Laporkan Masalah

STRATEGI PENGELOLAAN HASIL HUTAN BUKAN KAYU UNTUK KEBUTUHAN SUBSISTEN MASYARAKAT DI TAMAN NASIONAL GUNUNG MERBABU

AYU KURNIA AISSIYAH, Dr. Ir. Lies Rahayu Wijayanti Faida., M.P. ; Dr. M. Taufik Tri Hermawan, S.Hut, M.Si.

2016 | Tesis | S2 Ilmu Kehutanan

Pemanfaatan hasil hutan bukan kayu (HHBK) oleh masyarakat sekitar pada Taman Nasional Gunung Merbabu (TNGMb) tidak sejalan dengan zonasi taman nasional. Penelitian ini bertujuan untuk; 1) Mengetahui intensitas pemanfaatan HHBK dari kawasan TNGMb, 2) Mengidentifikasi pengaruh antar faktor pada aktivitas pemanfaatan HHBK oleh masyarakat, 3) Mengidentifikasi pola akses masyarakat dalam pemanfaatan HHBK yang berasal dari kawasan TNGMb, 4) Merumuskan strategi pengelolaan HHBK yang dapat diterapkan di TNGMb. Penelitian dilakukan di wilayah TNGMb dengan mengambil lokasi sampel di Dusun Godang, Dusun Guwolelo, Dusun Batur, dan Dusun Sembungan. Tipe penelitian yang digunakan adalah metode kombinasi. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, kuesioner, wawancara, dan penelusuran dokumen. Metode kuantitatif disajikan dalam bentuk statistik diskriptif (grafik, tabel, peta, distribusi frekuensi) dan analisis jalur. Metode kualitatif menggunakan analisis akses dan analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Intensitas pemanfaatan HHBK di TNGMb khususnya pemanfaatan rumput untuk pakan ternak dan kayu bakar di lokasi sampel tergolong sedang cenderung tinggi (63 kali per hari untuk grass dan 41 kali per minggu untuk kayu bakar), 2) Faktor ekonomi menjadi faktor mediasi antara faktor budaya dan faktor pengelolaan lahan. Faktor budaya dan faktor ekonomi secara bersama-sama berpengaruh terhadap faktor pengelolaan lahan sebesar 49,2%. 3) Pola akses masyarakat dalam pemanfaatan HHBK (rumput dan kayu bakar) bersifat serempak dengan kisaran waktu yang sama dan pergerakannya kompak dari zona tradisional sampai zona inti. 4) Strategi prioritas pengelolaan yang dapat dilakukan oleh pengelola adalah inisiasi peraturan/ kesepakatan tertulis mengenai pengelolaan lacen (nama lokal untuk klaim masyarakat atas hutan milik negara); optimalisasi fungsi zona tradisional; pemberdayaan masyarakat dengan fokus kegiatan pembuatan alternatif pakan ternak, dan instalasi biogas; penyusunan peraturan mekanisme pemanfaatan HHBK; dan berkoordinasi dengan instansi pemerintah dan swasta dalam rangka sinergi program pemberdayaan masyarakat.

Non timber forest products (NTFPs) utilization by community around Gunung Merbabu National Park (GMNP) was inconsistent with national park zoning. The aims of this research were; 1) To know the intensity of NTFPs utilization derived from GMNP, 2) To identify effect between factors at NTFPs utilization by community, 3) To determine community access pattern in NTFPs utilization in GMNP, 4) To formulize NTFPs management strategy that can be implemented in GMNP. Research study was implemented in GMNP area, which sample locations were Gondang Village, Guwolelo Village, Batur Village, and Sembungan Village. Method used for the research was combined research method. Data collection was conducted by field observation, interview, questionnaires and document analysis. Quantitative method was presented in descriptive statistic (graphs, tables, maps, frequency distribution) and path analysis results. Qualitative method was conducted by access analysis and SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunity, Treats) analysis. The results showed that: 1) Intensity of NTFPs utilization in GMNP, specifically grass for fodder and fuel wood in sample location was in the middle to high trend categories (63 times per day for grass and 41 times per week for fuel wood), 2) Economic factor become intervening factor between cultural factor and land management factor. Land management structure was affected by cultural factor and economic factor in 49,2 %, 3) Community access pattern in NTFPs utilization (grass and fuel wood) is simultaneously and moving from traditional zone to core zone, 4) The priority strategies management for GMNP as manager to be implemented were initiating written regulation/agreement about lacen (locally name for claim on forest state property by community) management; optimizing the function of traditional zone; empowering the community with focus activity on fodder alternative innovation and biogas installation; arranging mechanism regulation of NTFPs utilization; also coordinating with government and private institution in order to synergize community empowerment program.

Kata Kunci : hasil hutan bukan kayu, masyarakat sekitar kawasan, strategi prioritas pengelolaan/non-timber forest product, community around national park, priority strategies management

  1. S2-2016-371787-abstract.pdf  
  2. S2-2016-371787-bibliography.pdf  
  3. S2-2016-371787-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2016-371787-title.pdf