PENYAKIT KELAMIN DI KALANGAN KORPS MILITER HINDIA BELANDA 1860an Sampai 1920an
LUCIA ARTER LINTANG GRITANTIN, Prof. Dr. Bambang Purwanto, M.A.
2016 | Tesis | S2 Ilmu SejarahKehidupan sosial para anggota militer kolonial pada abad ke 19, diwarnai dengan berbagai keragaman. Keragaman tersebut tercipta karena ada berbagai macam latar belakang dari anggota militer yang berbeda-beda. Para anggota militer kolonial abad ke 19 berasal dari berbagai macam budaya dan asal. Ada yang berasal dari Afrika, Eropa dan pribumi. Namun keberagaman ini justru digunakan pemerintah kolonial sebagai pembeda antara satu ras dengan ras yang lain. Tindakan diskriminatif sering diterima oleh anggota militer pribumi. Salah satu bentuk diskriminasi tersebut terkait masalah gaji dan kesejahteraan. Wabah penyakit yang menyerang anggota militer pada abad 19 hingga awal abad 20, adalah salah satu efek dari dunia prostitusi yang semakin marak terjadi. Banyaknya para anggota militer yang menderita penyakit kelamin membuat pemerintah perlu melakukan tindakan. Pemerintah melakukan tindakan dengan mengeluarkan banyak kebijakan tentang pemberantasan penyakit kelamin, pemberantasan prostitus dan penutupan rumah bordil. Namun efek dari banyaknya kebijakan pemerintah tersebut, banyak sekali pengeluaran yang dilakukan pemerintah. Selain itu konsekuensi efek juga berlaku. Terlebih bagi para wanita PSK yang dianggap sebagai sumber penyebaran penyakit kelamin. Selain itu efek dalam dunia kesehatan militer sendiri adalah banyaknya pengangkatan dokter-dokter militer di daerah, serta semakin berkembangnya dunia kesehatan militer. kata kunci : Militer, Prostitusi, Penyakit Kelamin.
The social life of colonial military cops in 19th century is multicolored by diverse events. This diversity happened because there are many kinds of background from different military corps. The military corps on 19th century came from various culture and origin. They came from Africa, Europe, and indigenous people. Unfortunately, this diversity is used by colonial government as factor to differentiate based on races. Discriminative actions were suffered often by the indigenous military corps. One of its discriminative actions is about incentive and welfare. The diseases epidemic that attacked military corps on 19th century until the beginning of 20th century, is one of the effects from raising prostitution world. As there are many military corps suffered for sexual diseases makes government needs to act. Government's actions are by give many policies about abolishment of sexual diseases, abolishment of prostitution and close their central house. But, the effect from these many policies, government should pay more as well. Besides, the effect consequence is exists. Especially for those female sexual workers (PSK) who are accused as the source of sexual diseases contamination. Also, the effect from military health itself is that many signed military doctors in regions, and the military health becomes more developed. Keywords: Military, Prostitution, Sexual Diseases.
Kata Kunci : Militer, Prostitusi, Penyakit Kelamin