ANALISIS STRUKTUR BIAYA LOGISTIK UNTUK PENYUSUNAN STRATEGI RANTAI PASOK USAHA BUDIDAYA PERIKANAN DARAT
HENRY PUTRA PRADANA, Dr. Ir. Adi Djoko Guritno, MSIE ; Dr. Kuncoro Harto Widodo, STP. M.Eng ; Dr. Anggoro Cahyo Sukartiko, STP. M.P
2016 | Skripsi | S1 TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIANBiaya merupakan salah satu faktor yang sangat penting pada proses usaha budidaya perikanan darat, biaya timbul karena setiap proses yang berjalan pasti memerlukan berbagai macam sarana dan prasarana penunjang. Selain itu, banyaknya tier atau tingkatan pelaku usaha dalam sistem juga mempengaruhi besarnya margin pemasaran yang didapatkan setiap tier karena masing-masing tier memiliki risiko dan aktivitas logistik yang berbeda. Daerah Istimewa Yogyakarta khususnya daerah Kabupaten Sleman merupakan salah satu penghasil produk perikanan darat terbesar di Indonesia, kendati demikian hasil dari perikanan budidaya dari daerah Sleman sendiri masih belum dapat mencukupi kebutuhan masyarakat yang ditunjukan dengan masih dibutuhkannya pasokan produk perikanan darat dari luar daerah seperti Klaten. Penelitian ini ditujukan untuk mengidentifikasi setiap pelaku usaha yang ada dalam usaha budidaya perikanan darat dalam kolam, melakukan analisis struktur biaya logistik, melakukan perhitungan profit margin, dan mengembangkan strategi untuk mewujudkan sistem rantai pasok perikanan darat yang lebih baik. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah purposive sampling dan snowball sampling melalui deep interview kepada para pelaku usaha di tingkat pembenih, penebar, pembesar dan pengepul yang ditemui di daerah Penelitian. Lokasi penelitian ditentukan dengan metode purposive sampling yang diwakili oleh Kecamatan Depok, Kalasan, Moyudan, Seyegan, Berbah, Mlati, dan Ngemplak untuk daerah Sleman dan Kecamatan Karanganom, Tulung dan Polanharjo untuk mewakili daerah Klaten. Berdasarkan penelitian yang dilakukan didapatkan bahwa rantai pasok usaha budidaya perikanan darat terdiri dari 6 tier yakni pembenih, penebar, pembesar, pengepul, pengecer dan konsumen rumah tangga. Perhitungan analisis struktur biaya logistik menunjukkan bahwa biaya aktivitas logistik dominan adalah biaya pengadaan yang memiliki rata-rata 80,53% dari total biaya keseluruhan. Profit margin yang didapatkan oleh pembenih, penebar, pembesar dan pengepul berkisar antara 0,4% – 57,9%. Strategi yang direkomendasikan untuk tier pembenih adalah intergrasi vertikal yang bersifat penguasaan pasar apabila dimungkinkan, pada tier penebar dianjurkan menerapkan integrasi vertikal yang bersifat backward dengan konsep few supplier, pada tier pembesar diusulkan melakukan push based strategy. Pada tier terakhir yaitu pengepul strategi yang di rekomendasikan adalah pull based strategy.
Cost is one of the most important factor in the aquaculture industry because each process definitely requires a wide range of facilities and infrastructure which has costs. In addition, many tiers in the system also affects the amount of the margin of sales which obtained by every tier with different risks and logistics activities. Sleman district in the Special Region of Yogyakarta is one of the largest producer for aquacultural products in Indonesia, but aquaculture products which produced in that area still not able to meet the needs of the community, it can be indicate by the region still lack of supply so the region still need supplies from outside the region such as Klaten. This research aimed to various result, such as to determine every tiers in aquaculture business and identify their logistics activity, to analyze its logistics costs structure, to calculate its profit margin, and to formulate a better strategy for each tiers in aquaculture business. The methods of this research was conducted by purposive sampling and snowball sampling through indepth interview to every tier in supply chain such as breeder, spreader, nurturer, and collectors in the supply chain of aquaculture products. The research determined by purposive sampling which represented by Depok, Kalasan, Moyudan, Seyegan, Berbah, Mlati, and Ngemplak on Sleman District and Karanganom, Tulung and Polanharjo for represent Klaten District. The results showed that the supply chain of aquaculture products consistis of 6 tiers such as breeder, spreader, nurturer, collectors, retailer, and end customer. Logistics costs structure analysis showed that the dominant cost was identified in procurement costs that contribute to 80,53% in average of the overall costs. The result of profit margin calculation which can be gathered by every tiers is about 0,4% - 57,9%. Recommended strategies for breeder is the vertical integration as long as it possible when the recommended strategy for the spreader is used backward vertical integration with few suppliers concept, in the nurturer process push based strategy was the recommended one and for the last tier, the recommended strategies for collectors are pull based strategy.
Kata Kunci : Analisis, Biaya, Budidaya Kolam, Budidaya Perikanan, Profit Margin, Rantai Nilai, Strategi, Supply Chain