Perilaku Penghuni Dalam Menyikapi Pranata Sosial Pada Bangunan Vertikal Di Kota Denpasar Studi Kasus: Asrama Mahasiswa Udayana Denpasar
I MADE JAYA WISNAWA PUTRA, Deva Fosterharoldas Swasto, ST., M.Sc., Ph.D.
2016 | Skripsi | S1 PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTATinggal di lingkungan hunian yang vertikal dan komunal seperti asrama, penghuni diharuskan paham akan tata hidup dan etika pergaulan (Hariyono, 2007). Di lingkungan yang demikian, penghuni juga akan menemui berbagai keterbatasan, seperti: tidak leluasa dalam menerima tamu, tidak bebas melakukan kegiatan, dan tidak bebas berbicara (Komarudin, 1997). Hal tersebut terjadi karena di lingkungan asrama tetangga tidak hanya berada di sisi kanan dan kiri, tetapi juga di atas dan bawah (Yudohusoso et.al., 1991). Dengan demikian, maka diperlukan adanya pranata-pranata yang mengatur sistem tata kelakuan penghuni sehingga tercipta kondisi asrama yang nyaman. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi pranata sosial yang berlaku di Asrama Mahasiswa Udayana Denpasar dan mengidentifikasi perilaku penghuni dalam menyikapi pranata sosial yang berlaku. Pemilihan lokasi dilakukan berdasarkan pertimbangan: (1) asrama dihuni oleh mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah, berbagai suku dan agama; (2) dihuni oleh mahasiswa putra dan putri; dan (3) asrama berada pada lingkungan masyarakat Hindu Bali yang dikenal unik dengan adatnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis data secara induktif. Sementara untuk pengumpulan datanya menggunakan wawancara secara mendalam terhadap informan-informan kunci. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa di Asrama Mahasiswa Udayana Denpasar memiliki 6 jenis pranata sosial yang dibedakan berdasarkan aspek dominannya seperti: aspek administrasi, penggunaan ruang, keamanan, kebersihan, ketenteraman, serta adat dan agama. Terhadap masing-masing pranata sosial, penghuni asrama memiliki perilaku yang berbeda-beda dalam menyikapinya. Dari ragam perilaku penghuni tersebut kemudian diketahui bahwa terjadinya dialog terhadap pranata sosial. Terdapat 3 bentuk dialog yang ditemukan, yaitu: (1) Adaptasi dan adjustment, dilakukan terhadap pranata sosial yang sifatnya sangat kuat dan tidak bisa ditentang; (2) Konsensus, dilakukan terhadap pranata sosial yang sebelumnya tidak ada di asrama; dan (3) Negosiasi, dilakukan terhadap pranata sosial sifatnya kaku, sedangkan penghuni menginginkan adanya keleluasaan. Pranata sosial di asrama juga dapat dikatakan sangat unik, sebab dibentuk oleh 3 pihak, yaitu: (1) dari pengelola/top-down, (2) dari penghuni/bottom-up, dan (3) dari banjar (organisasi kemasyarakatan tradisional Bali) dan desa/eksternal.
To live in a vertical and comunal housing such as a dormitory, a dweller is required to know about (the manner regulation) and the social ethics (Hariyono, 2007). Living in the dormitory, the dwellers will find some limitations such as: can't free to accept visitors, can't free to do activity, and can't free to speak (Komarudin, 1997). Those things are enforced because in the dormitory, the neighborhood are not only in the right and the left side, but also in the upstairs and downstairs (Yudohusoso et.al., 1991). Therefore, there must be a social institution that regulates the (manner regulations) of dwellers in order to make a comfortable dormitory condition. The aim of this research is to identify the social institution in Dormitory of Mahasiswa Udayana Denpasar and to identify the dweller behavior against the social institution. Dormitory of Mahasiswa Udayana Denpasar is choosen as a location of the study based on some considerations, they are: (1) the dormitory is (inhabited) by people who come from many provinces, ethnics, and religions; (2) the dwellers of the dormitory are male and female; (3) the dormitory stays in the environment which is surrounded by Hindu Bali neighborhood that are known with its unique tradition and culture. This research uses inductive-qualitative method. Meanwhile, the data collection technique uses an indepth-interview method to the informants. The result of this research shows that there are six (6) types of social institutions in Dormitory of Mahasiswa Udayana Denpasar that are distinguished based on: administration aspect, space used aspect, cleanness aspect, serenity aspect, tradition and religion aspect. Each of those social institutions have many different behavior from the dwellers. From different dweller behavior known that there are sosial institution dialogues. There are three types of sosial institution dilogue, they are: (1) Adaptation and adjustment, this dialogue is for social institutions who have a strong character and can not be challenged; (2) Consensus, this dialogue is for social institutions who have not been in the dormitory yet; (3) Negotiations, this dialogue is for social institution that have rigid character, while the dwellers want the more flexibility living. Social institutions in Dormitory of Mahasiswa Udayana Denpasar have a unique characters, because it is made from 3 sources, they are: (1) from dormitory manager/top-down, (2) from the dwellers/bottom-up, and (3) from banjar (Balinese social organization) and village/external.
Kata Kunci : Pranata sosial, Asrama Mahasiswa Udayana Denpasar, Dialog terhadap Pranata, Adaptasi dan Adjustment, Konsensus, Negosiasi