Laporkan Masalah

DIPLOMASI SENI KONTEMPORER Studi Kasus: Biennale Jogja EQUATOR Series

YOSHUA ENDYANTO, Titik Firawati, S.I.P., M.A.

2016 | Skripsi | S1 ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL

Agenda seni Biennale adalah presentasi dari sebuah kota untuk menunjukkan bagaimana seni dan budaya mereka dapat berkembang dan memiliki nilai-nilai khusus kepada publik secara luas. Ada banyak kota di berbagai belahan dunia yang telah menyelenggarakan agenda ini, salah satunya kota Yogyakarta. Penyelenggaraan Biennale Jogja saat ini dipegang secara khusus oleh Yayasan Biennale Yogyakarta (YBY) yang memiliki visi dan misi untuk mengembangkan dinamika seni-budaya negara-negara pinggiran. Tujuan tersebut muncul akibat adanya hegemoni kesenian oleh negara pusat seni yang dikuasai oleh negara-negara barat dan menyebabkan terjadinya praktek dominasi mereka atas negara-negara pinggiran dalam berbagai aktifitas seni kontemporer global. Untuk melawan hegemoni negara-negara pusat, YBY berusaha untuk mempelopori gerakan kolektif dalam bentuk kerjasama di bidang seni-budaya dengan negara-negara pinggiran. YBY kemudian memiliki peran sentral dalam membangun jejaring lintas batas sebab sebagai aktor transnasional mereka menggunakan diplomasi jalur kedua untuk menjalankan strategi counter hegemony. Upaya-upaya untuk membangun kekuatan baru diantara negara-negara pinggiran dilakukan melalui media seni dan tertuang dalam agenda Biennale Jogja EQUATOR Series yang merupakan bentuk kerjasama diantara aktor-aktor seni lintas batas Indonesia dengan aktor-aktor lintas batas negara lain sebagai rekan kerja mereka.

Biennale is art event series are the form of the city to show how their culutre and art can evolve and also have specific values to the general public. There are many cities in the world that run this event, and Yogyakarta is one of them. Biennale Jogja is currently held by Yogyakarta Biennale Foundation (YBY), which has a vision and mission to evolve the dynamics of art and culture in the third world country. This purpose comes up because of the hegemony of art by the country that become the center of art, which controlled by western, and it caused their domination of third world country in various of global contemporary art activities. The way to fight this matter, YBY try to pioneering a collective movement by work together with the third world country in art and culture sector. YBY has a central role to built the cross-border network because as the transnational actor they use a second track diplomacy to run counter hegemony strategy. The efforts to built new strength among the third world countries is held thru arts and involved in Biennale Jogja EQUATOR Series agenda which is a form of cooperation between Indonesia actor of cross-border art with the cross-border art actor of another country as their colleagues.

Kata Kunci : Yayasan Biennale Yogyakarta, Second Track Diplomacy, Counter Hegemony, Biennale Jogja EQUATOR Series.