EVALUASI KESEHATAN TANAMAN UJI KETURUNAN BENTAWAS (Wrightia pubescens R.Br.) UMUR 6 TAHUN DI PETAK 17 WANAGAMA, GUNUNGKIDUL, YOGYAKARTA
INTAN KUMALASARI, Dr.Ir. Sri Rahayu , M.P.;Dr. Sapto Indrioko, S.Hut., M.P.
2016 | Skripsi | S1 KEHUTANANEvaluasi kesehatan pertanaman uji keturunan bentawas (Wrightia pubescens R. Br.) umur 6 tahun di petak 17 Hutan Pendidikan Wanagama (HPW), Gunungkidul, Yogyakarta dilakukan berdasarkan jumlah ragam kerusakan dan luas kerusakan yang disebabkan oleh faktor biotik dan abiotik baik pada musim hujan maupun musim kemarau. Tujuan penelitian meliputi : 1. Mengevaluasi ragam dan luas kerusakan yang disebabkan oleh faktor biotik dan abiotik pada musim hujan dan kemarau, 2. Mengetahui famili bentawas yang memiliki status kesehatan dan pertumbuhan paling baik pada kondisi lingkungan Hutan Pendidikan Wanagama, 3. Mengevaluasi pengaruh pengelolaan lahan oleh para penggarap terhadap luas kerusakan mekanik (abiotik) pada pertanaman uji. Penelitian menggunakan metode pengamatan langsung dengan IS=100% pada 5 blok yang mewakili dari 8 blok yang ada. Pohon induk berasal dari Pulau Bali, meliputi Badung, Buleleng, Gianyar, Jembrana, Karangasem, Klungkung, dan Tabanan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa terdapat 4 ragam kerusakan yang disebabkan oleh faktor biotik, yaitu: kerusakan batang dan daun akibat serangan serangga, kerusakan batang dan daun akibat jamur, banyak tunas air pada batang karena jamur, dan pengelupasan kulit batang karena jamur; sedangkan kerusakan yang disebabkan oleh faktor abiotik meliputi: patah akar, luka terbuka, patah batang, perubahan warna daun, kering dan rontok daun, serta tunas pucuk kering. Ragam kerusakan paling banyak dijumpai pada bagian batang dan tajuk, yaitu berupa kerusakan akibat jamur dan luka terbuka pada musim kemarau. Secara umum, tingkat kerusakan tanaman uji termasuk dalam kategori sangat rendah sampai sedang dengan kisaran 9-41%. Famili uji keturunan bentawas yang memiliki status kesehatan dan pertumbuhan paling baik pada kondisi lingkungan Hutan Pendidikan Wanagama, Gunungkidul adalah GI04 dan JE06; sedangkan pengolahan lahan oleh penggarap memiliki potensi menyebabkan kerusakan mekanik (abiotik) sebesar 37,5% pada akar, 12,5% pada batang, dan 25% pada tajuk.
Health evaluation on 6 years old progeny test of Bentawas (Wrightia pubescens) in site 17 Wanagama Educational Forest (WEF), Gunungkidul, Yogyakarta conducted base on the amount of damage types and extent caused by both biotic and abiotic factors on both dry and rainy seasons. The aims of this research are: 1) to evaluate the variety and extent of damage caused by both biotic and abiotic factors on both dry and rainy seasons, 2) to determine which Bentawas family that have the best health status and growth on Wanagama Educational Forest environtmant condition, and 3) to evaluate the effects of land management by the tenants on mechanical damage (abiotic) extent in the progeny test trees. This research used direct obsevation method with sampling intensity 100% on 5 blocks that represent the total existing 8 blocks. The mother trees originated from Bali island, including Badung, Buleleng, Gianyar, Jembrana, Karangasem, Klungkung, and Tabanan. The observation result shows that there are 4 types of damage that caused by biotic factors, which are stem and leaf damage caused by insects, stem and leaf damage caused by fungi, a lot of water sprouts caused by fungi, and stem debarking caused also by fungi; while the damage types that caused by abiotics factors are broken roots, open wounds, broken stem, leaf discoloration, dry and falling leaf, and drying tip. The most damage on the trees located on stem and crown in form of damage that caused by fungi and open wounds in dry season. Generally, the damage rate of the progeny test trees categorized as very low until moderate level with range starting from 9% to 41%. Bentawas progeny test family that have the best health status and growth on Wanagama Educational Forest environtmant condition are GI04 and JE06; while the land management that conducted by the tenants on the site have a potency to causing a mechanical damage (abiotic) by 37.5% on root, 12.5% on stem, and 25% on crown
Kata Kunci : bentawas, evaluasi, kesehatan tanaman, uji keturunan