Laporkan Masalah

Pemikiran Son'nou Joui oleh Tokugawa Nariaki dan Pengaruhnya terhadap Pemerintahan Tokugawa (1853-1860)

FANNY ALEUTIA L., Stedi Wardoyo, S.S., M.A.

2016 | Skripsi | S1 SASTRA JEPANG

Penandatanganan Perjanjian Kanagawa pada tahun 1854 secara resmi mengakhiri politik isolasi yang berlaku di Jepang selama masa pemerintahan Tokugawa (1600-1868). Namun, kebijakan yang diambil oleh pemerintah menimbulkan pertentangan dari berbagai pihak, di antaranya Tokugawa Nariaki. Ia mengkritik sikap pemerintah dalam menghadapi bangsa asing dan mempropagandakan pemikirannya untuk mengembalikan kekuasaan kaisar dalam slogan son'nou joui. Skripsi ini menjelaskan pemikiran son'nou joui dalam perannya sebagai propaganda dan bagaimana hal tersebut mempengaruhi pemerintahan Tokugawa. Metode yang digunakan adalah metode penelitian sejarah. Data didapatkan dari buku-buku perpustakaan UGM, buku elektronik atau e-book, dan jurnal-jurnal yang disediakan oleh situs resmi pemerintah Jepang serta situs berbasis pendidikan seperti Journal Store (JSTOR) yang kemudian diverifikasi untuk mengetahui kredibilitas data tersebut. Langkah berikutnya dilakukan interpretasi dengan menggunakan teori propaganda politik oleh Harold D. Lasswell sebagai alat analisis. Kemudian langkah terakhir adalah penulisan sejarah dengan memaparkan data secara kronologis. Hasil penelitian adalah dapat diketahui bahwa pemikiran son'nou joui yang dipromosikan oleh Tokugawa Nariaki pada masa pemerintahan Tokugawa merupakan propaganda untuk mengembalikan kaisar sebagai penguasa tertinggi atas Jepang. Selain itu, Tokugawa Nariaki dapat mengendalikan keagresifan, rasa bersalah, kelemahan, dan afeksi yang muncul selama krisis yang terjadi di Jepang sejak kedatangan bangsa asing melalui pemikiran tersebut. Dengan begitu, dapat dikatakan bahwa son'nou joui merupakan propaganda yang berhasil sehingga mampu mempengaruhi pemerintahan Tokugawa dan memicu terjadinya peristiwa Restorasi Meiji.

Treaty of Kanagawa, which was signed back in 1854, officially put an end to Japan's national seclusion during Tokugawa Period (1600-1868). However, this government policy gave rise to opposition from many parties, including Tokugawa Nariaki. He criticized the government's way of handling foreign nations and propagandized his own thought to revere the emperor on the son'nou joui slogan. This essay explains the thought of son'nou joui as propaganda and how it influenced Tokugawa regime. The method used in this study was historical research method. The data was collected from Japan's official government sites journals and other educational sites, for then verified to understand the credibility of said data. The next step was interpretation by using Harold D. Lasswell's theory of political propaganda as analytical tool. The last step was historical writing with chronological order. The result of this study concluded that son'nou joui thought which was promoted by Tokugawa Nariaki during Tokugawa regime was a form of propaganda to return the emperor's position as the highest political leader of Japan. Furthermore, Tokugawa Nariaki was able to control aggressiveness, guilt, weakness, and affection that produced during the crisis since the arrival of foreign nation using the thought. Therefore, son'nou joui can be seen as a successful propaganda so that it could influenced Tokugawa regime and triggered the occurrence of Meiji Restoration.

Kata Kunci : Tokugawa Nariaki, son'nou joui, pemerintahan Tokugawa, kaisar, Restorasi Meiji

  1. S1-2016-318468-abstract.pdf  
  2. S1-2016-318468-bibliography.pdf  
  3. S1-2016-318468-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2016-318468-title.pdf