ADAT, KEDELAI, DAN PELESTARIAN HUTAN: Perubahan Lahan dan Produksi Lokalitas pada Orang Wana, Sulawesi Tengah
ARYO YUDANTO, Dr. Laksmi A. Savitri
2016 | Tesis | S2 ILMU ANTROPOLOGITesis ini mencoba mendiskusikan tentang perubahan produksi pertanian pada orang Wana yang hidup di dataran tinggi bagian timur Sulawesi Tengah. Seolah berlomba dengan penetapan batas-batas hutan oleh Negara, orang Wana di Desa Ue Matopa, Kabupaten Tojo Una una mulai meninggalkan produksi pertanian subsisten dengan menanam padi melalui jalan perladangan berpindah. Seiring pembukaan akses jalan Dataran Bulan-Ue Matopa, mereka mulai membuka lahan-lahan yang pernah diolah sebagai kebun oleh leluhur mereka untuk ditanami tanaman komoditas yaitu kedelai sebagai bentuk keterhubungan mereka dengan dunia quotes modern quotes. Pada sisi lain, orang Wana dengan pendampingan dari Yayasan Merah Putih mulai menetapkan batas-batas wilayah mereka sekaligus melakukan klasifikasi hutan yang serupa dengan pembagian fungsi hutan oleh Negara. Melalui jalan tersebut, orang wana menegaskan bahwa mereka memiliki cara quotes tradisional quotes dalam menjaga hutan yang telah diwariskan oleh leluhur sebelumnya tanpa harus mengamini batas-batas kawasan hutan yang ditetapkan oleh Negara. Dimana dalam kehidupan orang Wana, batas-batas kawasan hutan menjadi kini pengalaman nyata dengan kehadiran papan-papan larangan menebang pohon pada kawasan hutan di sepanjang jalan Dataran Bulan-Ue Matopa. Seiring dengan interaksi yang lebih kompleks, baik dengan NGO maupun kehadiran Negara melalui berbagai program pembangunan dan kehutanan, orang Wana terhubung dengan narasi global pelestarian hutan (dan perubahan iklim beserta program REDD+ di dalamnya). Keterhubungan pararel proses perubahan yang terjadi pada orang Wana dengan beragam kekuatan luar yang berbeda, membawa saya pada pertanyaan mengapa perubahan yang terjadi pada orang Wana beresonansi dengan dunia yang lebih luas? Dengan jalan/cara seperti apa orang Wana merespons perubahan yang terjadi dalam ruang hidup mereka? Sebagai bagian untuk memahami proses perubahan yang terjadi pada orang Wana, saya mengelaborasi gagasan tentang produksi lokalitas (Appadurai 1996). Tanpa mengesampingkan resiko dan dampak yang dihadapi oleh orang Wana, dalam hal ini saya mencoba melacak imajinasi orang Wana tentang kemajuan. Selanjutnya, saya beranjak dari bentuk-bentuk budaya material orang Wana, namun bukan dilihat sebagai sebuah hasil akhir, akan tetapi untuk melihat konteks yang membentuk dan dibentuk. Saya dalam hal ini berpendapat bahwa produksi lokalitas oleh orang wana merupakan jalan untuk menjadi sejajar dengan orang-orang yang selama ini mengganggap mereka terbelakang. Kata kunci: Orang Wana, adat, kedelai, perubahan agraria, produksi lokalitas, pelestarian hutan, REDD+.
In this thesis, I would like to discuss about the emerges new crop in Wana, people that live in eastern Central Sulawesi highland. Nowadays, Wana people in Desa Ue Matopa, Tojo Una una start to leave subsistence farming with dry-paddy through swidden cultivation field and switch into cultivated soybean as commodity to linked with the quotes modern quotes world. In line with the opening of road access, they begin to cleaned hectares of land that appealing with their ancestral gardening activity. In the other side, Wana quotes s people with support from Yayasan Merah Putih, local NGO in Central Sulawesi, define the boundaries of Wana area concurrently with the traditional classification of land. By that way, Wana people state that they have their traditional rules from their ancestor to preserve the forest, without complying with the forest boundaries from the government. Where the boundaries of State forest area now become an actual experience for Wana quotes s life, with the existence of prohibition boards along the road side. Over the complex interaction either with NGOs or the various development and forestry programs, Wana people linked with global narrative of forest preservation (conservation, climate change with REDD+ in it). The parallel conjunction of altering process that take place in Wana people attach with a vary different power and policy. It takes me to the question, why the alteration in Wana resonate with the wider world? In which way the Wana respond the changes that occur in their living space? As part of the understanding process, here I elaborate the idea of production of locality (Appadurai 1996). Without neglecting the risk and impact that face by Wana, in this case I try to examine the work of imagination in Wana quotes s. For the last, I stance from the Wana quotes s material culture form, not as the ends of cultural product, but to grasp the context that creates and created. By this mean, my argument is, the production of locality by Wana quotes s is the way to proceed their position as human being and there are no differences with the people that see them as backward. Keyword: Wana people, adat, soybean, agrarian change, forest preservation, producing locality, REDD+.
Kata Kunci : Wana people, adat, soybean, agrarian change, forest preservation, producing locality, REDD+.