Efek Pemberian Kombinasi Dihidroartemisinin-Piperakuin dan Minyak Allium sativum terhadap Histopatologi Cytoadherence Limpa Mencit Swiss yang diinfeksi Plasmodium berghei ANKA
BENNY YOHANIS GAE, Dra. Tasmini, M.Kes;Dr.dr. Eti Nurwening S, M.Kes, M.Med.Ed
2016 | Skripsi | S1 PENDIDIKAN DOKTERLatar belakang: Malaria berat masih menjadi masalah di Indonesia terkait dengan tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Penyebab terjadinya malaria berat adalah terjadinya cytoadherence pada pembuluh darah. Limpa menjadi organ yang berperan penting baik sebagai sistem imun dan proses clearence untuk mendegradasi eritrosit yang terinfeksi atau rusak. Aadanya cytoadherence pada limpa akan berisiko terjadinya sphlenomegaly dan ruptur limpa. Obat-obat adjuvant yang dikembangkan saat ini masih memiliki efek samping yang besar. Allium sativum diketahui memiliki sifat antiplasmodium dan antiinflamasi, dan belum pernah dilaporkan adanya efek samping yang bermakna. Studi terkait kombinasi DHP (sebagai obat standar) dan Allium sativum sebagai adjuvant belum pernah dilakukan. Tujuan: untuk mengetahui efek pemberian kombinasi DHP dan minyak Allium sativum terhadap histopatologi cytoadherence pada limpa mencit Swiss yang diinfeksi P. berghei ANKA. Metode: dua puluh lima mencit dibagi menjadi 5 kelompok dengan tiap kelompok terdiri atas 5 mencit (KI - KV). Darah dari mencit donor yang mengandung 107 parasit diinokulasikan ke mencit sebanyak 0,2 mL intraperitoneal. Selanjutnya tiap kelompok diberi intervensi sesuai ketentuan. Parasitemia diperiksa pada apusan darah tipis pada hari ke-2, ke-4, dan ke-6 setelah diinfeksi. Pada hari ke-8 mencit dikorbankan dengan inhalasi eter, organ limpa diambil. Selanjutnya dibuatpreparat histopatologi dengan pewarnaan HE. Penentuan derajat histopatologi dilakukan berdasarkan sistem skor. Variabel histopatologi yang diamati meliputi cytoadherence, infiltrasi sel radang, dan fibrosis. Analisis statistik dilakukan dengan uji Non Parametrik Kruskal-Wallis dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney. Hasil: terdapat perbedaan cytoadherence yang signifikan antara kelompok K IV dan K V yang mendapat terapi kombinasi DHP dan minyak Allium sativum dibandingkan dengan terapi tunggal DHP (berturut-turut dengan dosis minyak Allium sativum 909 mg/kgBB (p=0,018) dan dosis 2727 mg/kgBB (p=0,005)). Hasil ini sinergis dengan derajat parasitemia dan gambaran infiltrasi sel radang serta fibrosis. Kelompok K III dengan dosis kombinasi Allium sativum 303 mg/kgBB juga menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingkan terapi tunggal, namun perbedaan ini secara statistik tidak bermakna (p>0,05). Kesimpulan: pemberian kombinasi DHP dan minyak Allium sativum dapat mengurangi derajat cytoadherence pada limpa mencit Swiss yang diinfeksi P. berghei ANKA.
Introduction: severe malaria is still a problem in Indonesia related to morbidity and mortality. The cause of severe malaria is cytoadherence formation in blood vessels. Spleen plays important role both as the immune system and clearence process to degrade any infected or damaged erythrocytes. However, the cytoadherence on the spleen will increase the risk of sphlenomegaly and ruptured spleen. Adjuvant drugs being developed today still have major side effects. Allium sativum is known to have antiinflammatory and antiplasmodium properties and had never reported any significant side effects. Studies related to the combination of DHP (as standard drug) and Allium sativum as an adjuvant has not been conducted. Objectives: to know the effect of the combination of DHP and Allium sativum oil administration to cytoadherence histopathology on spleen in Swiss mice infected with P. berghei ANKA. Methods: There are five groups with each group consist of 5 mice. Blood containing 107 parasites inoculated into mice by 0.2 ml IP. Furthermore, each group was given the intervention accordingly. Parasitaemia examined on the 2nd, 4th, and 6th day after infection with thin blood smear. On day 8 mice were killed by ethen inhalation, the spleen is carried out. Then continued with made histopathology preparations with HE staining. Determination of grading of histopathology is based on a scoring system. Histopathological variables observed are cytoadherence, inflammatory cell infiltration, and fibrosis. The analysis was performed with non parametric test of Kruskal-Wallis followed by Mann-Whitney test. Result: there were difference of cytoadherence with significant result between groups K IV and K V that received combination therapy of DHP and Allium sativum oil compared with single therapy of DHP (successive doses of Allium sativum oil are 909 mg/kgBW (p=0.018) and 2727 mg/kgBW (p=0.005)). This result is synergistic with the degree of parasitaemia and decrease of inflammatory cell infiltration and fibrosis. Group K III with combination of Allium sativum oil at dose 303 mg/kgBW also showed better results than single therapy, but this difference was not statistically significant (p> 0.05). Conclusion: the administration of combination of DHP and Allium sativum oil can decrease grading of cytoadherence on spleen in mice Swiss infected with P. berghei ANKA.
Kata Kunci : Cytoadherence, Dihidroartemisinin- Piperakuin, Allium sativum, Malaria Berat, Sitokin Proinflamasi, Histopatologi Limpa