ANALISIS PENGHAMBAT PENGEMBANGAN SEKTOR PARIWISATA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA (DIY) DARI SUDUT PANDANG TOURISM VALUE CHAIN (TVC) STUDI KASUS : KETERTINGGALAN FOREIGN TOURIST ARRIVAL (FTA) SEKTOR PARIWISATA PROVINSI DIY DARI KOTA BANDUNG
Citra Kurniasari, Drs. Umar Salam, MIS.
2014 | Tesis | S2 Ilmu Politik/Hubungan InternasionalSektor pariwisata merupakan salah satu sektor yang penting bagi Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) selain sektor perdagangan. Pesatnya perkembangan sektor pariwisata di Provinsi DIY berdampak pada perekonomian provinsi ini. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan tingginya Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pariwisata. Diberlakukannya otonami daerah (otda) tidak serta merta berdampak pada sektor pariwisata di provinsi ini. Diberlakukannya otda justru menjadi sebuah langkah awal Provinsi DIY untuk mengelola dan lebih mengembangkan potensi yang ada pada sektor pariwisata secara mandiri. Munculnya kompetitor baru seperti Kota Bandung sebagai salah satu destinasi wisata belanja dan kuliner merupakan salah satu dampak diberlakukannya otda di Indonesia. Hal ini dapat dibuktikan dengan meningkatnya jumlah kedatangan wisatawan khususnya wisatawan mancanegara setiap tahunnya untuk melakukan kegiatan wisata. Provinsi DIY yang sejak lama lebih unggul dari Kota Bandung dalam sektor pariwisata tetapi setelah tahun 2007 justru Kota Bandung yang lebih unggul. Kondisi ini kemudian menjadikan Provinsi DIY tidak lagi menjadi satu – satunya destinasi wisata setelah Pulau Bali. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode deskriptif analitis. Adapun topik bahasan dalam penelitian ini adalah analisis penghambat pengembangan sektor pariwisata di Provinsi DIY. Dan untuk lebih mempertajam tujuan dari penelitian ini, sektor pariwisata Kota Bandung dipilih dan digunakan sebagai pembanding serta Tourism Value Chain sebagai unit analisis.
Tourism sector is one of sector that is important to Yogyakarta Province besides trade sector. The rapid development of the tourism sector in Yogyakarta Province impacts to the economy of this province. This can be evidenced by the high local revenue from the tourism sector. Enactment autonomy does not necessarily impact on the tourism sector in the province. Enactment of autonomy actually is a first step Yogyakarta Province to manage and further develop the potential of the tourism sector independently. The emergence of new competitors such as the City of Bandung as a shopping and culinary tourism destination is one of the effects of the implementation of regional autonomy in Indonesia. This can be evidenced by the increasing number of tourists, especially foreign tourist’s arrivals annually for tourism activities. Yogyakarta Province was a longtime superior to City of Bandung in the tourism sector. But after years 2007, City of Bandung more superior than Yogyakarta Province. This condition then make Yogyakarta Province is no longer the one - the only tourist destination after Bali. This research is a descriptive qualitative analytical method. The topic of this research is the analysis of inhibitor development of tourism sector in Yogyakarta Province. And to further sharpen the purpose of this study, City of Bandung tourism sector is selected and used for comparison as well as the Tourism Value Chain as the unit of analysis.
Kata Kunci : Sektor Pariwisata, Provinsi DIY, Kota Bandung, Tourism Value Chain (TVC), Analisis Penghambat Pengembangan