Laporkan Masalah

Peran Modal Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat dalam Pengelolaan DAS Mikro di Sub DAS Keduang.

DEWI RETNA INDRAWATI, Prof. Dr. San Afri Awang, MSc.;Dr. Lies Rahayu W Faida, MP;Dr. Ahmad Maryudi, S.Hut., M.For.Sc.

2016 | Disertasi | S3 Ilmu Kehutanan

Kerusakan sumber daya alam termasuk hutan yang terus meningkat berakibat juga pada kerusakan DAS. Upaya rehabilitasi DAS belum mampu mengimbangi laju kerusakan DAS. Dalam konteks pengelolaan DAS, faktor penting yang perlu dipertimbangkan adalah keputusan dan tindakan yang sifatnya partisipatif. Oleh karena itu, modal sosial dan pemberdayaan masyarakat merupakan faktor penting dalam pengelolaan DAS. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengevaluasi serta mendeskripsikan implementasi pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan DAS mikro; 2) mengidentifikasi modal sosial masyarakat dan perannya dalam pemberdayaan masyarakat dan pengelolaan DAS mikro; dan 3) merumuskan strategi pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan DAS mikro. Penelitian dilakukan di tiga DAS mikro yang berada di wilayah Sub DAS Keduang yang sebagian besar berada dalam wilayah Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Penelitian menggunakan metode survey. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, kuesioner, wawancara, Focus Group Discussion (FGD) dan penelusuran dokumen. Sampel responden diambil secara acak dan proporsional dari masyarakat yang tergabung dalam kelompok tani di lokasi penelitian. Analisis untuk evaluasi pemberdayaan masyarakat menggunakan Model Fujikake, pengukuran modal sosial menggunakan instrumen SOCAT (Social Capital Assessment Tool), dan penyusunan strategi pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan DAS mikro menggunakan analisis prospektif. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa implementasi pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan DAS belum sesuai dengan konsep pemberdayaan masyarakat dan belum berhasil, tingkat keberdayaan masyarakat pada ketiga DAS mikro rendah, dan DAS mikro dalam kondisi tidak sehat. Namun kesejahteraan masyarakat sudah relatif bagus, karena dukungan dari sektor di luar pertanian. Hasil identifikasi modal sosial menunjukkan bahwa modal sosial masyarakat pada ketiga DAS mikro tidak terlalu kuat. Untuk itu, strategi yang diambil sebagai berikut: 1) meningkatkan kapasitas penyuluh dengan meningkatkan kualitas pelatihan dan pembinaan bagi penyuluh, 2) memperbaiki kebijakan pemberian bantuan dengan membangun sistem pemberian bantuan yang tepat, 3) memperkuat modal sosial mengikat, tradisi dan kepercayaan dalam masyarakat dengan mempertahankan tradisi gotong royong, kejujuran dan solidaritas dalam masyarakat, 4) meningkatkan kapasitas masyarakat dan dinamika kelompok dengan meningkatkan frekuensi serta kualitas penyuluhan dan pelatihan, serta menyediakan sarana prasarana penyuluhan yang memadai, 5) memperkuat modal sosial ke luar (bridging dan linking) dan memperbaiki peluang pasar dengan memfasilitasi pembangunan jaringan antara masyarakat dengan para pihak antara lain instansi terkait, perguruan tinggi, dan lembaga penelitian dan mitra usaha.

The rapid degradation of natural resources, including forest degradation results in watershed degradation. Watershed rehabilitation efforts have not been able to offset watershed degradation. In the context of watershed management, the important factors to be considered are participatory decision and action. Therefore, social capital and community empowerment are the important factors in watershed management, especially in micro watershed. This research aims to 1) evaluate and describe the implementation of community empowerment in micro watershed management; 2) indentify social capital and its role in community empowerment and in micro watershed management; and 3) formulate strategy for community empowerment in micro watershed management. This research was carried out in three micro watersheds in Keduang Sub Watershed that mostly located in Wonogiri Regency, Central Java Province. This study used survey method. Data collection was done by observation, questionnaire, interview, Focus Group Discussion (FGD) and document tracking. Sample respondents were selected among people that joined in farmers groups in the research areas by proportional random sampling. Fujikake Model was used to evaluate community empowerment, SOCAT (Social Capital Assessment Tool) was used to measure social capital, and prospective analysis was used to formulate strategy of community empowerment in micro watershed management. The evaluation showed that implementation of community empowerment in the watershed management was not in accordance with community empowerment concept and had not been successful. Community empowerment level in the third micro watersheds was low, and those micro watersheds were in unhealthy condition. However, community was relatively prosperous, because of income contribution from non farming sector. The result of social capital identification showed that community social capital in the third micro watersheds was not strong enough. Therefore the strategy formulated for community empowerment as follows: 1) Enhance extension agents capacity by improving training and coaching quality for extension agents, 2) Upgrade government policy concerning aid distribution by formulating aid distribution system, 3) Strengthen bonding social capital, tradition, and trust in the community by maintaining the tradition of mutual cooperation (gotong royong), honesty and solidarity within community, 4) Enhance community capacity and group dynamics through enhancing extension and training frequency and quality, also providing adequate extension facilities and tools, 5) Strengthen bridging and linking social capital also improve market opportunities through facilitating network development between community and stakeholders for examples relevant institutions, universities, research institutions, and business partners

Kata Kunci : Pengelolaan DAS, modal sosial, pemberdayaan masyarakat