STRATEGI BERTAHAN KELOMPOK TANI TERNAK (Studi Pada Kelompok Ternak Ngudi Mulyo di Dusun Depok, Desa Wonolelo, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta)
MAISAROH CHOIROTUNN., Dr. Krisdyatmiko, S.Sos, M.Si
2016 | Skripsi | S1 ILMU PEMBANGUNAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAAN (SOSIATRI)Kebutuhan sumber daging sapi di Indonesia yang semakin membesar seiring bertambahnya jumlah penduduk mendorong gerakan swadaya daging sapi sebagai usaha pemenuhannya. Dalam hal ini pembentukan kelompok-kelompok ternak menjadi salah satu jawabannya. Namun yang menjadi kendala adalah keberlanjutan kedepannya, dimana berkaitan erat dengan ketahanan kelompok. Kelompok ternak Ngudi Mulyo yang terletak di Dusun Wonolelo, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul, Yogyakarta menjadi salah satu kelompok ternak yang berhasil bertahan dan tergolong sukses sejak pertama kali berdiri hingga saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1. strategi Kelompok Ternak Ngudi Mulyo untuk bertahan menghadapi hambatan internal dan eksternal kelompok, 2. Mengidentifikasi faktor-faktor serta upaya pengelolaan potensi yang berpengaruh dalam mewujudkan ketahanan kelompok tani ternak. Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian kualitatif dengan metode deskriptif analisis. Sedangkan teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara mendalam (in-depth interview), dan telaah dokumen. Untuk mempermudah pengolahan data yang sudah dipadatkan, peneliti menggunakan kerangka analisis The Asset Vulnerability Framework milik Moser yang memegang konsep strategi survival atau ketahanan kelompok. Dalam pembahasannya peneliti mendapatkan strategi-strategi bertahan kelompok melalui pengelolaan aset-aset diantaranya: aset modal manusia dengan menerapkan strategi berupa pelatihan menggunakan pola konvensional atau yang umum dimengerti masyarakat, aset produktif dengan konsisten memproduksi sapi-sapi dengan kualitas tinggi, aset relasi dengan memberikan tanggungjawab barupa laporan yang dibutuhkan oleh BPTP maupun Dinas Peternakan untuk membangun kepercayaan dari pihak tersebut serta bergabung dalam asosiasi pakan ternak, aset modal sosial dengan meningkatkan kesadaran anggotanya untuk terus menjaga norma dan kepercayaan dalam kelompok. Kenyataannya, tidak ada pengaruh yang ditimbulkan oleh kebijakan impor daging sapi pemerintah terhadap peroduktifitas maupun kegiatan jual-beli Kelompok Ternak Ngudi Mulyo. Dari hasil penelitian juga ditemukan bahwasanya bantuan yang didapatkan kelompok tidak membuat ketergantungan, melainkan menunjang kemandirian kelompok. Hal ini didukung oleh penemuan bahwa pemanfaatan bantuan tersebut hingga saat ini masih berjalan. Kemandirian Kelompok Ternak Ngudi Mulyo didasari beberapa faktor diantaranya adalah kemampuan pemenuhan syarat dasar ketahanan kelompok secara formal, pengelolaan modal sosial yang dalam hal ini juga memiliki andil penting dalam menunjang ketahanan ekonomi kelompok, penerapan pola kepemimpinan yang tegas bijaksana, serta prinsip kompetitif yang dimiliki anggota kelompok. Disamping hal tersebut ternyata kelompok ini memiliki sisi negatif yaitu melakukan kecurangan berupa anggota kelompok fiktif.
People needs of animal protein sources, especially that derived from beef in Indonesia is growing with increasing number of non-resident encourage movement as a business fulfillment. In this case, the formation of livestock groups either made by community or institution could be the answer. Thus, an obstacle appear as sustainability problem for group future, which is closely related to the resilience of the group. There is a group called Ngudi Mulyo Group, which is located in Depok, Wonolelo Village, Pleret District, Bantul Regency, Special Region of Yogyakarta. This group managed to survive and has quite successful track record since it was first established until now. This research aim to discover: 1. Survival strategy of Ngudi Mulyo Group to confront internal and external problems, 2. Identify factors and asset management ability that affect group sustainability. This type of research is qualitative research with descriptive method of analysis. Data collection techniques including observation, in-depth interviews, and review documents. To facilitate data processing which is already compressed, the researchers used analytical framework by Moser, The Asset Vulnerability Framework which holds concept of survival strategies or groups resistance. In the discussion, researcher acquired coping strategies group through the management of assets, including: asset human capital by implementing the strategy in the form of training using a conventional pattern or commonly understood by the public, productive assets by consistently producing cows with high quality, asset relationship with the responsibilities reports required by the BPTP and the animal Husbandry Department, social capital assets by raising awareness of its members to continue to maintain norms and trust in the group. In fact, there is no influence caused by the government's beef import policy to Ngudi Mulyo Group�s trade and productivity. Also, research found that support given by government and other instituion did not create any dependence, yet independence support groups. This fact supported by the discovery that the utilization of such assistance is still running to date. Independence of Ngudi Mulyo group based on several factors including ability of basic requirements fulfillment of formal management in social capital, which in this case also have an important contribution in supporting economic resilience of the group. The application of decisive leadership wisdom pattern, as well as competitive principles shared by members of the group. Besides, it turned out that this group has a negative side to commit fraud in the form of a fictitious group members.
Kata Kunci : strategi bertahan, kelompok ternak, pengorganisasian