Pemberdayaan TKI Purna dan Keluarganya Melalui Pembentukan Sentra Usaha (Studi tentang Implementasi Pemberdayaan Kelompok TKI Purna Tunas Jaya Desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta)
ANITA WIJAYANINGTYAS, Danang Arif Darmawan, S.Sos., M.Si.
2016 | Skripsi | S1 ILMU PEMBANGUNAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAAN (SOSIATRI)Pembentukan Sentra Usaha TKI Purna adalah program pemerintah memaksimalkan pemberdayaan TKI Purna dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya sosial untuk mengembangkan usaha ekonomi produktif. Tidak hanya mengatasi permasalahan TKI yang didominasi tenaga kerja tidak terampil sebagai pekerja rumah tangga (domestic worker) dengan 14.505 pengaduan pada masa penempatan tahun 2011-2013, tetapi juga permasalahan pasca penempatan berupa menganggur, konsumtif, kehilangan aset, dan kembali bekerja ke luar negeri. Pengembangan usaha ekonomi produktif TKI Purna diharapkan meningkatkan kesejahteraan TKI Purna dan keluarganya, serta masyarakat sekitar. Pemberdayaan merupakan pendekatan dari perspektif pembangunan berbasis masyarakat (peolple centered development) dikatakan Sulistiyani untuk mengubah knowledge, attitude dan practice (KAP). Tahapan proses pemberdayaan oleh Wrihatnolo dan Dwidjowijoto terdiri dari penyadaran, pengkapasitasan, dan pendayaan. Pengembangan kapasitas berupa kapasitas sumber daya manusia, kapasitas organisasi, dan sistem nilai. Adapun implikasi kebijakan Model Migrasi Todaro terkait upah, pendapatan, pembangunan pedesaan, dan industrialisasi. Oleh karenanya, pemberdayaan TKI Purna dan keluarganya adalah upaya mengaktualisasikan sumber daya yang tersedia untuk meningkatkan pendapatan TKI Purna dan keluarganya, sehingga tidak lagi mengambil keputusan melakukan migrasi internasional dengan berbagai resiko. Penelitian deskriptif analitik dipilih untuk memberikan gambaran secara mendalam berdasarkan fakta mengenai implementasi pemberdayaan Kelompok TKI Purna Tunas Jaya sebagai bagian dalam program pemberdayaan TKI Purna dan keluarganya melalui pembentukan sentra usaha. Metode pengumpulan data dalam penelitian kualitatif ini berupa wawancara melibatkan 18 informan, pengamatan, dan telaah dokumen terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian TKI Purna ikut merintis, mengembangkan dan mengelola Desa Wisata Nglanggeran. Keberhasilan pengembangan kepariwisataan tersebut membuka ruang kewirausahaan masyarakat, termasuk TKI Purna. Kesadaran terbukanya peluang, serta pentingnya membangun jejaring untuk mengembangkan kapasitas TKI Purna, maka dibentuk paguyuban TKI Purna dalam lingkup desa. Pembentukan paguyuban tersebut menjadi sarana mengakses berbagai program pengembangan kapasitas dalam memaksimalkan peluang usaha ekonomi produktif dari berbagai pihak, termasuk BNP2TKI melalui BP3TKI Yogyakarta.
Establishment of Bussiness Center for Ex Migrant Workers is a government program to maximize the Empowerment of Ex Migrant Workers by utilizing natural resources, human resources, and social resources to develop economically productive activities. Not only overcome the problem of workers who predominantly unskilled labor as domestic workers with 14,505 complaints in the period 2011-2013 placement, but also post-placement issues such as unemployment, consumerism, loss of assets, and return to work abroad. Development of productive economic activities are expected to improve the welfare of ex migrant workers and their families, and surrounding communities. Empowerment is an approach from the perspective of community-driven development (people centered development) that was said by Sulistiyani to change the knowledge, attitude and practice (KAP). Stages of the process of empowerment by Wrihatnolo and Dwidjowijoto consist of awareness, capacity building, and iveiglement. Capacity building related to the capacity of human resources, organizational capacity, and value systems. As for the policy implications related Todaro Migration Model of wages, income, rural development, and industrialization. Therefore, the empowerment of ex migrant worker and their families is an effort to actualize the available resources to increase revenue of ex migrant worker and their families, so they would not take the decision to migrate internationally with various risks. Descriptive analytic was selected to give an in-dept illustration based on the facts regarding the empowerment implementation of Group Ex Migrant Worker named Tunas Jaya as part of empowerment program for ex migrant workers and their families through establishment of business center. Methods of data collection in the form of qualitative research interviews with 18 informants, observation, and study related documents. The results showed that a part of ex migrant workers participated in pioneering, developing and managing Nglanggeran Tourism Village. The successful development of tourism opens entrepreneurship space for the community, including for ex migrant workers. Aware of the opportunity, and the importance of networking to give capacity building for ex migrant workers, then they formed an association for ex migrant workers within the village. The formation of the association becomes a means of accessing a wide range of capacity building programs to maximize the chances of productive economic activities of the various parties, including BNP2TKI through BP3TKI Yogyakarta.
Kata Kunci : Sentra Usaha TKI Purna, Pemberdayaan, Model Migrasi Todaro, Ex Migrant Worker Business Center, Empowerment, Todaro Migration Model