Pengalihan hak serta fungsi tanah dan pergeseran makna tanah di Desa Adat Gianyar Bali
AMITHABA, Anak Agung Gde Iswara, Ir. Bakti Setiawan, MA.,Ph.D
2005 | Tesis | Magister Perencanaan Kota dan DaerahPerkembangan pariwisata di Bali dalam 2 ( dua ) dasa warsa terakhir telah mempengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat Bali. Tidak terkecuali Gianyar, yang terkenal dengan wisata budaya yang sangat kaya terkena pengaruh yang sangat kuat. Masyarakat yang semula agraris kini telah mulai memudar. Tanah dengan sangat mudah berpindah tangan dan beralih fungsi hanya karena alasan keuntungan ekonomi. Bahkan saat ini rata-rata setiap tahun di Bali telah terjadi konversi lahan pertanian seluas 1000 hektar. Tanah pun berkembang menjadi komoditas ekonomi semata. Masyarakat Bali yang mayoritas beragama Hindu sejak dahulu memiliki pegangan hidup untuk mencapai kebahagiaan yaitu Tri Hita Karana. Desa di Bali juga dibentuk atas prinsip Tri Hita Karana yang menjunjung tinggi harmonisasi hubungan antar unsur Ida Sanghyang Widhi, manusia dan alam. Banyak tanah produktif yang dikelola oleh subak terpaksa direlakan untuk beralih fungsi. Penjualan tanah dan alih fungsinya ditimbulkan oleh berbagai macam faktor yaitu internal masyarakat itu sendiri maupun dorongan eksternal pertumbuhan dan perkembangan kota Gianyar. Tujuan penelitian ini disamping untuk mengetahui faktor-faktor tersebut adalah juga untuk mengetahui sejauh mana telah terjadi pergeseran makna tanah dari jaman lampau sampai saat ini. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif eksploratif dengan melakukan pengamatan lapangan terhadap kasus-kasus maupun fenomena-fenomena yang terjadi dan menggali lebih jauh dengan pembandingan sumber sekunder lainnya. Faktor-faktor penyebab pengalihan hak dan fungsi lahan adalah;(1) status tanah berupa milik pribadi walaupun masih berupa sawah produktif bias dijual sesuai kebutuhan pemilik dan mengabaikan kepentingan komunal; (2) Kebutuhan ekonomi dan keuangan selalu meningkat; (3) Irigasi dan panen yang semakin buruk akibat ditinggalkannya subak oleh para anggotanya; (4) Pembangunan jalan dan infrastruktur lain;dan (5) Nilai tukar tanah yang semakin tinggi. Sedangkan pergeseran makna tanah telah terjadi pada ketiga sendi pokok Tri Hita Karana terutama yang bersinggungan dengan persoalan ekonomi masyarakat. Agar tidak terjadi alih fungsi lahan secara berlebihan maka pertanian beserta lembaga pengelolanya harus diperkuat. Perencanaan tata ruang harus lebih memperhatikan budaya lokal .Para tokoh masyarakat dan agama perlu menafsirkan kembali nilai-nilai luhur agama Hindu dalam konteks masa kini. Apabila hal ini dapat dilakukan maka kelestarian dalam dinamika atau Ajeg Bali dapat dilaksanakan.
In the last two decades tourism had influenced almost all of the living aspects of Balinese society. This also happened in Gianyar, the most famous place for enjoying cultural tourism and arts in Bali. The agricultural activities gradually has faded away. Land ownership and land use in Bali is changing significantly from agriculture to urban and tourism activities. In average, land conversion reached about 1000 hectares per year and changed into hotels, restaurants, villas, etc. Balinese society mostly based on Hindu religion, hold tightly the philosophy of Tri Hita Karana. Balinese villages and society was established on the principles of Parhyangan/God, Pawongan/human and Palemahan/nature. But now everything seem to be changed. Land conversions are happened everywhere.Most of them are productive rice field that managed by Subak, a traditional irrigation organization. Internal and external aspects of Balinese people and the local government policies facilitated the land conversions. The research aimed to recognized the internal and external aspects of land transfer and conversions and the change of land values. This research using descriptive explorative methods by field survey, interviews and secondary data. Factors that influenced the conversions process includes, (1) land ownership status; (2) economical pressures; (3) decreasing of the role of Subak;(4) urban growth; and (5) land economical value. Meanwhile, the change of land meaning was happened on the 3 elements of Tri hita Karana, specially that related to people economical needs. This research suggests that to prevent land conversion and the change of land values , the agricultural activities and institution should be strengthened. The development planning should be pay more attention to the local wisdom and the government and spiritual leader should make a new interpretation about religiousm values.
Kata Kunci : Tanah, Adat dan Tri Hita Karana, land, custom and Tri Hita Karana