Laporkan Masalah

Lelaki Pepadu

SETYANINGSIH, Aryani, Dr. G.R. Lono Lastoro Simatupang, M.A

2009 | Tesis | S2 Antropologi

Tulisan ini memaparkan hubungan antara permainan perisean dengan kelelakian Sasak. Perisean adalah sebuah permainan saling pukul dengan menggunakan rotan (penjalin/emat) sebagai pemukul dan tameng (perise) untuk menangkis, yang dimainkan oleh dua orang petarung laki-laki (pepadu). Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat dipilih sebagai lokasi penelitian karena sampai saat ini masih sering mempertontonkan permainan perisean. Secara umum, saya melihat permainan ini lebih banyak melibatkan laki-laki daripada perempuan. Realitas ini memunculkan dugaan bahwa perisean merupakan bangunan kelelakian Sasak. Bangunan kelelakian Sasak tersebut tampak dimulai dari pepadu yang harus laki-laki, pepadu hanya mendidik anak laki-laki, dan orang-orang yang terlibat dalam perisean-pun juga laki-laki (belian atau dukun, pekembar, wasit, anggota musik pengiring, dan penonton). Permainan perisean juga tidak melibatkan perempuan (istri, anak perempuan, saudara perempuan, selingkuhan atau pelacur) karena diyakini bisa mengakibatkan hilangnya kesaktian bebadong (jimat) yang dimiliki pepadu, sehingga akhirnya pepadu menjadi kalah ketika beradu. Perempuan dianggap sebagai makhluk pengganggu dan tidak suci (profan) sehingga harus dijauhkan dari arena perisean yang dianggap suci (sakral). Bangunan itu menjadi benteng kokoh kekuasaan lelaki Sasak atas identitasnya dalam perisean, dimana sebelumnya sudah didukung dalam ritual merariq (kawin lari). Namun demikian, berdasarkan pengamatan dan hasil analisis data secara interpretif atau hermeneutik Gadamer, saya menyimpulkan bahwa yang sakral justru perempuan. Bebadong (jimat) yang sesungguhnya adalah kerelaan dan izin dari istri serta ibu. Kerelaan istri tidak ditiduri selama seminggu, baik sebelum maupun sesudah perisean berlangsung, serta izin dari ibu sebelum pepadu beradu. Kesakralan perempuan semakin dikuatkan dengan adanya mitos yang menceritakan bahwa keberadaan perisean pada zaman dahulu adalah untuk menghormati sosok perempuan, yaitu Dewi Anjani, dewi lelembut yang bersemayam di Gunung Rinjani, gunung yang hingga kini dianggap sakral oleh masyarakat Sasak. Dengan demikian, kekuatan, keberanian dan kekuasaan lelaki pepadu ada karena disandarkan pada sosok perempuan, sehingga telah terjadi relasi yang seimbang antara laki-laki dan perempuan Sasak dalam perisean.

This study explains the relationship between perisean game and masculinity amongst Sasaks of Lombok island. Perisean is a fighting game performed by two male fighters (pepadu) armed with a rattan (penjalin/emat) stick and a shield (perise). The research is conducted in East Lombok, Nusa Tenggara Barat, where perisean is still often performed. The fact that this game involves more men than women encourages me to question the roles of perisean in the construction of masculinity amongst the Sasaks. The Sasaks masculinity constructions is obviously seen from the norms that determine pepadu must be male, pepadu transmit their skills to their sons only, and that people involved in the game (belian or shaman, pekembar, referee, musicians, and spectators) are mostly males. Perisean does not involve females (wives, daughters, sisters, partners or prostitutes) because of a believe that their involvements might weaken bebadong (the charm that give supernatural powers of pepadu) so that they might loose the game. Women are considered as disturbing creatures who are impure, therefore their presence must be prohibited at the sacred area of perisean. Such construction becomes a powerful fortress for Sasak men to maintain their identity in perisean, in addition to the local marriage custom of merariq (elopement). Nevertheless, based on observation and data analysis using Gadamer’s interpretive or hermeneutical approach, I came to a conclusion that it is the female who are sacred. The real bebadong (charm) is the consent and permit given by wives and mothers, i.e. the willingness of wives of not having sexual intercourse within a week before and after the game, and the permit and blessing of mothers before the fight. The sacred image of women is strengthened by a myth telling that in the past perisean was conducted in honor a female figure, Dewi Anjani – a spiritual being who resides in Mount Rinjani which is up till now considered by Sasak people as the most sacred place of the island. Therefore, the male pepadu’s strength, bravery, and power exist because of their reliance upon females; so, in perisean a balance relationship between men and women is occurring.

Kata Kunci : Perisean,Sasak,Konstruksi kelelakian,Relasi laki,laki dan perempuan, Perisean, Sasak, construction of masculinity, women-man relationship


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.