Memulung Sebagai Pekerjaan Pokok di TPA Jeruklegi Desa Tritih Lor, Kecamatan Jeruklegi, Kabupaten Cilacap
ANNISA CIKA HASNA, Dr. Tri Winarni Soenarto Putri, SU
2016 | Skripsi | S1 ILMU PEMBANGUNAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAAN (SOSIATRI)Memulung Sebagai Pekerjaan Pokok di TPA Jeruklegi Desa Tritih Lor, Kecamatan Jeruklegi, Kabupaten Cilacap Pekerjaan pokok adalah aktivitas fisik dan psikis yang dilakukan manusia yang kemudian menghasilkan imbalan berupa upah atau gaji serta merupakan aktivitas yang utama untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Melalui memulung masyarakat sekitar TPA Jeruklegi Cilacap melanjutkan hidupnya yaitu dengan bekerja sebagai pemulung. Mereka menjadikan memulung sebagai mata pencahariaan utama. Rumusan masalah dalam penelitian ini ada dua, yaitu mengapa memulung dijadikan sebagai pekerjaan pokok oleh pemulung TPA Jeruklegi dan faktor apa saja yang membuat pemulung tetap memulung di TPA Jeruklegi hingga sekarang. Tujuan dari penelitian ini ingin mengetahui alasan mengapa memulung dijadikan sebagai pekerjaan pokok dan alasan apa yang membuat pekerjaan memulung hingga saat ini masih dijalankan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kulitatif. Pengumpulan data penelitian dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Wawancara dilakukan dengan teknik purposive random sampling. Informan dalam penelitian ini sejumlah 9 orang yang terdiri dari 7 pemulung dari Desa Tritih Lor dan Desa Jangrana dan 2 orang perangkat desa Sekretaris Desa Jangrana dan Kepala Dusun Gunungsari, Desa Jangrana. Dalam penelitian ini digunakan pisau analisis teori pilihan rasional milik Coleman. Teori pilihan rasional menurut peneliti dirasa tepat untuk menganalisis pilihan pemulung untuk menjadikan memulung sebagai pekerjaan pokok mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mereka secara sadar dan rasional memilih menjadi memulung sebagai pekerjaan pokok dengan alasan kebutuhan ekonomi, kemudahan pekerjan menjadi pemulung, faktor lingkungan dan adanya waktu luang. Pemulung merasakan kenyamanan dibandingkan bekerja di bidang lain. Meskipun bekerja menjadi pemulung juga merasakan panas teriknya matahari, kotor dan aroma tidak sedap tetapi mereka menikmati hasil pekerjaan mereka. Banyak sedikit hasil yang didapatkan itu adalah hasil keringat mereka sendiri dan tidak ada tekanan dari majikan. Berbeda ketika mereka harus bekerja sebagai buruh. Selain itu dari memulung mereka bisa mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari karena hasil mengumpulkan rongsok bisa langsung dijual pada saat hari itu juga. Alasan mereka sampai sekarang masih memulung disebabkan karena alasan kebutuhan ekonomi, kenyamanan serta adanya relasi sosial sesama pemulung TPA Jeruklegi. Dari ketiga alasan tersebut memunculkan pola pikir bagi diri pemulung bahwa jalan yang mereka ambil tersebut sudah benar dan logis dengan segala pertimbangan-pertimbangan yang telah mereka pikirkan sebelumnya. Pilihan memulung sebagai pekerjaan pokok dirasa tepat dibanding pilihan bekerja di bidang lain.
Scavenging as the Main Job in Jeruklegi Landfill of TritihLor Village, Jeruklegi District, Cilacap Regency Main job is a physical and psychological activity done by humans which can result in honorarium, such as salary, and also is the main activity which can fulfill the life needs. By scavenging, the people around Jeruklegi landfill, Cilacap, continue their life working as a scavenger. They make scavenging as their main livelihood. There are two problem formulations in this research, which are why the scavenging becomes the main job of the scavengers in Jeruklegi landfill and what factors which make the scavengers keep scavenging in Jeruklegi landfill until now. The purpose of the research is to figure out the reason why scavenging becomes the main job and what reasons which make the scavenging is still run until today. This research is done using qualitative research method. The data gathering of the research applies observations, interviews, and documentations. The interviewsare conducted in purposive random sampling. There are 9 informers in this research, consisting of 7 scavengers from TritihLor Village and Jangrana Village and 2 village officers, the Jangrana village secretary and Gunungsari subdivision head of Jangrana village. In this research, the chosen analysis theory by Coleman is used. The chosen rational theory, according to the researcher, is suitable to analyze the scavenger choice to make scavenging as their main job. The result of the research shows that they are consciously and rationally choose to become scavenger as their main job with the economical need, the easiness of becoming scavenger, environmental factors and the spare time they have, as the reasons. The scavengers feel comfort comparing to working in other fields. Even though working as scavenger gets them to the blazing of the sun and the dirt and bad smell, they still enjoy the result of their work. More or less they get is the result of their own work, without any pressure from any boss. It’s different from working as a labor. Besides that, scavenging can fulfill their daily needs because the result of collecting the garbage can be sold directly on that exact day. The reason they still do scavenging until today is due to their economic needs, the comfort and the social relation among scavengers in Jeruklegi landfill. Those three reasons create certain pattern of thinking to the scavengers that the way they take is already correct and logical, with all considerations they have thought before. The choice of scavenging as the main livelihood is considered right comparing to the choices of working in other fields.
Kata Kunci : memulung, pekerjaan pokok, pilihan rasional / scavenging, main job, rational choice