelihood consist of two academia, two merchants, two labors, one student and one professional. Woman and man leadership style is different before and after selected as a leader. A woman shall have external factors to be a leader. The external factors are politic support and material. After selected, stereotype that she is a woman still attached, mainly when she is facing problems and it different with a man leadership where this stereotype does not occur. When the society's expectation to woman leadership does not meet the reality, the leader gets social sanctions, namely gossip and innuendo. A woman leadership change gradually such as take a part in village festival by bringing food or drinks for the event. It shows that woman is responsive towards pressure. The other finding is woman as leader after being pressured becomes more budge than the first time she is selected; rigid and dictate. Woman leadership is different with man leadership which tends to have a leadership style as society's expected, namely closed with the villagers and participate in village events by bringing food or drink. Both of woman and man leader apply the same deliberation although it is understood if the decision is not accepted by all of the villagers since not all of them has the same purpose. Other than that, both of leaders give the same feeling of confidence, awareness and comfortable work environment. The difference is a woman leader being framed as if she works does not optimum. It is concluded based on the character and the lack of initiative. Different with the other two leaders that has already optimized in running the character, such as actively and initiatively solving the villager's problems. Meanwhile the similarity of the three leaders are not making deal in the early discussion about exchange,they do it as something that is considered appropriate.

Kata Kunci : Kepemimpinan Desa, Gender

  1. S1-2016-317778-abstract.pdf  
  2. S1-2016-317778-bibliography.pdf  
  3. S1-2016-317778-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2016-317778-title.pdf