Laporkan Masalah

Penentuan Model Alokasi Kursi dan Strategi Penetapan Harga yang Optimal pada Kereta Api Menggunakan Pendekatan Revenue Management dengan Metode Dynamic Programming

IMAS ARISTA , Nur Aini Masruroh, S.T., M.Sc., Ph.D.

2016 | Skripsi | S1 TEKNIK INDUSTRI

Kereta api merupakan salah satu cabang dari industri transportasi di Indonesia. Alokasi kursi penumpang dan strategi penetapan harga merupakan dua masalah utama yang sering dihadapi PT KAI sebagai penyedia tunggal layanan kereta api. Pendekatan revenue management dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah ini. Hal ini karena produk yang ditawarkan bertipe perishable yang merupakan salah satu syarat penerapan metode ini. Kereta api yang dianalisis meliputi tiga jenis kereta dengan okupansi yang tergolong tinggi yaitu Argo Wilis, Turangga, dan Lodaya Pagi. Argo Wilis dan Turangga merupakan kereta kelas eksekutif sedangkan Lodaya Pagi memiliki dua kelas yaitu eksekutif dan bisnis. Setiap kelas terbagi menjadi empat subclass / kelas harga yang berbeda. Penelitian ini hanya menganalisis satu rute perjalanan kereta yaitu Solobalapan - Bandung. Penelitian ini akan berfokus pada penerapan quantity based revenue management dan price based revenue management di kereta api penumpang. Quantity based revenue management digunakan untuk menentukan alokasi kursi optimal. Metode yang digunakan adalah dynamic programming. Sedangkan untuk price based revenue management digunakan untuk menetapkan harga paling optimal untuk setiap kelas harga pada masing - masing kereta. Penetapan harga menggunakan price discrimination dengan mempertimbangkan stock clearing price dan revenue maximizing price. Hasil alokasi kursi dengan metode dynamic programming menghasilkan pendapatan yang lebih kecil dibanding pendapatan aktual untuk ketiga kereta api. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa alokasi aktual lebih baik dibandingkan model alokasi dinamis. Penerapan harga optimal yang dapat dari perbandingan antara stock clearing price dan revenue maximizing price menghasilkan rata - rata peningkatan pendapatan kereta Argo Wilis adalah sebesar Rp 37,329,625.25, Turangga adalah sebesar Rp 14,173,608.76, Lodaya Pagi untuk kelas bisnis adalah sebesar Rp 1,585,868.05. Hasil berbeda ditunjukkan oleh kereta Lodaya Pagi untuk kelas eksekutif karena pendapatannya justru menurun sebesar Rp 6,356,502.22.

Train is a branch of transportation industry in Indonesia. Seat allocation and pricing strategy are two main problem which always faced by PT KAI as the only one railway services transportation provider in Indonesia. Revenue management approach can be used to solve this problem. This approach can be applied because has a character as a perishable product. Trains that will be analyzed are Argo Wilis, Turangga and Lodaya Pagi which have high occupancy rate. Argo Wilis and Turangga are an executive class train while Lodaya Pagi consist of two different classes, executive class train and bussines class train. Each class are divided into four subclass (fare class). This research will analyze single leg route, Solobalapan to Bandung. This research will focused on application of quantity based revenue management and price based revenue management in passanger railways. Quantity based revenue management will be used to determine the optimal seat allocation. The method that will be used is dynamic programming. While price based revenue management can be used to decide the optimal price for each subclass in various kind of trains. The revenue that produced by the result of the capacity allocation using dynamic programming method is lower than the actual revenue for all kind of trains. So, we can conclude that actual model has better performance than dynamic allocation. The optimal price that has been obtained from stock clearing price and revenue maximizing price make the average revenue increase 37,329,625.25 IDR for Argo Wilis, 14,173,608.76 IDR for Turangga and 1,585,868.05 IDR for business class of Lodaya Pagi. This method produce the opposite result for executive class of Lodaya Pagi because the average revenue decreased by 6,356,502.22 IDR.

Kata Kunci : kereta api, revenue management, dynamic seat allocation, dynamic programming, stock clearing price, revenue maximizing price, price discrimination