Laporkan Masalah

PAGUYUBAN SEBAGAI BASIS PENINGKATAN PRODUKTIVITAS PEDAGANG. Studi Kasus Modal Sosial Pedagang Melalui Paguyuban APPSI Pasar Imogiri, Kabupaten Bantul

MIQDAD MUHAMMAD, Drs. Hendrie Adji Kusworo, M.Sc., Ph.D.

2016 | Skripsi | S1 ILMU PEMBANGUNAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAAN (SOSIATRI)

Di Yogyakarta integrasi sosial sudah wajar tumbuh dan berkembang. Masyarakat masih terikat dalam penghayatan yang kuat atas berbagai norma sosial yang menjadikannya mampu mempertahankan keberadaan rasa solidaritas sebagai tanggung jawab kultural. Tanggung jawab kultural tersebut menjadi salah satu modal sosial yang telah terinstitusionalkan di masyarakat. Modal sosial tersebut kemudian menjadi semacam energi penggerak terhadap berbagai tindakan sosial termasuk yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan bersama. Seperti komunitas pedagang di Pasar Imogiri Kabupaten Bantul, Ia hadir ditengah-tengah pasar sebagai wadah membangun integrasi sosial diantara pedagang. Usaha-usaha ini dapat terwujud dengan diorganisir secara sukarela melalui sebuah paguyuban bernama Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI). Penelitian ini bertitik tolak dari pemahaman bahwa konsep modal sosial dapat diaplikasikan dalam upaya peningkatan produktivitas pedagang. Ada dua hal yang menjadi fokus utama dalam penelitian ini, pertama, proses pembentukan modal sosial di Pasar Imogiri. Modal sosial tersebut terinstitusionalisasikan dalam bentuk paguyuban APPSI Pasar Imogiri. Kedua, implikasi modal sosial yang tertanam di tubuh APPSI Pasar Imogiri terhadap produktivitas pedagang di Pasar Imogiri. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Penelitian ini menggunakan dua sumber data penelitian, yakni data primer melalui wawancara secara langsung dengan informan serta metode dokumentasi dan data sekunder yang diperoleh melalui referensi hasil penelitian terkait. Unit analisis dalam penelitian ini adalah pedagang Pasar Imogiri yang tergabung dalam paguyuban APPSI Pasar Imogiri, baik anggota maupun pengurus. Hasil penelitian ini menunjukkan integrasi sosial diantara pedagang tumbuh melalui mekanisme kegiatan-kegiatan sukarela seperti gotong-royong, hajatan, maupun acara hari besar atau keagamaan bahkan menjenguk teman yang sakit atau melayat jika ada yang meninggal. Kegiatan tersebut telah memupuk rasa solidaritas dan kepercayaan yang menjadi modal sosial diantara pedagang. Modal sosial tersebut berubah menjadi semangat kolektif yang menggerakkan setiap tindakan sosial yang bertujuan untuk kebaikan pedagang. Melalui APPSI modal sosial tersebut diorganisir agar dapat dimaksimalkan kubermanfaatnya. APPSI merupakan wadah bagi pedagang untuk mengembangkan kapasitasnya. APPSI memfasilitasi pedagang melalui program-program pelatihan atau workshop, program advokasi atau pengaduan setiap permasalahan yang terkait dengan pasar. Selain itu APPSI menjalin jaringan kerja sama dengan berbagai pihak untuk mengembangkan pasar tradisional. Upaya-upaya yang dilakukan APPSI terbukti mampu meningkatkan produktivitas pedagang. Hal tersebut dapat dilihat dari perubahan manajemen pengelolaan usaha pedagang yang lebih sistematis, pengetahuan yang meningkat, serta pemanfaatan jaringan sebagai wujud dari saling percaya sehingga menurunkan biaya bekerja bersama-sama.

Social integrations are used to grow and develop among society in Yogyakarta. People are still tied up with strong appreciation of the various social norms that make it able to maintain the existence of a sense of solidarity as a cultural responsibility. Cultural responsibility has become one of the social capital that has been institutionalized in the society. The social capital became a kind of driving energy to a variety of social actions including those aimed to improve the common welfare, such as a community of traders in Imogiri traditional market. It is present in the midst of the market as a place to build social integration among traders. These efforts organized through an association called Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI). This research based on understanding the concept of social capital can be applied to increase trader�¢ï¿½ï¿½s productivity. There are two cases of main focus in this research. Firstly, the building process of social capital in the Imogiri Market. The institutionalized social capital in the form of community APPSI Imogiri market. Secondly, the implications of social capital on market traders productivity. Basic method of this research/study (consistent) is qualitative method with case study approach using primary data and secondary data, respectively obtained from direct interviews with informants, documentations and related references. The unit of analysis in this research is Imogiri market traders who are members of the community APPSI Imogiri Market, both members and officials. The results of this research indicate social integration among traders grew through the mechanism of volunteer activities such as mutual cooperation, thanksgiving celebration, religious events even visited sick friend or funeral events. These activities have fostered a sense of solidarity and mutual trust become social capital among traders. Social capital is transformed into a collective spirit that drives every social action. Social capital organized through APPSI in order to maximize its benefits. It is a place for traders to develop its capacity through training programs or workshops, advocacy programs or complaint any problems related to the market. Moreover, APPSI establish a network with various stakeholders to develop traditional markets. The efforts were APPSI made prove to increase trader�¢ï¿½ï¿½s productivity. It can be seen by the change of business management that more systematic, improved knowledge, and the utilization of the network as a manifestation of mutual trust thus lowering the cost of cooperate.

Kata Kunci : Modal Sosial, APPSI, Produktivitas, Pasar Imogiri Bantul

  1. S1-2016-299169-abstract.pdf  
  2. S1-2016-299169-bibliography.pdf  
  3. S1-2016-299169-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2016-299169-title.pdf