Perumusan Indikator dan Persepsi Masyarakat terhadap Kenyamanan Kota Yogyakarta
JAMILAH, Prof. Ir. Bakti Setiawan, M.A., Ph.D;Ir. Gunung Radjiman, M.Sc
2016 | Tesis | S2 Perencanaan Kota dan DaerahMunculnya persoalan menjadi isu di perkotaan termasuk Kota Yogyakarta antara lain permasalahan lingkungan, sosial, kependudukan, infrastruktur, lapangan kerja, minimnya kapasitas kelembagaan dan SDM yang berdampak terhadap kenyamanan hidup yang dirasakan masyarakat di dalamnya. Idealnya, semakin berkembang dan maju suatu kota maka semakin meningkat tingkat kenyamanan hidup masyarakat di kota tersebut. IAP sudah melakukan survei MLCI dan hasilnya Kota Yogyakarta menjadi kota besar ternyaman selama tiga periode berturut-turut yaitu tahun2009, 2011 dan 2014. Hasil yang diperoleh masih belum termasuk kategori bagus dan belum diketahui keterkaitannya dengan kondisi riil Kota Yogyakarta. Adanya perbedaan fokus nasional dan lokal yang dapat menghasilkan indikator yang berbeda dan perlunya melibatkan masyarakat kota dalam perumusan indiaktor menjadi latar belakang munculnya penelitian ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh indikator kenyamanan kota yang sudah mempertimbangkan karakteristik kota dan melibatkan masyarakat dalam perumusannya serta memperoleh persepsi masyarakat dari hasil penerapan indikator tersebut. Penelitian ini dilakukan di Kota Yogyakarta, Provinsi D.I Yogyakarta dengan pendekatan deduktif kuantitatif dan kualitatif melalui Focus Group Discussion (FGD) dan analisis deskriptif. Indikator yang dihasilkan dari proses FGD mengacu pada indikator kenyamanan kota dalam MLCI yang dilakukan IAP. Ada perubahan dalam persepsi yang digunakan yaitu mengacu pada aksesibilitas yang dirasakan masyarakat terhadap aspek-aspek kenyamanan kota. Daerah penelitian mencakup seluruh kecamatan di Kota Yogyakarta dengan jumlah sampel berdasarkan proporsi jumlah penduduk. Hasil dari penelitian menyatakan bahwa memang ada 31 indikator hasil FGD dengan 11 indikator yang spesifik Kota Yogyakarta dan enam indikator yang sesuai karakteristik Kota Yogyakarta. Sedangkan hasil persepsi masyarakat yang diperoleh adalah sebesar 67,87% yang berarti kategori masih belum bagus dengan skor tertinggi pada aspek lingkungan dan aspek terendah pada aspek ekonomi sedangkan berdasarkan rata-rata ada 16 indikator yang mempunyai skor di bawah rata-rata. Dibandingkan skor MLCI 2014 sebesar 67,39% memang nilainya tidak terpaut jauh tetapi ada perbedaan dalam jumlah indikator dan penekanan indikatornya.
The emergence of problems became urban issues, include in Yogyakarta City, namely environmental, society, demographic, infrastructures, employment, minimum organizational capacity and human capital which lead to the people livability. Ideally, the more developed the society is, the more livability will the society life in that city. IAP has carry out MLCI survey and resulted that Yogyakarta City became the third rack of livable city within 3 periods of 2009, 2011 and 2014. That result is not good enough and not yet known how it is related with real condition of Yogyakarta City. Difference between national and local focus can resulted in different indicators and it is need to involve the city people in formulating indicators which became this study background. This study aims to get indicators that has examine city characteristics and people involvement in the formulation and get people perceptions from the indicators application. This study is done in Yogyakarta City, Province of Yogyakarta Special Region with deductive quantitative and qualitative approach with Focus Group Discussion (FGD) dan descriptive analysis. Indicators that is gathered from FGD process based on city livability indicators in MLCI which is done by IAP. There is a change in perceptions used which based on the accessibility that is perceived by people in aspects of livable city. Study location includes all districts in Yogyakarta City with sample numbers based on people population proportions. This study resulted that there are 31 indications from FGD with 11 indicators are specific for Yogyakarta City and six indicators are in line with Yogyakarta City characteristics. Meanwhile, from people perceptions resulted 67,87% which means that the categories is not good enough with highest score in environmental aspects and lowest score in economy while in average there are 16 indicators having score below average. Compared to MLCI 2014 score amounted 67,39% the difference is not too far but there are difference in indicators numbers and emphasis.
Kata Kunci : Livable City, Indikator, Karakteristik Kota Yogyakarta/Livable City, Indicators, Yogyakarta City characteristics