Implementasi Pengembangan Kawasan Agropolitan Bagelen di Kabupaten Purworejo
MARETHA ASRININGTYAS, Dr. AG. Subarsono, M.Si, MA
2016 | Skripsi | S1 ILMU ADMINISTRASI NEGARA (MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PUBLIK)Untuk dapat memaksimalkan potensi yang pertanian yang dimiliki oleh Kabupaten Purworejo, pemerintah membuat kebijakan pengembangan kawasan agropolitan bagelen. Kawasan agropolitan bagelen mencakup empat kecamatan yang mempunyai produk unggulan pertanian masing-masing. Kawasan agropolitan bagelen dibagi menjadi tiga wilayah dengan fungsinya masing-masing, yaitu hinterland, Kota tani dan kota tani utama. Ketiga wilayah tersebut diharapkan dapat bersinergi dengan baik sehingga dapat memudahkan aktivitas pertanian dan agribisnis para petani. Dalam faktanya kawasan hinterland, Kota tani dan kota utama belum mampu mewujudkan sebuah interaksi yang diharapkan melalui adanya pengembangan kawasan agropolitan bagelen ini. Masyarakat menjalankan cara pertanian, pengelolaan pasca panen dan pemasaran masih sama seperti yang mereka lakukan sejak dahulu, sehingga perlu adanya sosialisasi yang lebih mendalam serta pendampingan agar masyarakat memahami bahwa sesungguhnya melalui kawasan agropolitan bagelen ini mereka menjadi lebih mudah dalam melaksanakan kegiatan pertanian untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan para petani. Penelitian berjudul Implementasi Kebijakan Pengembangan Kawasan Agropolitan Bagelen di Kabupaten Purworejo ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses implementasi kebijakan tersebut di lapangan dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhinya.
In order to maximize the agriculture potential of Purworejo Regency, the government decided to make Bagelen agropolitan development policy. Bagelen agropolitan regional includes four subdistricts that have their own potential agricultural products. Bagelen agropolitan regional divided into three areas with their special functions, Those three areas are the hinterland, the agriculture city and the main agriculture city. Those three areas are expected to synergize well to facilitate agriculture and agribusiness activities. In fact, the hinterland, the agriculture city and the main agriculture city have not been able to make an interaction of the three areas in four subdistricts of bagelen agropolitan regional. Society still use the same way in their agriculture activities, post-harvest management and marketing, still the same way as they did before the implementation of this regional development policy was made. To make people more aware of this policy, the government need to socialize the people about the strategies and goal this policy so they understand that this policy will give benefits to them, to become easier to carry out agricultural activities and to improve social welfare. This research aims to find out how the process of the implementation of bagelen agropolitan development policy and any factors that influence it.
Kata Kunci : kebijakan publik, implementasi, agropolitan