Laporkan Masalah

Persepsi penghuni terhadap hasil program peremajaan permukiman kumuh :: Kasus Kelurahan 11 Ulu dan Kelurahan 12 Ulu Kota Palembang

KELANA, Agus, Ir. Sudaryono, M.Eng.,PhD

2002 | Tesis | Magister Perencanaan Kota dan Daerah

Peremajaan permukiman kumuh di perkotaan disamping merupakan salah satu upaya pemberdayaan dalam penyediaan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah, juga sebagai upaya untuk mengangkat kawasan perumahan di pusat kota keluar dari titik mati karena terjadinya proses involusi yang memberikan dampak menurunnya kualitas fisik lingkungan. Salah satu tipe peremajaan permukiman kumuh yakni tanah milik masyarakat dengan nilai ekonomi lokasi rendah, telah dilaksanakan di Kota Palembang. Peremajaan yang menggunakan pendekatan partisipatif tersebut telah dianggap berhasil dalam bidang community development, kemudian direplikasikan secara fisik ke kawasan lain yang mempunyai karakteristik relatif sama. Kebijaksanaan Pemda mereplikasi program tersebut karena sebagian besar kawasan (yakni 22 % dari seluruh luas wilayah kota) di Kota Palembang merupakan kawasan kumuh yang perlu penanganan agar tidak terjadi masalah yang lebih kompleks. Penelitian ini berjudul Persepsi Penghuni terhadap Hasil Peremajaan Permukiman Kumuh, Kasus Kelurahan 11 Ulu dan Kelurahan 12 Ulu Kota Palembang. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui penerimaan penghuni terhadap hasil peremajaan permukiman kumuh dan tingkat kekerasanannya dalam menghuni atau menempati rumah/lingkungannya, balk yang menggunakan pendekatan partisipatif maupun pendekatan top down (replikasi fisik pendekatan Partisipasif). Populasi yang diteliti adalah kepala keluarga penghuni rumah hasil peremajaan permukiman kumuh pada KawaSan Kelurahan 11 Ulu dan Kawasan Kelurahan 12 Ulu, Kota Palembang. Jumlah populasi yang diteliti di Kawasan Kelurahan 11 Ulu dan Kawasan Kelurahan 12 Ulu masing-masing sebanyak 48 kepala keluarga dan 33 kepala keluarga. Metoda pengumpulan data dan informasi dilakukan melalui penyebaran kuesioner dan pengamatan langsung di lapangan, serta wawancara dengan para tokoh dan masyarakat yang terkena program. Analisis data dilakukan dengan teknik tabulasi silang, deskripsi dan eksplanasi, yang menggunakan pendekatan kuantitatif (persentase) dan kualitatif yang saling melengkapi. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa (1) penghuni cukup menerima hasil Program Peremajaan Permukiman Kumuh yang telah dilaksanakan di Kota Palembang dan merasa kerasan tinggal di rumah atau lingkungan hasil program tersebut; (2) tingkat penerimaan penghuni pada program dengan pendekatan partisipatif tidak lebih balk dibandingkan dengan penerimaan basil pada program dengan pendekatan top down (dari atas ke bawah) atau replikasi fisiknya; (3) Penerapan Program Peremajaan Permukiman Kumuh di Kota Palembang telah membawa pengaruh terhadap peningkatan penghasilan peserta program dan meningkatnya status kepemilikan rumah dan tanah; (4) Peningkatan status kepemilikan tanah dan bangunan (khusus yang terjadi di Kawasan Kelurahan 12 Ulu) menyebabkan terjadinya perpindahan kepemilikan rumah, dan rumah tersebut dijadikan sebagai aset jual beli (komoditi); (5) Program Peremajaan Permukiman Kumuh yang telah dilaksanakan di Kota Palembang tidak dapat berlanjut dan digulirkan kepada kelompok lain yang membutuhkan.

In addition to providing housing and settlements for low-income citizens, slum revitalization programs within urban areas also functioned to alleviate the city center's slum areas from its stagnancy and degradation due to involution processes that caused the degradation of its surrounding physical environment. The city of Palembang had initiated and implemented slum revitalization programs within public land of low economic value. Participative approaches within the revitalization programs lead to the successes of community development schemes, promoting the replication of such approaches within other areas having relatively similar characteristics. Local government's decision to replicate and implement slum revitalization programs in the city of Palembang was attributed to the fact that much of Palembang's area (22% of the overall city area) is characterized as slum area requiring improvement and revitalization in order to avoid further complexities. The research entitled Residents' Perceptions Towards Results of Slum Revitalization Programs within Palembang's 11 and 12 Ulu Districts aimed to provide knowledge of the residents' perceptions towards results of slum revitalization programs and knowledge of residents' perceptions regarding the suitability of the settlement areas and its surrounding environment for the residents themselves. Residents' perceptions were sought both for revitalization programs implementing the participative approach and programs implementing the top down approach. Populations sampled include families residing in revitalized settlement areas within Palembang's 11 and 12 Ulu Districts. Populations sampled within the 11 and 12 Ulu Districts include 48 and 33 family heads respectively. Data and information were obtained through questionnaires, direct field observations and interviews with community leaders and community members affected by the revitalization programs. Data analysis employed the cross tabulation method, and the quantitative and qualitative method of analysis for the description and assessment of the problems. Research results showed: (1) Residents were satisfied with the results of slum revitalization programs conducted in Palembang, and regarded the housing and its surrounding environment satisfactory; (2) Indicators failed to show residents' perceptions of the participative approach to be better than that of the top down approach or the physical replication approach; (3) Implementation of Palembang's slum revitalization programs had resulted in the increase of residents' income and the increase of land and housing ownerships; (4) Increase in land and building ownership status (especially in the area of 12 Ulu District), leading to the transfer of housing ownerships and the conversion of settlements into assets functioning as trade commodities; (5) Palembang's slum revitalization program proved to be unsustainable and incapable of being implemented to other groups in need of the program.

Kata Kunci : Permukiman Kumuh,Peremajaan,Persepsi Penghuni, Slum revitalization program,


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.