PEMODELAN SPASIAL SEBARAN GANGGUAN EKOSISTEM DI HUTAN PENDIDIKAN WANAGAMA I
AMELIA RIMA P, Dr. Emma Soraya, S.Hut., M.For.
2016 | Skripsi | S1 KEHUTANANKeberadaan Hutan Pendidikan Wanagama I (HPW I) sangat bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Hal ini dapat dilihat dari bentuk penggunaan lahan nonhutan di antara tegakan di HPW I. Penggunaan lahan nonhutan oleh masyarakat memiliki dampak terhadap tegakan di HPW I yang dapat dikuantifikasikan dengan luas bidang dasar (LBDS) tegakan. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) Mengetahui sebaran nilai LBDS di HPW I; (2) Mengetahui sebaran gangguan ekosistem HPW I akibat aktivitas manusia yang tinggal di sekitar HPW I; dan (3) Membangun model spasial gangguan ekosistem di HPW I. Penelitian ini memetakan penutupan lahan dan strata hutan berdasar interpretasi citra satelit Worldview-2 tahun 2012. Kedua peta yang telah diuji akurasinya dengan uji kappa digunakan untuk menentukan lokasi pengukuran LBDS tegakan. Pengukuran LBDS dilakukan dengan metode Bitterlich. Sebaran gangguan dianalisis secara spasial dengan Sistem Informasi Geografis (SIG) dengan mengkuantifikasikan lima parameter gangguan yaitu: jarak dari jalan makadam, jarak dari jalan setapak, jarak dari pemukiman, entropi dan kelerengan. Kelima parameter tersebut dimodelkan untuk menduga LBDS dengan analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata LBDS tegakan di HPW I adalah 17,2 m2/ha. Analisis spasial menunjukkan HPW I dapat dikelaskan menjadi tiga area berdasarkan gangguan ekosistemnya yaitu area dengan gangguan tinggi seluas 178,7 ha (LBDS 0 - 13,6 m2/ha) area dengan gangguan sedang seluas 246,7 ha (LBDS 13,7 - 19,1 m2/ha) dan area dengan gangguan rendah seluas 189,2 ha (LBDS 19,2 m2/ha ke atas). Berdasarkan pemodelan spasial menggunakan analisis regresi, diperoleh hasil bahwa dari lima variabel hanya dua variabel yang signifikan secara statistik yaitu entropi dan kelerengan. Persamaan regresi linear berganda yang diperoleh untuk memodelkan gangguan ekosistem di HPW I adalah: y = 22,451-23,164X1+0,243X2 Dimana y adalah LBDS (m2/ha), X1 adalah entropi dan X2 adalah kelerengan (%).
Hutan Pendidikan Wanagama I (HPW I) gives a lot of benefits for the local community, indicated by the rapid increasing of cultivation land within the area. However, human activities can be a threat for forest ecosystem within HPW I area. Therefore, it is necessary to determine forest ecosystem disturbance experienced by HPW I. The balance of stands' ecosystem can be quantified using stand basal area. The objectives of this study are to: (1) Determine the stand basal area in HPW I; (2) Map the ecosystem disturbance due to human activities in HPW I; and (3) Develop spatial model for ecosystem disturbances in HPW I. Worldview-2 satellite imagery was classified to obtain land cover and forest strata maps which then used to locate the basal area sampling point. Accuracy on the classification results were quantified using kappa statistic. Stand basal area was measured using Bitterlich's method. Spatial analysis with Geographic Information System (GIS) was done to map five disturbance parameters; i.e.: distance to rural road, distance to macadam road, distance to settlement, slope and entropy value. Disturbance distribution in HPW I was modelled using regression analysis. The results showed that average stands basal area of HPW I was 17,2 m2/ha. Spatial analysis on five disturbance parameters showed that HPW I can be classified into three areas: the high disturbed area 178,7 ha (stand basal area 0 - 13,6 m2/ha) the moderate disturbed area 246,7 ha (stand basal area 13,7 - 19,1 m2/ha) and the less disturbed area 189,2 ha (stand basal area 19,2 m2/ha up). Spatial modelling using regression analysis showed that only slope and entropy were statistically significant in explaining the LBDS's variance. Ecosystem disturbance model in HPW I using multiple linear regression equation was obtained as follows: y = 22,451-23,164X1+0,243X2 Where y is basal area (m2/ha) , X1 and X2 are entropy and slope (%).
Kata Kunci : HPW I, LBDS, Gangguan ekosistem