EVALUASI KORIDOR JALUR KERETA API LOKAL LINTAS BERAN-PALBAPANG D.I. YOGYAKARTA
PRAMONO ADI NUGROHO, Ir. Djoko Murwono, M.Sc.
2016 | Skripsi | S1 TEKNIK SIPILPertumbuhan penduduk yang pesat di Yogyakarta tidak diimbangi dengan perkembangan transportasi umum. Hal ini menyebabkan kendaraan pribadi masih menjadi pilihan utama dan akibatnya beberapa ruas jalan utama Yogyakarta terlihat padat. Untuk itu diperlukan upaya untuk menekan pertumbuhan kendaraan pribadi. Light rail transit (LRT) dinilai mampu mengatasi masalah tersebut karena berbagai keunggulannya dibanding dengan moda transportasi darat lainnya. Penelitian ini membahas pengembangan perkeretaapian di DI Yogyakarta khususnya jalur yang menghubungkan Sleman, Kota Yogyakarta, dan Bantul. Penelitian ini menggunakan metode kajian literatur dengan menggunakan Rencana Tata Ruang Wilayah DI Yogyakarta tahun 2009-2029, Rencana Induk Perkeretaapian DI Yogyakarta, dan Studi Tinjau Ulang Tataran Transportasi Wilayah DI Yogyakarta sebagai dasar penelitian dan didukung dengan pengamatan langsung di lapangan. Dalam penelitian ini dilakukan evaluasi untuk jalur non aktif Beran-Palbapang, penyusunan alternatif trase, serta pembahasan permasalahan yang mungkin terjadi khususnya dalam aspek tata guna lahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jalur kereta api Beran-Palbapang sudah tidak dapat digunakan karena kerusakan yang terdapat pada rel, bantalan, dan jembatan. Sebanyak 74,06% tata guna lahan untuk alternatif trase merupakan kawasan perumahan/pertokoan dan 88 titik perpotongan dilewati oleh alternatif trase tersebut. Sebagai usulan solusi atas konflik sosial dan resiko keamanan yang mungkin terjadi, tipe konstruksi elevated dan underground dapat dipertimbangkan.
Rapid population growth in Yogyakarta is not equal with the development of public transportation. This condition makes private car is still preferable which consequently makes several main roads in Yogyakarta becomes congested. Therefore, the efforts to suppress the growth of private vehicles are important. Light Rail Transit (LRT) is assessed to be the solution of this problem due to various advantages compared with other modes of land transportation. This study discussed the development of railways in Special Region of Yogyakarta, especially the lane which connects Sleman, Yogyakarta City, and Bantul. This study used literature review method using Spatial Plan of Special Region of Yogyakarta Year 2009-2029, Railway Master Plan of Special Region of Yogyakarta, and Study Review of Transportation in Special Region of Yogyakarta as a fundamental study and field surveying to support the literatures. In this study, the evaluations for non-active lane of Beran-Palbapang, the alternative lane drafting, and the discussion of several issues that might be exist were conducted. The results showed that the railway lane of Beran-Palbapang can not be used because of the damages that was found on the rails, bearings, and bridges. 74.06% of land use for the alternative lane were residential areas / shops and 88 intersections were passed by the alternative lane. As a proposed solution to the social conflicts and security risks that may occur, elevated and underground construction type can be considered.
Kata Kunci : LRT, tata guna lahan, alternatif trase