Strategi Bertahan Berbasis Adat, Studi Kasus Suku Dayak Iban di Dusun Sungai Utik
TISSA KARANIYA P. V, Dr.Rer.Pol. Mada Sukmajati, S.I.P., M.P.P
2016 | Skripsi | S1 ILMU PEMERINTAHAN (POLITIK DAN PEMERINTAHAN)Hutan merupakan arena ekologis yang menyimpan potensi ekonomi cukup tinggi bagi pendapatan negara. Potensi ekonomi yang muncul dari kayu hutan menyebabkan kebijakan negara lebih dititikberatkan pada keuntungan ekonomi daripada keseimbangan ekologis. Perbedaan logika ini menyebabkan terjadi kontradiksi kepentingan antara negara dengan adat istiadat yang menggantungkan hidupnya melalui sumber daya alam dari hutan. Ditengah kontradiksi kepentingan antara negara dengan adat istiadat, suku dayak Iban terbukti mampu menunjukkan eksistensi mereka sebagai masyarakat adat yang mampu mempertahankan hutan adat.Demi membaca fenomena ini, penulis mengacu pada teori resource mobilizationJ.Craig Jenkins. Teori ini mengedepankan penggunaan sumber daya menjadi kunci kesuksesan gerakan yang didukung oleh rasionalitas aktor. Dimulai dengan tujuan untuk mempertahankan hutan adat, gerakan sosial suku dayak Iban diwarnai dengan mengaktifkan fungsi lembaga adat untuk memobilisasi sumber daya mereka. Pergantian rezim politik pun ikut menjadi catatan sejarah bagaimana hadirnya kesempatan ikut berperan dalam kesuksesan gerakan sosial suku dayak Iban. Perjalanan gerakan yang panjang bergaris lurus dengan lahirnya berbagai kebijakan seperti UU Kehutanan no 41 tahun 1999, sertifikat hutan, hingga putusan MK sebagai bukti bahwa hutan adat mulai diakui oleh negara. Hal ini menunjukkan bahwa adat istiadat menjadi kunci atas kesuksesan gerakan sosial suku dayak Iban. Adat istiadat menjadi kiblat rasionalitas Suku Dayak Iban dalam memobilisasi sumber-sumber daya yang mereka miliki demi memastikan hutan adat Sungai Utik tidak tersentuh oleh kepentingan lain diluar kepentingan adat istiadat.
Forests are ecological arena that holds high economic potential enough for the state revenue. Economic potential arising from wood forests leads state policy is more focused on the economic benefits rather than the ecological balance. The distinction of those logic lead to a contradiction between the interests of the state and the tradition t dependents through the natural resources of the forest. Amid the contradictions of interests between countries with customs, Dayak Iban had proved to demonstrate their existence as indigenous peoples are able to maintain the forests adat. For the sake of reading of this phenomenon, the author refers to the theories of resource mobilizationJ.Craig Jenkins. This theory emphasizes the use of resources is a key to the success of the movement that is supported by the rationality of actors. Starting with the aim of maintaining indigenous forests, social movements Dayak Iban activate colored with traditional institutions to mobilize their resources. The political regime change come to be a historical record of how the presence of chance played a role in the success of social movements Dayak Iban. Striped long journey motion straight with the birth of various policies such as the Forestry Law No. 41 of 1999, the forest certificate, until the Constitutional Court decision as evidence that the indigenous forests began to be recognized by the state. This indicates that the customs is key to the success of social movements Dayak Iban. Customs become a rationality Dayak Iban to mobilize resources at their disposal to ensure indigenous forests Utik river untouched by other interests beyond the interests of tradition.
Kata Kunci : Adat Istiadat, Masyarakat Adat, Gerakan Sosial /Tradition, Indigenous people, Social movement