Orangtua yang Memiliki Anak Penyandang Leukemia
RIZKY AULIA FITRIANA, Dr. Nida Ul Hasanat, M.Si., Psikolog
2016 | Skripsi | S1 PSIKOLOGIData Kementerian Kesehatan pada tahun 2013 menunjukkan prevalensi penyakit kanker untuk penduduk semua umur sebesar 1,4% atau sekitar 347.792. Data WHO menyebutkan setiap tahunnya penderita kanker di dunia bertambah 6,25 juta orang dan 4% diantaranya adalah anak-anak. Setiap tahunnya diperkirakan ada 4.100 kasus baru di Indonesia untuk kasus kanker pada anak. Kasus terbanyak untuk kanker pada anak adalah kanker darah sebanyak 25-30%. Orangtua mengalami kondisi yang menekan, menjadi stres, takut, dan sedih karena beban yang dimiliki saat mendampingi proses pengobatan anaknya. Peristiwa yang menekan yaitu ketika muncul gejala leukemia, menghadapi kesulitan-kesulitan pada masa pengobatan, dan menghadapi kesulitan-kesulitan pada masa pemulihan. Selain itu besarnya biaya yang harus di keluarkan untuk pengobatan juga menimbulkan stres, takut, dan sedih pada diri orangtua. Faktanya terdapat sejumlah orangtua yang mampu bertahan dalam mendampingi anaknya yang menyandang leukemia. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan resiliensi orangtua dengan anak menyandang leukemia. Data dikumpulkan dengan melakukan wawancara terhadap 3 orangtua dengan anak menyandang leukemia dan 6 informan tahu. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa orangtua dengan anak yang menyandang leukemia menunjukkan resiliensi. Resiliensi ditunjukkan dengan rasa syukur atas apa yang terjadi dalam hidupnya, menemukan makna hidup, dan menjadi individu yang tabah. Faktor internal yang mempengaruhi resiliensi orangtua dengan anak menyandang leukemia yaitu motivasi, optimis, dan berserah diri dan mendekatkan diri pada Tuhan. Faktor eksternal yang mempengaruhi resiliensi orangtua dengan anak menyandang leukemia yaitu dukungan sosial berupa dukungan informasi, dukungan emosi, dukungan materi. Faktor eksternal lain yang mempengaruhi resiliensi orangtua dengan anak menyandang leukemia yaitu anak yang kooperatif dalam melaksanakan pengobatan dan perkembangan positif pada anak.
Ministry of Health Data in 2013 showed the cancer prevalence on the population of all ages is 1.4% or approximately 347,792 people. WHO data said that people with cancer annually increased by 6.25 million people and 4% among them are children. Each year, there are 4,100 new cases of children with cancer in Indonesia. The most popular cancer on children is blood cancer, 25-30%. Parents are experiencing a depressing condition, creating stress, fear, and grief because of the burden they attained from accompanying the treatment process of their children. A depressing event, when the leukemia symptoms appear, facing the trial in the treatment phase, and facing the difficulties in recovery phase. Moreover, the costs that need to be paid is also huge, causing stress, fear, and grief on the parents. In fact, there are some parents who survived taking care of their children with leukemia. This study aims to explain the resiliency of parents whose children with leukemia. The data collected by interviewing 3 parents whose children with leukemia and 6 significant others. The result of this research pointed that parents whose children with leukemia showed their grateful feeling for what happens in their lives, for they have found the meaning of life, and became a resilient person. The internal factors that were affected the resilience of parents whose children with leukemia was motivation, optimistic, get closer to the Almighty God and surrender to Him. The external factors were social support such as informational support, emotional support, and material support. Another external factors that affected the resilience of parents whose children with leukemia were cooperation of the child in implementing the treatment and the childrens positive development.
Kata Kunci : Resiliensi, orangtua, anak menyandang leukemia, rasa syukur