Kajian lahan terlantar di Kota Yogyakarta
MIRZA, Iskandar, Ir. Bakti Setiawan, MA.,PhD
2002 | Tesis | Magister Perencanaan Kota dan DaerahSejalan dengan bertambah pesatnya pembangunan dewasa ini, maka kota yang fungsinya sebagai pusat kegiatan ekonomi diharapkan dapat berkembang dan tumbuh secara teratur sesuai dengan rencana kota yang telah ditetapkan. Perkembangan dan pertumbuhan secara fisik akan termanifestasikan kepada perubahan dengan tuntutan akan kebutuhan ruang, yang dalam hal ini menyangkut ketersediaan lahannya. Untuk lebih menyelaraskan antara perkembangan kota dengan ketersediaan lahannya maka diperlukan suatu pengawasan dan pengendalian pemanfaatan lahan, melalui instrumen-instrumen pengaturan yang ditetapkan pemerintah. Namun pada kenyataannya pelaksanaan peraturan ini belum berjalan sebagaimana mestinya, sehingga mengakibatkan munculnya lahan-lahan terlantar. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk 1). mendokumentasikan letak dan kondisi lahan-lahan terlantar, 2). Mangkaji faktor-faktor penyebab adanya lahan-lahan terlantar. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan explanatory research yang analisisnya dilakukan secara deskriptif kualitatif. Teknik perekaman data dilakukan dengan perekaman data primer dan sekunder, observasi lapangan, survey dan wawancara baik terhadap pemilik lahan maupun juru bersih lahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa banyaknya lahan terlantar di Kota Yogyakarta berjumlah 148 titik dengan luas keseluruhannya ± 22,878 ha atau 228.780 meter2, dengan rinciannya pada jalan kolektor sebanyak 70 titik dengan luas lahan 117.762 meter2, jalan lokal sebanyak 74 titik dengan luas lahan 60.259 meter2, dan arteri sebanyak 44 titik dengan luas lahan seluas 50.759 meter2. Lokasi lahan — lahan terlantar tersebut 111 titik berada di pinggiran kota dengan luas lahan 125.598 meter2, 21 titik berada di tengah kota dengan luas lahan 56.700 meter2, dan 16 titik berada di pusat kota dengan luas lahan 46.482 meter2. Sedangkan kondisi lahan — lahan terlantar tersebut 106 titik tidak terawat dan 42 titik yang terawat. Adapun faktor — faktor yang mempengaruhi lahan terlantar adalah : 1). adanya konflik; 2). tidak adanya dana untuk membangun; 3). adanya penyitaan oleh Badan Penyehat Perbankan Nasional; 4). dipergunakan sebagai investasi; 5) belum dilaksanakannya Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 1998 karena belum dianggarkannya biaya pelaksanaannya mulai dari identifikasi lahan terlantar sampai dengan biaya pengambilan alihan hak atas lahan dan rancunya pelaksanaan Keputusan Presiden Nomor 33 Tahun 1984 dan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 66 Tahun 1984 yang mana isi peraturan - peraturan tersebut tentang pemberlakuan Undang — Undang Pokok Agraria Nomor 5 Tahun 1960 di Kota Yogyakarta; serta 6). Belum semuanya pasal — pasal pada Undang - Undang Pokok Agraria Nomor 5 Tahun 1960 disosialisasikan.
In line with the rapid development of urban areas, the growth and development of cities should be well planned and in accordance to the designated spatial plans of the urban areas. Physical growth and development are manifested in the change and transformation of land use pattern, leading to the increasing demand for space in the form of available land. To ensure the compatibility of present development activities with the availability of land, monitoring and control of land use activities are required through instruments designated by government institutions. However, the implementation of such instruments have been ineffective, thus leading to the presence of vacant - unused land. The research aimed to: (1) Identify and document the locations and conditions of vacant - unused, (2) Analyze and assess the causes of the presence of vacant - unused land. The research employed the qualitative method, emphasizing the explanatory research approach and the descriptive-qualitative technique of analysis. Data in the form of primary and secondary data were obtained through field observations, surveys and interviews of landowners and occupants within the research locations. Research results showed 148 locations of vacant - unused land in Yogyakarta, amounting to a total of ± 22.878 ha of vacant - unused land, with 70 of its locations (117.762 square meter) along the city's collector roads, 74 of its location (60.259 square meter) along Yogyakarta's municipal roads, and 44 of its locations (50.759 square meter) along the city's artery. 111 locations of the vacant - unused land (125.598 square meter) are found within the suburban areas, 21 locations (56.700 square meter) are found within the urban area, whereas 16 locations (46.482 square meter) can be found within the city center. 106 locations of the unused land are not well maintained, whereas 42 locations of the unused land are well kept and well maintained. Factors influencing the presence of unused land include: (1) presence of conflicts, (2) lack of funding for development, (3) land confiscation by the National Body for the Security & Development of Banking Activities (Badan Penyehatan Perbankan Nasional), (4) utilization of land as investment instruments, (5) Non implementation of Government Regulation No 36/1998 due to insufficient funding intended for the implementation of activities from its initial identification stage to that of the land ownership transfer, and due to the lack of clarity in Presidential Decree No 33/1984 and in Minister of Internal Affairs' Decree No 66/1984 concerning the implementation of Agrarian Law No 5/1960 within the city of Yogyakarta, (6) Lack of association / socialization of the articles in Agrarian Law No 5/1960. This research recommends that the government should give more attention to this phenomena by employing better land management instruments including economic instruments such as incentives + disincentives.
Kata Kunci : Lahan Terlantar,Kota Yogyakarta, Unused land