Laporkan Masalah

RANTAI NILAI PADA JARINGAN DISTRIBUSI GABAH DAN BERAS DI KABUPATEN BANTUL D.I YOGYAKARTA

LUKNI MAULANA, Dr. Ir. Endy Suwondo, DEA ; Ir. Pujo Saroyo, M.Eng.Sc

2016 | Skripsi | S1 TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN

RANTAI NILAI PADA JARINGAN DISTRIBUSI GABAH DAN BERAS DI KABUPATEN BANTUL D.I YOGYAKARTA INTISARI Sebagai makanan pokok di Indonesia, beras menjadi komoditas pertanian yang sangat vital peranannya bagi Indonesia, karena sebagian besar masyarakat bekerja pada sektor pertanian. Berdasarkan data produksi beras nasional, Indonesia sudah mampu memenuhi kebutuhan beras nasional, namun faktanya Indonesia masih mengimpor beras dari luar negeri. Bahkan petani menjadi aktor yang dirugikan akibat adanya disparitas antara harga gabah dan beras yang cukup tinggi. Menurut Syahza (2003) disparitas antara harga gabah dan beras yang tinggi merupakan akibat dari panjangnya rantai distribusi komoditas pertanian. Pada umumnya petani tidak terlibat dalam rantai pemasaran produk sehingga nilai tambah pengolahan dan perdagangan produk pertanian hanya dinikmati oleh pedagang. Dalam upaya mempersempit disparitas antara harga gabah di tingkat petani dan harga beras di tingkat konsumen di Kabupaten Bantul, maka diperlukan studi mengenai analisis rantai nilai komoditas gabah dan beras. Lokasi penelitian ditentukan secara sengaja di Kabupaten Bantul. Penelitian dilaksanakan terhadap 60 petani, 10 penebas, 15 penggilingan padi, 5 pengepul dan 10 pengecer melalui teknik purposive sampling dan snowball sampling. Data dianalisis secara deskriptif terhadap pola distribusi dan margin pemasaran dan keuntungan gabah dan beras. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 13 pola rantai nilai gabah dan beras di Kabupaten Bantul. Sebesar 50% petani tidak menikmati marjin pemasaran akibat menjual gabahnya kepada penebas. Pelaku yang memperoleh marjin pemasaran terbesar adalah penggilingan padi yaitu 42,22%. Keuntungan terbesar juga diperoleh penggilingan padi sebesar 46,54%. Strategi yang dapat dilakukan untuk menguatkan usaha tani petani dalam rantai nilai adalah petani perlu melakukan operasi mulai dari pemanenan dan penjemuran sehingga diperoleh hasil panen dalam bentuk GKG.

VALUE CHAIN OF UNSHELLED RICE AND RICE DISTRIBUTION CHANNEL IN BANTUL, D.I YOGYAKARTA ABSTRACT Rice becomes the first commodity in Indonesian with vital role because most of Indonesians eat rice every day. Based on national production data, Indonesia has already fulfill national demand of rice. But in fact, Indonesia still imported rice from other countries. Moreover, farmers become an actor whom most disadvantaged because of highly price disparity between unshelled rice and rice. Shayza (2003) said that high price disparity of Agricultural product is caused by long distribution channel. Generally, Farmers are not involved in marketing chain so that the value added of further processing activity and trading belong to trader. Study in the field of unshelled rice and rice Value Chain Analysis is needed to decrease price disparity of both commodities. The study was located in Bantul Region with 60 farmers, 10 middleman, 15 millers, 5 collectors, and 10 retailers by using purposive sampling and snowball sampling. Data was analyzed by using descriptive method due to distribution channel and marketing margin of both commodities. The result of the study shows there are 13 Patterns of unshelled rice and rice distribution channel in Bantul Region. 50% farmers can�t get marketing margin because they sell the unshelled rice to the middleman. The actor who get the best marketing margin is rice miller with 42,22% of marketing margin. Rice miller also gets the best profit with 46,54%. In order to strengthen farmer�s farming industry in value chain, farmers need to give attention in every operation process, start from harvesting until sun drying process which produce the yields in GKG form.

Kata Kunci : Beras, Gabah, Bantul, Analisis Rantai Nilai / Rice, Unshelled Rice, Bantul, Value Chain Analysis