Laporkan Masalah

Efektivitas metode diskusi kelompok dengan dan tanpa fasilitator pada peningkatan pengetahuan, sikap dan motivasi remaja tentang perilaku seks pranikah di Kabupaten Indragiri Hulu Provinsi Riau

HANDAYANI, Sri, dr.Ova Emilia, M.Med, SpOG, Ph.D

2009 | Tesis | S2 Magister Perilaku Promosi Kesehatan

Latar Belakang: Hasil survey Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) menerangkan bahwa usia remaja pertama kali melakukan hubungan seks adalah 13-18 tahun, 60% tidak menggunakan alat kontrasepsi, dan 85% dilakukan di rumah sendiri. Kondisi tersebut menunjukkan perilaku hubungan seks pranikah pada remaja sangat tinggi. Kurangnya pendidikan tentang kesehatan reproduksi dan informasi yang tidak tepat dapat menyebabkan remaja melakukan perilaku seksual bebas. Hal ini mendukung pentingnya dilakukan pendidikan kesehatan reproduksi sebagai tindakan preventif perilaku seksual pranikah bagi remaja. Tujuan: Mengetahui metode diskusi kelompok dengan dan tanpa fasilitator yang lebih efektif untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan motivasi remaja tentang perilaku seks pranikah. Metode: Penelitian eksperimen kuasi dengan rancangan pretest-posttest control group design. Sampel dipilih dengan teknik purposive sampling atas dasar karakteristik responden. Analisis data yang digunakan adalah analysis of variance (ANOVA). Hasil Penelitian : Pengetahuan, sikap dan motivasi remaja tentang perilaku seks pranikah sebelum perlakuan tidak signifikan, pengetahuan (p= 0,940), sikap (p= 0,357) dan motivasi (p= 0,260). Setelah perlakuan menunjukkan kenaikan yang signifikan pada pengetahuan (p= 0,00), sikap (p=0,00) dan motivasi (p= 0,024). Hasil uji ANOVA menunjukkan ada perbedaan yang bermakna antara metode diskusi kelompok dengan fasilitator dan diskusi kelompok tanpa fasilitator dalam meningkatkan pengetahuan remaja (p= 0,018). Sedangkan untuk peningkatan sikap dan motivasi remaja menunjukkan tidak ada perbedaan yang bermakna antara metode diskusi kelompok dengan fasilitator dan diskusi kelompok tanpa fasilitator dengan nilai sikap (p= 0,734) dan motivasi (p= 0,647). Kesimpulan : Metode diskusi kelompok dengan fasilitator lebih efektif dalam meningkatkan pengetahuan, sikap, dan motivasi remaja terhadap perilaku seks pranikah dibandingkan dengan metode diskusi kelompok tanpa fasilitator.

Background: The survey result of Indonesian Family Planning Association (PKBI) mentioned that teenagers were started to have sexual relationship when they were 13-18 years old, 60% out of them did not use the contraception, and 85% did that at their own house. This condition showed that pre marital sexual behavior in teenager was very high. Lack of education regarding reproductive health and inappropriate information could caused teenagers having free sexual behavior. This was supported the importance of reproductive health education as preventive action of pre marital sexual behavior for teenager. Objective: This research was aimed to find out group discussion method with or without facilitator that could be more effective in improving knowledge, attitude and motivation of teenager regarding pre marital sexual behavior. Method: This was a quasi experimental research that used pretest-posttest control group design. The sample was selected with purposive sampling technique based on respondent’s characteristic. In addition, the data was analysed with analysis of variance (ANOVA). Result : Knowledge, attitude and motivation of teenager regarding pre marital sexual behavior before the treatment was not significant, knowledge (p = 0,940), attitude (p = 0,357) and motivation (p = 0,260). After the treatment, there was a significant improvement on knowledge (p = 0,00), attitude (p= 0,00) and motivation (p= 0,024). The result of ANOVA test showed that there was a significant difference between group discussion with facilitator and group discussion without facilitator in improving teenager’s knowledge (p = 0,018) . While for improvement of attitude and motivation of teenager, there was a significant improvement between group discussion with facilitator and group discussion without facilitator with value of attitude (p= 0,734) and motivation (p= 0,647). Conclusion : Group discussion method with facilitator was more effective in improving knowledge, attitude, and motivation of teenager toward pre marital sexual behavior compare with group discussion method without facilitator.

Kata Kunci : pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual,metode diskusi kelompok,remaja,perilaku seks pranikah,pengetahuan,sikap,motivasi,reproductive health and sexual education, group discussion method,teenager,pre marital sexual behavior,knowledge,attitude,motivati


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.