Relevansi Sistem Bernagari dalam konteks pengelolaan perkotaan saat ini :: Studi kasus kota Solok
HART, Elvian, Ir. Sudaryono, M.Eng.,PhD
2002 | Tesis | Magister Perencanaan Kota dan DaerahLatar belakang dari pelaksanaan penelitian ini adalah format barn pada struktur pemerintahan formal di. Sumatera Barat melalui_ PERDA No. 9/2000 tentang Kembali Kepada Sistem Pemerintahan Nagari di Sumatera Barat era Pelaksanaan otonomi daerah di seluruh Indonesia, guna memenuhi tuntunan dari UU No. 22/2000 dan UU No. 25/ 2000. Latar belakang ini bila dikaitkan dengan permasalahan yang timbul pada perkotaan saat ini dalam pelaksanaan otonomi daerah tersebut sangatlah lebih kompleks lagi bila saja dibandingkan dengan masalah-masalah yang ada selama ini diperkotaan, Sistem berNagari merupakan representasi dari warisan dan kekayaan peradaban manusia yang didefinisikan sebagai pola tatanan sosial kemasyarakatan di Sumatra Barat. Adat MinangKabau adalah merupakan kombinasi antara dinamika alam dengan aktivitas manusia yang mendiaminya, inernanfaatkan, mengelola dan menjaga keberlangsungannya dalam suatu proses peradaban yang panjang dan masih berlangsung sampai saat ini. la adalah suatu konsep budaya tertentu yang tertransformasikan oleh intervensi manusia dan merupakan rekaman sejarah perkembangan pemikiran dan aktivitas yang tergores pada permukaan bumi. Bagaimana dan seperti apa persepsi masyarakat perkotaan saat ini mengenai sistem berNagari serta relevansinya bila dihubungkan dengan fenomena perkotaan saat ini, adalah agenda utama dari tujuan penelitian ini, apakah masih relevan? Untuk dapat mengarahkan penelitian kepada hasil hasil penelitian yang dihadapkan terlebih dahulu yang dilakukan dalam penelitian ini melalui suatu metode penelitian dengan terlebih dahulu merumuskan secara deduktif relevansi antara sistem berNagari dengan sistem pengelolaan perkotaan saat ini setelah itu bare diidentifikasi variabel-variabel penelitian dengan mendefinisikan variabel penelitian pada persepsi terhadap sistem berNagari dan persepsi terhadap perkotaan saat ini serta mengkategorikannya ke dalarn objek penelitian berupa atribut atribut dari masing masing sistem tersebut, yang terdiri dari pola partisipatif, pola kelembagaan dan otonomi, pola keruangan, pola kepemilikan ulayat Nagari, serta pola pengelolaan Nagari. Melalui alat penelitian yang berupa angket di berikan pada responden penelitian yang terdiri dari berbagai kalangan dalam masyarakat pada wilayah penelitian di kota Solok. Responden ditentukan sebanyak 80 orang yang kemudian temyata valid ada sebanyak 59 responden dari 63 responden yang mengembalikan angket penelitian. Kemudian data data yang telah terkumpul dianalisis untuk menentukan seberapa besar tingkat prosentase variabel keseluruhan melalui penjabaran score yang diperoleh. Dengan demikian tingkat persepsi atau gejala yang ada dapat di ketahui. Hasil-hasil prosentase yang diolah secara induktif tersebut diatas bersamaan dengan hasil hasil yang diperoleh secara deduktif selanjutnya di jadikan tema-tema pembahasan guna mendapatkan suatu kesimpulan mengenai relevansi sistem berNagari dalam konteks pengelolaan perkotaan scat ini di kota Solok, untuk dapat memberikan rekomendasi kepada setiap elemen yang berkepentingan dikota Solok sebagai wilayah studi penelitian agar menjadi jelas apa fenomena perkotaan Solok yang sangat menonjol saat ini dan sistem apa yang cocok untuk dihadapkan pada fenomena tersebut. Mengedepankan sistem berNagari pada era otonomi daerah saat ini adalah dalam rangka menghadapi berbagai tantangan positif dan negatif dari pengaruh globalisasi dan sebagai model yang menjadi landasan bagi pengelolaan pembangunan perkotaan saat ini yang bertumpu pada budaya partisipasi, otonomi, dan keruangan yang spesifik sehingga diperoleh pengelolaan perkotaan yang Desentralitas, kemitraan, pemanfaatan sumberdaya dan perencanaan kota yang berorientasi kepada incame oriented serta memiliki jati diri. berkembang tanpa meninggalkan budaya tersebut serta memiliki jati diri yang mantap dalam satu kesatuan kerangka wilayah Sumatera Barat.
The background of this study is the new format of the formal structure of administration in West Sumatera stated in PERDA (Regional Decree) No.9/2000 about "Returning to The Nagari System of Administration in West Sumatera in the Era of Regional Autonomy" to satisfy the requirements of Law No. 22/2000 and Law No. 25/2000. This background is still more complex than the problems of city administration currently arising due to regional autonomy. The Nagari system is a legacy system, defined as a social configuration pattern in West Sumatra. The MinangKabau tradition is a combination of the dynamics of nature and the activities of humans that live in, utilize, manage, and preserve it, all in a long and still progressing cultural process. This tradition is a cultural concept being transformed by human intervention and is a historical account of the development of human thought and of human activities that scar the earth. The main agendas of this study are the general public perception of the Nagari system and its relevance to the urban phenomenon. The method used in this study can be described as follows: first, the relevance of the Nagari system to the current system of city administration is deductively formulated, then the study variables are identified by defining variables on public perception of the Nagari System and public perception of the current style city administration. The variables are then categorized into study objects in the form of attributes of those systems, consisting of participation patterns, autonomy and bureaucracy patterns, spatial patterns, the pattern of ulayat Nagari ownership, and Nagari management patterns. Questionnaires, the main data collection tool, were distributed to respondents from all standings of society in Solok. 80 people accept the questionnaires, but of the 63 who returned the questionnaires, only 59 were credible. The collected data were then analyzed to determine the percentages of all the variables with a set method of scoring. The public perceptions and symptoms are recognized as thus. The inductive results in the above paragraph were then combined with the deductive reasoning previously mentioned to reach a conclusion on the relevance of the Nagari system in the context of city management in Solok, in order to be able to give recommendations to each associated element in Solok about surfacing phenomenons and the right system to tackle them. The Nagari system is being pushed to prominence to face various challenges and issues due to globalization and to be a model for city administration and management established upon the culture of participation, autonomy and specific spatialism, in order to reach the ideal of a city that is decentralized, built on the basis of cooperation and partnership, efficient in its use of resources, income oriented in planning, and that projects a strong image of itself in the structure of West Sumatera.
Kata Kunci : Perkotaan, Pengelolaan, Sistem Bernagari, Solok