PEMOLISIAN MASYARAKAT DAN PENYELESAIAN KONFLIK (Studi Kasus Upaya Polres Madiun Kota dan Polres Madiun Dalam Mengatasi Konflik antara Perguruan Pencak Silat Persaudaraan Setia Hati Terate dan Persaudaraan Setia Hati Winongo)
IBNU TAUFIK, Dr. Poppy Sulistyaning Winanti, MPP., M.Sc.
2016 | Tesis | S2 Ketahanan NasionalFokus pembahasan dalam penelitian ini adalah peran aktif dari kepolisian dalam melakukan pemolisian masyarakat dan pemerintah daerah dalam memelihara perdamaian telah membuktikan bahwa masyarakat bukan hanya obyek melainkan subyek dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat bersama polisi dan pemerintah. Penelitian ini berhasil mengungkap berbagai permasalahan yang menjadi penyebab perselisihan antar perguruan pencak silat yang sudah bertahun-tahun terjadi di wilayah Madiun, efektifitas program dan strategi alternatif penyelesaian konflik. Penelitian ini dilaksanakan di Kota dan Kabupaten Madiun. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Moleong (2007) menjelaskan bahwa metode kualitatif adalah metode penelitian yang bertujuan untuk menjelaskan fenomena secara mendalam melalui pengumpulan data di lapangan dan melalui keterlibatan langsung peneliti.. Penelitian kualitatif lebih menekankan pada persoalan kedalaman (kualitas) data bukan banyaknya (kuantitas) data. Jika data yang terkumpul sudah mendalam dan dapat menjelaskan fenomena yang diteliti, maka tidak penelitian ini tidak membutuhkan jumlah sampel. Kesimpulan dalam penelitian adalahah permasalahan inti antara PSHT dan PSHW adalah adanya perbedaan penafsiran dan klaim kebenaran tentang ajaran dan ideologi ke SH-an. Akar penyebabnya adalah Kurangnya pemahaman sejarah tentang ajaran ke SH-an; Adanya pihak ketiga yang memprovokasi terjadinya konflik; adanya fanatisme sempit yang terkadang salah; Adanya rasa sakit hati yang mengakibatkan aksi balas dendam; Buruknya pengendalian emosi masingmasing anggota antara kedua perguruan; Adanya kekuasaan yang cukup besar antara kedua perguruan, hal ini dapat dilihat dari jumlah murid yang dimiliki oleh masing-masing perguruan; serta adanya metode dan materi latihan yang berbeda. Hal-hal tersebut telah melahirkan faktor kebanggaan, spirit de corp, yang bercampur kecemburuan dan perasaan lebih unggul, a strong feeling of dominancy atas satu sama lain. Strategi sebagai resolusi konflik yang dapat dilakukan untuk mengembangkan efektifitas kepolisian bersama masyarakat dalam mengeliminir perselisihan sebagaimana di daerah Madiun, antara lain; Pertama, menggali ulang local wisdom dan potensi unik daerah dan secara resmi masuk dalam agenda kebijakan. Kedua, perlunya sinergi yang kuat antara pemerintah daerah dan kepolisian melalui revitalisasi program Polmas khususnya Babinkamtibmas. Tindakan pencegahan dini menjadi kekuatan utama Babinkamtibmas melalui penguatan peran sosial-politik di tingkat atas dan bawah, yaitu sebagai negosiator.
The focus of this study is the active role of the Indonesian police in conducting community policing and the local government to maintain the security. It proves that the community is not only as an object but a subject to maintain the security and public order along with the police and local government. This study reveals varies issues about conflict of the martial art group that has been occurred for year, the effectiveness of the preventing program and the alternative strategy of conflict resolution. This study was conducted in Madiun city and its sub-district. The method used in this study is qualitative method. Moleong (2007) stated that qualitative method is the research metho that aims to explain in-depth phenomenon through field and direct involvement research. The qualitative method emphasizes on the in-depth analysis (quality) and not on quantity data. If the data are already collected and it can be explain the research phenomenon, then it is not require sample size. This study concludes that the main problem of the conflict between two martial arts group, Persatuan Setia Hati Terate (PSHT) and Persatuan Setia Hati Winongo (PSHW), are the difference of truth claim about their teaching and ideology. The root of the conflict are the lack of understanding about their history and teaching; the presence of third party who provokes the conflict; their narrow fanatic and sometimes wrong; their sense of revenge that bring retaliation; the lack of emotional control of their member; their considering power between each group that can be proved with the number of their increasing member of each group, spirit de corps which mixed with jealousy and superiority and the domination of feeling between two group. The strategy as conflict resolution that can be developed to maintain the conflict are as follows; first, re-digging the local wisdom and unique potential of the area and including on policy legally; second, requiring synergy between the police and local government through community policing, especially Babinkamtibmas revitalization program. The early prevention is major force of Babinkamtibmas through strengthening the social and poltical role in the upper and lower level as negotiator.
Kata Kunci : Pemolisian, konflik, resolusi, kelompok, persilatan, Madiun