Laporkan Masalah

Penyebab Munculnya Gerakan Wahana Tri Tunggal di Kecamatan Temon, Kabupaten Kulonprogo

ADITYA AGUNG PRATAMA, Dra. Ratnawati, SU

2016 | Skripsi | S1 ILMU PEMERINTAHAN (POLITIK DAN PEMERINTAHAN)

Sebuah Gerakan Sosial atau Gerakan Penolakan muncul sebagai refleksi dari bentuk perlawanan terhadap negara yang memiliki kekuatan untuk membuat keputusan. Embrio dari gerakan Wahana Tri Tunggal (WTT) adalah isu pemindahan Bandara Adisutjipto yang dilakukan pemerintah ke daerah mereka yaitu di Kecamatan Temon, Kabupaten Kulonprogo. Isu ini menimbulkan berbagai ketegangan dan kekhawatiran warga akan adanya dampak- dampak buruk bagi kehidupan masyarakat Temon. Hal ini kemudian memaksa warga yang menolak untuk menyuarakan ketidaksetujuan mereka terhadap keputusan pemerintah yaitu dengan cara membuat sebuah gerakan untuk memfasilitasi warga-warga yang menolak, dinamakan Gerakan Wahana Tri Tunggal (WTT). Dari kasus yang terjadi diatas munculah rumusan masalah sebagai berikut : Bagaimana proses kemunculan Gerakan Wahana Tri Tunggal (WTT) dalam penolakan pembangunan Bandara baru di Kecmatan Temon, Kabupaten Kulonprogo ? Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus sehingga masalah dapat dilihat dengan lebih obyektif. Kemunculan gerakan sosial disebabkan karena 6 (enam) kondisi sosial : 1). Structural Condusiveness, 2). Structural Strain, 3). Growth and Spread of an Explanation, 4). Precipitating Factors, 5). Mobilization for Action, 6). Lack of Social Control. Hal ini kemudian menyebabkan masyarakat bertindak secara kolektif dan melakukan institusionalisasi gerakan dalam bentuk gerakan sosial politik. Dari data di lapangan, dapat disimpulkan bahwa kemunculan Gerakan Wahana Tri Tunggal disebabkan karena 1). Adanya kesenjangan dalam bidang pendidikan dan pekerjaan, 2). Kemudian dari kesenjangan tersebut menimbulkan kecemasan yang berkembang menjadi ketegangan, 3). Kemudian ketegangan tersebut bertambah besar karena informasi tentang pembangunan bandara yang menyebabkan kecemasan semakin berkembang dan mendekati kenyataan, 4). Kemunculan gerakan ini semakin cepat karena warga yang menolak harus urgensipembangunan bandara baru agar bandara tidak jadi dibangun di daerah mereka, 5). Dengan melakukan mobilisasi massa, gerakan ini semakin berkembang dalam jumlah anggotanya, 6). Kurangnya kontrol sosial dari pemerintah juga menjadi pemicu warga melakukan tindakan-tindakan kolektif, karena warga menjadi semakin bebas melakukan sesuatu sesuai keinginan mereka.

A Social Movement or Rejection Movement appears as refflection of fighting against State which has power to make decision. Embrio of Wahana Tri Tunggal (WTT) Movement is Adisutjipto Airport Relocation issue issued by Government to Temon district area, Kulonprogo Regency. This issue implied to a strain and stress felt by people toward bad impacts to Temon society. Then this dynamics forced people to reject and deliver their disagreement toward government decision, by making a movement to facilitate this rejection action, called Wahana Tri Tunggal (WTT) movement. Based on the dynamics that happened, Wahana Tri Tunggal (WTT) movement can appear new airport building rejection in Temon district, Kulonprogo Regency ? Method used is qualitative method with case study approach, in order to make problem seems objectively. Social movement appearing is caused by 6 (six) social condition : 1). Structural Condusiveness, 2). Structural Strain, 3). Growth and Spread of an Explanation, 4). Precipitating Factors, 5). Mobilization for Action, 6). Lack of Social Control. It implies to make people move and act collectively and doing the movement institutionalization in form of social and political movement. Based on the data collected, researcher may conclude that the appearing of Wahana Tri Tunggal movement is caused by 1). Gap existence in education and work, 2). Based on the gap, anxious changes into strain and stress, 3). Strain and stress grow bigger because the information of airport relocation grow massively then it makes the strain and stress go closer to reality, 4). It grows faster because people must compete with the urgention of new airport building in order that the airport relocation is cancelled to build in Temon, 5). By doing mass mobilization, this movement develop in its member quantity, 6). Lack of social control from government also becomes the trigerring to people to do collective action, because people become freely doing what they want as their desire.

Kata Kunci : Konteks Kelahiran, Gerakan Sosial, Wahana Tri Tunggal, Bandara Adisutjipto