Laporkan Masalah

PERKEMBANGAN GEJALA PENYAKIT LAYU OLEH Ceratocystis sp. PADA 8 PROVENANS MANGIUM UMUR 6 BULAN DI PETAK 17 WANAGAMA, GUNUNGKIDUL

EVA LUTFIANA, Dr. Ir. Sri Rahayu, M.P., Dr. Sapto Indrioko, S.Hut., M.P.

2016 | Skripsi | S1 KEHUTANAN

Pembangunan hutan tanaman mangium secara luas menyebabkan potensi serangan hama dan patogen penyebab penyakit pada tanaman semakin meningkat. Salah satunya adalah penyakit layu yang disebabkan oleh jamur Ceratocystis sp. Sebanyak 8 provenans mangium yang berasal dari 3 populasi yaitu Indonesia (Muting), Papua New Guinea/PNG (Kini, Wipim, Oriomo, Bensbach, dan Gubam), dan Australia (Pascoe River dan Claudie River) yang telah diinokulasi jamur Ceratocystis sp. saat umur 4 bulan, ditanam di Wanagama saat umur 10 bulan untuk dilihat perkembangan gejala penyakit layu. Dari hasil penelitian terdahulu, 18 hari setelah diinokulasi buatan dengan jamur Ceratocystis sp., mangium menunjukkan kategori respons rentan hingga sangat rentan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi (1) perkembangan gejala penyakit layu di lapangan, (2) respon filodia terhadap jamur Ceratocystis sp.di laboratorium, (3) mengevaluasi kategori respons 8 provenans mangium terhadap jamur Ceratocystis sp. di lapangan dan di laboratorium serta (4) mengevaluasi hubungan antara intensitas gejala penyakit dengan pertumbuhan. Penelitian lapangan dilakukan di Petak 17 Wanagama Gunungkidul pada bulan September 2015-Maret 2016 dan penelitian laboratorium dilakukan di Laboratorium Perlindungan dan Kesehatan Hutan Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada pada bulan Maret-April 2016. Penanaman semai di lapangan menggunakan Randomized Complete Block Design (RCBD) yang terdiri dari 8 blok dengan single plot. Kriteria yang diamati adalah skor gejala, tinggi, dan diameter. Penelitian di laboratorium menggunakan Complete Randomized Design (CRD) dengan 2 isolat jamur Ceratocystis sp. sebanyak 2 ulangan pada tiap provenans dan 3 unit pengamatan pada tiap filodia. Hasil penelitian menunjukkan perkembangan gejala penyakit layu yang disebabkan oleh jamur Ceratocystis sp. pada 8 provenans mangium hingga umur 6 bulan di Wanagama mengalami penurunan yang bervariasi antara (24% - 44%) dengan kategori respons rentan dan toleran. Intensitas penyakit layu yang disebabkan oleh jamur Ceratocystis sp. pada 8 provenans mangium hingga umur 6 bulan di lapangan tidak berhubungan erat dengan pertumbuhan tinggi (R2=20.3%) dan diameter (R2=4.5%). Provenans Gubam dan Claudie River, menunjukkan kategori respons yang sama dan konsisten yaitu rentan baik di laboratorium maupun di lapangan, namun keduanya termasuk provenans yang adaptif dan memiliki pertumbuhan yang paling baik di lahan kritis Wanagama, Gunungkidul.

Extensive mangium plantation development led to an increase of pest and pathogen attack potency. Ceratocystis sp. is one of fungus that caused the wilt disease. Four months old eight mangium provenances from 3 populations which are Indonesia (Muting), Papua New Guinea/PNG (Kini, Wipim, Oriomo, Bensbach, and Gubam), and Australia (Pascoe River and Claudie River) were inoculated with Ceratocystis sp. Then, at the age of 10 months the mangiums were planted and observed its wilt disease development on Wanagama, Gunungkidul. The previous study reported that mangium showed susceptible until very susceptible response on 18 days after inoculation with Ceratocystis sp.. The aim of this study was to evaluate wilt disease symptoms development and the relation between disease symptoms intensity with the growth of mangiums. This research also evaluates the response category on 8 mangium provenaces that planted on field and inoculated in the laboratory. This research conducted in compartment 17 of Wanagama on September 2015-March 2016 and in the Forest Health and Protection Laboratory Universitas Gadjah Mada on March-April 2016. Randomized Complete Block Design (RCBD) with 8 blocks and single plot used to plant the seedlings on the field. The observed variables are the symptoms score, height, and diameter. Complete Randomized Design (CRD) with 2 isolates of Ceratocystis sp. used in the laboratory with 2 replications on each provenances and 3 observation units on each phyllodia. The result showed that the development of wilt disease symptoms caused by Ceratocystis sp. on 8 mangium provenances until 6 months old in Wanagama were declined varies between 24% - 44% with susceptible and tolerant response category. The intensity of wilt disease caused by Ceratocystis sp. until 6 months old on the same objects were not closely related with height (R2=20,3%) and diameter (R2=4,5%) growth. Gubam dan Claudie River provenaces showed the same response catagories which vulnerable in the laboratory and in the field, but both provenaces included adaptive provenances and had the best growth in the critical area in Wanagama, Gunungkidul.

Kata Kunci : wilt disease, Ceratocystis sp., mangium, Wanagama


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.