STANDARISASI DAN MODERNISASI TENAGA FARMASI DI JAWA TAHUN 1882-1942
FATHIA LESTARI, Dr. Abdul Wahid, M.Phil.
2016 | Tesis | S2 Ilmu SejarahTesis ini termasuk sejarah kesehatan tepatnya sejarah farmasi yang membahas perkembangan tenaga farmasi sebagai salah bentuk praktik standarisasi dan modernisasi dalam bidang kefarmasian di Jawa. Perkembangan tenaga farmasi diawali dengan dikeluarkannya Staatsblad no. 97 tahun 1882 mengenai kebijakan pelayanan kesehatan Hindia Belanda dalam bagian IV mengenai arstsenijbereidkunst (ilmu peracik obat). Kebijakan tersebut merupakan bentuk profesionalisasi tenaga farmasi oleh pemerintah. Dengan munculnya kebijakan tersebut, Pemerintah menyiapkan program pendidikan untuk menunjang kebijakan yang telah dibuat. Pendidikan yang dibuat oleh pemerintah adalah Pelatihan Apothekers-Bediendie, Sekolah Asisten Apoteker dan Ujian Asisten Apoteker. Untuk menjelaskan perkembangan tersebut, studi ini menggunakan metode sejarah yang ditunjang oleh berbagai sumber primer dan sekunder, meliputi majalah farmasi, buku farmasi, laporan resmi pemerintah dan surat kabar. Berdasarkan sumber yang terkumpul dapat disimpulkan bahwa yang terbentuk dari proses panjang standarisasi dan modernisasi dapat ditunjukkan oleh lima aspek, diantaranya adalah (1) profesionalisasi tenaga farmasi dengan kekuatan politik yakni, kebijakan pemerintah (2) penyelenggaran pendidikan masih menempatkan bumiputera sebagai lapisan kedua dan memunculkan subordinasi (3) penyelenggaran sekolah asisten apoteker memunculkan tenaga kerja baru (4) munculnya invasi farmasi dengan banyaknya apotek swasta daripada pembentukan apotek pemerintah (5) pelayanan farmasi di Jawa bergantung pada apoteker swasta Eropa dan Cina.
This thesis is a health history that addresses the history of pharmacy, specifically the pharmaceutical personnel development as one form of standardization and modernization in the field of pharmaceutical practice in Java. The development of pharmacy personnel began with the issuance of Staatsblad 1882 no. 97, regarding health care policy Indies in part IV of the artsenijbereidkunst (the science of making medicine). The policy is part of professionalization of pharmacy personnel by the government. Through the policy, the government set up a program to support education policies that had been created. The government education program includes the Apothekers-bediende Training, Educational Assistant Pharmacist and Pharmacist Assistant Exam. To explain these developments, this study uses historical method that is supported by a wide range of primary and secondary sources, including pharmaceutical magazines, pharmaceutical books, official government report and newspapars. Based on the resources collected it can be concluded that by long processes standardization and modernization can be seen in five aspects, which are : (1) the professionalization of pharmacy staff with a political force that is, government policies (2) the delivery of education still puts bumiputera as a second layer and brings subordination (3) Creating new workers by providing schools for pharmacy�s assistant (4) the emergence of many private pharmasict companies rather than the formation of government body (5) pharmaceutical services relied on private pharmacists from Europe and China.
Kata Kunci : pharmacy, pharmacist, pharmaceutical history