WACANA FEMINISME TERKAIT PENDIDIKAN DAN EKONOMI DI INDONESIA: (Analisis Wacana Kritis Posisi Feminisme Tri Rismaharini dalam Debat Pilkada Surabaya 2015)
TRULLY ERLYNDA, Kuskridho Ambardi, MA., Ph.D
2016 | Tesis | S2 Ilmu KomunikasiPerempuan seringkali menjadi warga negara kelas kedua di banyak negara, termasuk Indonesia. Kesetaraan perihal ekonomi dan pendidikan menjadi salah satu titik perhatian para feminis dimana perempuan Indonesia dianggap tidak mendapatkan akses pendidikan dan partisipasi ekonomi yang layak. Wacana feminisme di Indonesia juga dipengaruhi oleh kondisi sosial tersebut. Untuk merubah kondisi sosial tersebut dibutuhkan perempuan dengan kuasa di level kebijakan untuk merubah agenda kebijakan, di Indonesia, hanya ada segelintir politisi yang layak diperhitungkan, salah satunya adalah Tri Rismaharini, Menjabat sebagai walikota Surabaya di periode sebelumnya, Risma kembali memenangkan Pilkada untuk posisi yang sama di tahun 2015. Popularitas Risma serta kebijakan yang diambil menjadi salah satu faktor kemenangan Risma, ditambah dengan dukungan massa yang mayoritas adalah perempuan. Selama ini, Risma memang dikenal sebagai seorang yang memperjuangkan nasib perempuan. Ikon feminis juga disemarkan kepada dirinya. Penelitian ini kemudian ingin melihat bagaimana Risma mengkonstruksi wacana feminisme dan posisi teks terkait pendidikan dan ekonomi dalam debat Pilkada Surabaya 2015, mengingat feminisme tidak terbatas pada satu aliran saja. Menggunakan analisis wacana kritis Van Dijk yang menelaah tidak hanya teks tetapi juga konteks dan kognisi sosial, penelitian ini mendapatkan hasil posisi wacana feminisme Risma yang sosialis-marxis di bidang pendidikan dan liberal perihal ekonomi. Perbedaan ini dipengaruhi oleh wacana mengenai feminisme di Indonesia serta pengetahuan Risma sebagai seorang perempuan dalam dunia politik yang maskulin.  
Women is often considered as second class citizen in most countries, including Indonesia. Equality in terms of education and economic are main concern of feminist because Indonesia women is lacking on both issue. This condition influence the feminism discourse in Indonesia. To reform such condition, a women should be placed in charge for policy making. However, since politics is considered to be masculine world, many women opt out political career resulting in only few being politician. In Indonesia, we witness few women politician, including Tri Rismaharini. Elected as Surabaya mayor since 2010, Risma is re-elected in 2015 Surabaya mayoral candidate race. Her popularity and policies are believed to be main contributor to her victory. Not to mention her supporting mass who are mostly women. Risma herself is known to be mayor who takes concern on women empowerment. Even some people regard her as nowaday feminist icon. This research aimed to analyze how Risma construct feminism discourse in term of education and economic. Knowing the various feminism streams, this research aim to analyze Risma’s position of feminism discourse. By using Van Dijk Critical Discourse Analysis, this research analyze not limited to text but also context and social cognition regarding feminism in Indonesia. The analysis resulting in different variant of feminism contained in Risma debate's discourse. In term of education, Risma is more likely fall into socialist-marxis feminism while in economy Risma has shown indication of being a liberal feminist. This difference is best explained as a result of feminism discourse in Indonesia also Risma's knowledge as a women in masculine political world.
Kata Kunci : Debat Pilkada, Ekonomi, Feminisme, Kebijakan, Pendidikan, Politisi Perempuan