KEBERTAHANAN PERMUKIMAN NELAYAN TERPENCIL DI DUSUN WAEL KABUPATEN SERAM BAGIAN BARAT
ADNAN A. A. BOTANRI, Prof. Ir. Sudaryono, M.Eng., Ph.D. ; Iwan Suharyanto, S.T., M.Sc.
2016 | Tesis | S2 Perencanaan Kota dan DaerahDusun Wael merupakan salah satu dusun nelayan yang ada di Kabupaten Seram Bagian Barat, Provinsi Maluku, yang termasuk dalam kategori terpencil. Masyarakat yang bermukim di Dusun Wael merupakan masyarakat suku Buton yang berpindah dari daerahnya di Buton Sulawesi Tenggara ke Pulau Seram, kemudian menetap di Dusun Wael sejak tahun 1967. Dengan segala keterbatasan yang ada, masyarakat masih memilih untuk bertahan tinggal di sana daripada berpindah mencari penghidupan lain. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana awal mula terbentuknya permukiman nelayan dan mengidentifikasi faktor-faktor apa yang memengaruhi kebertahanan permukiman nelayan di Dusun Wael. Penelitian ini menggunakan metode induktif-kualitatif dengan pendekatan fenomenologi yang berfokus pada hubungan masyarakat, ruang dan kegiatan yang ada di Dusun Wael. Teori kebertahanan permukiman nelayan terpencil di Dusun Wael terbentuk dari 36 unit informasi yang menjadi dasar dalam penyusunan 11 tema, yang pada tahap berikutnya melahirkan 3 konsep. Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa faktor-faktor yang memengaruhi kebertahanan yakni (1) nilai-nilai kekerabatan, (2) kebun dan laut sebagai ruang penghidupan dan (3) prasarana dan sarana dasar sebagai basis kebertahanan sosial, budaya dan ekonomi. Faktor utama kebertahanan masyarakat ialah kekerabatan yang begitu akrab antar masyarakat dan karena sebagian besar warga Dusun Wael dari etnik yang sama yakni suku Buton. Saran dari penelitian ini adalah agar masyarakat tetap menjaga budaya dan kekerabatan yang dimiliki, salah satunya dengan mendokumentasikan dalam sebuah buku tentang Dusun Wael.
Wael village is one of the fishing villages located in the district of West Seram, Maluku, which is categorized as a isolated village. The people inhabiting this village are Buton tribe moving from their own territory, Buton located in Southeast Sulawesi, to Seram island and having inhabitted Wael village since 1967. With all the existing limitations, they still choose to keep staying in this isolated village rather than migrating to other settlements. This research is aimed to reveal how the fishing settlements was formed for the first time and to identify the factors that affect the resilience of a fishing settlements in Wael village. This research used an inductive-qualitative method with a phenomenology approach which was focused on public relations, space, and activities found in Wael village. The theory of the resilience of the isolated fishing settlements in Wael consists of 36 units of information that become the basis in preparing 11 themes which, at a later stage, bear three concepts. The results of this research show that the factors that affect the resilience are (1) kinship values, (2) the gardens and the ocean as a living space, and (3) the infrastructure and basic facilities as a base for social, cultural and economic resilience. The main factor of the social resilience is the existence of a strong relationship among people and their origin, Buton tribe. From this research, the researcher suggests that the people of Buton village should keep their culture and kinship, one of which is by documenting the village of Wael into a book.
Kata Kunci : Kebertahanan, permukiman nelayan, fenomenologi