LANDADI MANUSIA /DADI MANCA : STRUKTUR DAN AGENSI DALAM MOBILITAS SOSIAL VERTIKAL ORANG MAKEANG DI MALUKU UTARA
SAFRUDIN AMIN, S.SOS, MA, Prof.Heddy Shri Ahimsa-Putra, M.A., M.Phil. ; Dr. G.R. Lono Lastoro Simatupang, M.A.
2016 | Disertasi | S3 AntropologiPenelitian ini lahir dari keinginan untuk memahami gejala kontradiktif antara orang Makeang masa lalu yang subordinat di bawah kerajaan Ternate dan dipandang terbelakang dengan gejala masa kini dimana orang orang Makeang dipandang sebagai kaum penguasa dan terdidik, melampaui komunitas lokal lainnya. Pertanyaan pokok yang diajukan adalah mengapa mobilitas signifikan ini bisa terjadi dan bagaimana prosesnya. Untuk menjawab pertanyaan di atas, studi ini menggunakan metode etnografi, juga memanfaatkan sumber kepustakaan, tulisan sejarah, dan analisis dokumen. Karena etnografi sebagai metode utama, studi ini tidak menggunakan teori sosiobudaya secara ketat selama di lapangan, dan membiarkan data membentuk pola-pola tertentu. Proses ini bermuara pada pengajuan suatu tesis bahwa interaksi antara kapasitas agensi orang Makeang dan struktur negara adalah penyebab utama terjadinya mobilitas sosial vertikal yang mengesankan pada orang Makeang. Tesis ini kemudian didukung oleh berbagai argumentasi, data, dan analisis yang tersebar di seluruh batang tubuh karya ini. Selain sebab dari mobilitas sosial yaitu pada interaksi agensi dan struktur, studi ini juga menjawab pertanyaan ‘bagaimana proses mobilitas berlangsung’, dan apa hasilnya. Terkait proses, studi ini menunjukkan bagaimana agen-agen Makeang mengambil langkah-langkah agentif dalam memanfaatkan ruang mobilitas yang tersedia pada struktur dan pengalaman subjektif mereka selama menjalani proses tersebut. Walaupun pengalaman subjektif dalam proses mobilitas ini penting, studi ini mencakup baik pengalaman para pelaku mobilitas maupun hal-hal yang melampaui pengalaman mereka untuk bisa memahami mobilitas ini. Studi ini menemukan bahwa pendekatan fenomenologi yang bersifat emik sangat penting untuk memahami pengalaman subjektif pelaku mobilitas, tapi apa yang dijalani orang Makeang dalam banyak hal terkait dengan dinamika struktur yang lebih kompleks melampaui pengalaman subjektif mereka. Oleh karena itu, studi ini juga membuat refleksi historis dan juga mengumpulkan data-data etic yang seringkali berasal dari struktur supra-lokal melampaui pengetahuan emik para pelaku mobilitas. Berdasarkan temuan di lapangan, studi ini juga memberikan suatu tawaran metodologis berkenaan dengan penggunaan perubahan representasi budaya dalam penelitian mobilitas sosial vertikal. Perspektif ini pada prinsipnya menggunakan data pada ranah kebudayaan yaitu representasi budaya yang belum disentuh oleh pendekatan-pendekatan lain sebelumnya. Saya berargumentasi bahwa perubahan representasi budaya terhadap orang Makeang dari representasi yang menggambarkan orang Makeang sebagai kampungan dan subordinat menjadi orang Makeang sebagai kaum terdidik yang berkuasa, dari orang Makeang sebagai kaum yang didominasi menjadi kaum yang mendominasi, menunjukkan suatu gambaran mobilitas sosial vertikal baik pada ranah sosiobudaya secara umum maupun ranah relasi kuasa antar kelompok etnik secara khusus.
This study stemmed from a desire to understand the contradictory phenomena between Makeanese past which was subordinated under the kingdom of Ternate as well as being seen as backward and the present situation where they are seen as the ruler and most educated group, outpacing other local communities. The main question posed here are why this significant mobility can occur and how the process takes place. To answer the above questions, this study employs ethnography. This study also collects data from relevant literatures and conducting document analysis. Due to the use of ethnography as the main method, the study did not use sociocultural theories strictly during research process in the field, and let the data shape certain patterns. This process led to the formulation of a theoretical thesis that the upward social mobility is shaped by the interaction between Makeanese’s agency capacity and state structures. This thesis is further supported by arguments, data, and analysis which are scattered throughout the body of this work. In addition to the complex interactions between the agency and structure, the study also answers the question on how the mobility process takes place, and what are the results of the mobility. With regard to the process, this study shows how agents take agentive steps in making use of the opportunity available for mobility in the (mainly state) structure and their subjective experiences while undergoing the process. Although the subjective experience is importance in the process of mobility, this research takes steps to cover personal experiences of the subjects as well as beyond their personal experiences in order to understanding the whole picture of the mobility. It finds that emic phenomenological approach is useful to uncover the Makeanese subjective experience of mobility, but what is undergone by Makeanese in mobility process in many ways entangled with the dynamics of more complex structures beyond their individual awareness. Hence, this study also takes a reflection of history and collects etic data that are frequently originated from supra-local structure beyond the emic knowledge of the subjects. Based on the findings, this study also offers a view on methodology concerning the use of the shift in cultural representations in the research of vertical social mobility. In principle, this approach uses the data in the realm of culture, the cultural representation, that has not been made use of by previous approaches. I argue that changes in cultural representations of Makeanese from plebeian and subordinate to Makeanese as an educated ruling group, from the Makeanese as the dominated group to a dominating one, all these indicate a vertical social mobility both in the realm of sociocultural in general as well as the realm of power relations between different ethnic groups in particular.
Kata Kunci : Makeang, social mobility, agency, structure, and cultural representationMakeang, mobilitas sosial, agensi, struktur, dan representasi budaya,