RISIKO PRODUKSI USAHATANI KUBIS SISTEM MONOKULTUR DAN TUMPANGSARI DI DESA KAPONAN KECAMATAN PAKIS KABUPATEN MAGELANG
IRNA KURNIAWATI, Prof. Dr. Ir. Masyhuri; Prof. Dr. Ir. Dwidjono Hadi Darwanto, MS.
2016 | Tesis | S2 MANAJEMEN AGRIBISNISSayuran merupakan produk pertanian yang dikonsumsi setiap saat, sehingga mempunyai nilai komersial yang cukup tinggi. Sayuran daun yang cukup popular dan banyak diusahakan para petani di daerah sentra produksi sayuran dataran tinggi adalah tanaman kubis (Brassica oleracea var. capitata). Kubis dikategorikan sebagai jenis sayuran yang memiliki risiko kegagalan produksi paling tinggi. Risiko produksi bisa disebabkan faktor penggunaan input produksi dan pengaruh kondisi lingkungan. Tujuan penelitian ini untuk (1) mengetahui besarnya biaya dan pendapatan usahatani kubis sistem monokultur dan tumpangsari, (2) mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi produksi usahatani kubis sistem monokultur dan tumpangsari, (3) menentukan besarnya risiko produksi usahatani kubis sistem monokultur dan tumpangsari. Metode dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskritif dan teknik wawancara. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive) yaitu Desa Kaponan. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik cluster sampling yaitu Kelompok Tani Gemah Ripah sebanyak 40 orang yang terdiri dari petani yang berusahatani secara monokultur sebanyak 16 orang dan petani yang berusahatani secara tumpangsari sebanyak 24 orang. Metode analisis yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda dengan model Ordinary Least Square (OLS) dan analisis koefisien variasi (CV). Hasil penelitian menunjukkan bahwa biaya usahatani kubis sistem tumpangsari lebih kecil dibandingkan dengan sistem monokultur dengan biaya masing-masing per hektar per bulan sebesar Rp 6.553.404,70 dan Rp 8.340.911,72. Besarnya pendapatan usahatani tumpangsari lebih besar dibandingkan dengan usahatani sistem monokultur dengan pendapatan masing-masing per hektar per bulan Rp 10.138.929,77 dan Rp 7.092.467,09. Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi dipengaruhi oleh jumlah bibit, tenaga kerja, dan sistem usahatani. Jumlah bibit dan sistem usahatani berpengaruh positif terhadap peningkatan produksi, sedangkan tenaga kerja berpengaruh negatif terhadap peningkatan produksi kubis. Risiko produksi usahatani kubis monokultur lebih besar dibandingkan risiko usahatani kubis tumpangsari yaitu dengan koefisien variasi sebesar 0,62 dan 0,43.
Vegetables are agricultural products consumed at any time, so that it has quite high commercial value. Leaf vegetables which are quite popular and grown by many farmers in the highland vegetable production centers are cabbage (Brassica oleracea var. capitata). Cabbage is categorized as kind of vegetable that has the highest risk of production failures. Risk of production could be due to some factors such as the use of production inputs and the influence of environmental conditions. This study aims to (1) determine the amount of costs and income cabbage farming with monoculture and intercropping systems, (2) determine the factors that influence the production of cabbage farming with monoculture and intercropping systems, (3) determine the production risk of cabbage farming with monoculture and intercropping systems. The basic method used in this study was descriptive method and interview technique. The selection of research location was done intentionally (purposive). The sampling technique used in this study was cluster sampling in which Gemah Ripah Farming Group as many as 40 people consisting of 16 farmers engage in farming with monoculture system and 24 farmers engage in farming with intercropping system. The analysis method used was multiple linear regression with Ordinary Least Square (OLS) model and coefficient of variation analysis (CV). The results showed that the costs of cabbage farming intercropping system is smaller than the monocultures with respective costs per hectare per month amounted to Rp 6.553.404,70 and Rp 8.340.911,72. The amount of intercropping farm incomes greater than monoculture farming with their respective revenue per hectare per month Rp 10.138.929,77 and Rp 7.092.467,09. The results showed that the factors that affect production were the number of seeds, labor, and farming system. The number of seeds and farming systems positive effected of production, while the use labor negatively effected of cabbage production. The production risk of monoculture cabbage farming is greater than the production risk of intercropping cabbage farming that is with a coefficient of variation of 0,62 and 0,43.
Kata Kunci : Kata Kunci : kubis, monokultur, risiko produksi, tumpangsari, usahatani / Keywords: cabbage, monoculture, production risk, intercropping, farming