Prediksi Kehadiran Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) dan Analisis Struktur Lanskap Habitatnya di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan
DEDDY RUSMAN, Dr. Sena Adi Subrata, S.Hut., M.Sc.; Dr. Wahyu Wardhana, S.Hut., M.Sc.
2016 | Tesis | S2 Ilmu KehutananTekanan dan gangguan terhadap kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) menyebabkan terjadinya penurunan kualitas dan kuantitas habitat Badak Sumatera, sehingga diperlukan upaya penyelamatan dan perlindungan terhadap habitat dan populasinya secara efektif dan efisien. Penelitian ini bertujuan untuk memprediksi kehadiran Badak Sumatera secara spasial dan mengindentifikasi faktor lingkungan yang mempengaruhi kehadiran Badak Sumatera. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode Species Distribution Modeling yaitu model Maximum Entropy (MaxEnt). Untuk analisis struktur lanskap, pengukuran metrik lanskap dilakukan pada daerah yang memiliki probabilitas tinggi ditemukannya Badak Sumatera dengan menggunakan tutupan lahan TNBBS tahun 2014 dan aplikasi Patch Analyst. Hasil MaxEnt menunjukkan kinerja model prediksi kehadiran Badak Sumatera di TNBBS memiliki nilai Area Under Curve sebesar 0.939, dimana nilai tersebut masuk dalam kategori sangat baik dalam memprediksi kehadiran Badak Sumatera. Variabel lingkungan yang berpengaruh terhadap kehadiran Badak Sumatera di TNBBS adalah curah hujan bulan Juni-Juli-Agustus, jarak dari perkebunan, kemiringan tempat, jarak dari sungai, curah hujan bulan September-Oktober-Nopember, jarak dari pemukiman, jarak dari jalan, curah hujan bulan Maret-April-Mei dan temperatur. Secara spatial bagian tengah kawasan TNBBS merupakan daerah yang sesuai bagi Badak Sumatera dengan luas daerah sebesar 25,940.80 ha atau hanya 8.28% dari kawasan TNBBS. Dalam skala lanskap, habitat Badak Sumatera memiliki indeks keanekaragaman dan keseragaman yang baik serta memiliki edge yang besar. Dalam skala kelas, Badak Sumatera lebih senang berada di hutan primer dengan keluasan rata-rata yang dapat mendukung daerah jelajahnya serta memiliki edge yang besar.
Unfavourable conditions and disruptions endured by the area of Bukit Barisan Selatan National Park (BBSNP) have caused the degradation of habitat quality and quantity of Sumatran Rhinoceros. As a consequence, conservation and protection of Sumatran Rhinoceros habitat and population should be carried out effectively and efficiently. This study aimed to predict the presence of Sumatran Rhinoceros spatially and to identify the environmental factors of the presence. It used the method of Species Distribution Modelling (SDM), specifically the Maximum Entropy (MaxEnt). To analyze the landscape structure, the measurement of landscape matrix is conducted to the area that has high probability of the Sumatran Rhinoceros presence by using TNBBS land cover in 2014 and Patch Analyst application. The result indicated the model performance in predicting the presence of Sumatran Rhinoceros in BBSNP had the value of Area Under Curve of 0.939, which was classified as very accurate in predicting the presence of Sumatran Rhinoceros. In addition, the environmental variables affecting the presence of Sumatran Rhinoceros in BBSNP were rainfall in June-July-August, distance from the plantation, slope, distance from the river, rainfall in September-October-November, distance from the settlement, distance from the road, rainfall in March-April-May, and temperature. Spatially, the core area of BBSNP was a suitable habitat for Sumatran Rhinoceros with total area was 25.940,80 ha or 8.28% of BBSNP. In landscape scale, the habitat of Sumatran Rhinoceros had high diversity and evenness index as well as higher edge. In class scale, Sumatran Rhinoceros prefer to live in the primary forest with average width and large edge to support their home range.
Kata Kunci : Badak sumatera, Habitat, Spesies Distribution Modeling, MaxEnt, Struktur Lanskap