BEDHAHING SERANG KAPING TELU ING KEDUNGPRING: GERAKAN SOSIAL MASYARAKAT SEPUTAR WADUK KEDUNG OMBO, 1985-2002
PANIS DHBI SALAM, Dr. Nur Aini Setiawati, M.Hum.
2016 | Tesis | S2 Ilmu SejarahTulisan ini dilatarbelakangi oleh dua hal. Pertama, ketidakjelasan faktor penyebab munculnya gerakan sosial warga Kedungpring atas kebijakan pembangunan Waduk Kedung Ombo. Kedua, ketidakjelasan tujuan gerakan masyarakat Kedungpring atas kebijakan pembangunan Waduk Kedung Ombo. Pokok permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah mengapa muncul gerakan sosial masyarakat Kedungpring atas kebijakan pembangunan Waduk Kedung Ombo dan apa tujuan dari gerakan tersebut sebenarnya. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka dirumuskan beberapa pertanyaan penelitian yang diungkap dalam penelitian ini: 1). mengapa warga Kedungpring menolak kebijakan ganti rugi dan transmigrasi pembangunan Waduk Kedung Ombo; 2). bagaimana kebijakan ganti rugi dan transmigrasi dijalankan dalam pembangunan Waduk Kedung Ombo; 3). bagaimana dinamika sosial gerakan masyarakat Kedungpring atas kebijakan pembangunan pembangunan Waduk Kedung Ombo; dan 4). mengapa pada masa Gubernur Mardiyanto warga Kedungpring pada akhirnya bersedia menerima untuk direlokasi? Gerakan sosial masyarakat Kedungpring atas kebijakan pembangunan Waduk Kedung Ombo yang dibangun dalam tulisan ini menggunakan metode sejarah. Adapun ruang lingkup spasial dan temporalnya adalah Dukuh Kedungpring, Desa Kedungrejo, Kecamatan Kemusu, Kabupaten Boyolali dalam kurun waktu 1985-2002. Hasil penelitian ini menunjukkan munculnya gerakan sosial masyarakat Kedungpring atas pembangunan Waduk Kedung Ombo, selain dipengaruhi adanya intimidasi pelaksanaan pembebasan tanah pembangunan Waduk Kedung Ombo, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor kultural warga. Pada dasarnya warga Kedungpring tidak mau meninggalkan tanahnya karena hal ini dianggap akan “memupus bhakti†mereka kepada leluhurnya. Di sisi lain, pelaksanaan kebijakan ganti rugi dan transmigrasi pembangunan Waduk Kedung Ombo dijalankan secara intimidatif yang menekan warga untuk meninggalkan tanahnya. Dalam kondisi dan cara berfikir demikian, maka bagi warga Kedungpring tiada jalan lain kecuali melakukan gerakan sosial. Adapun tujuan gerakan ini pada awalnya menghendaki pembangunan Waduk Kedung Ombo dihentikan. Namun, setelah tujuan tersebut tidak tercapai dan waduk telah digenangi, tujuan gerakan mereka berikutnya adalah mendapatkan relokasi di sekitar waduk, dengan alasan agar tetap bisa dekat dengan leluhurnya dan bisa ikut serta menikmati hasil pembangunan Waduk Kedung Ombo.
There were no clear factors causing social movement of Kedungpring people over policy of Kedung Ombo dam. In addition, there was also unclear objective of Kedungpring people movement over policy of Kedung Ombo dam. Both factors are background of this paper. Problems analyzed in this research are why social movement of Kedungpring people over Kedung Ombo dam construction appeared and what goal of the movement. Based on the problem, some research problems are formulated in this research: (1) why did Kedungpring people deny compensation policy and transmigration policy in Kedung Ombo dam construction; (2) how did compensation and transmigration policy was executed in Kedung Ombo dam construction?; (3) What was social dynamic of Kedungpring people movement over Kedung Ombo dam construction; and (4) Why were in Mardiyanto Governor era Kedungpring people willing to relocate? Social movement of Kedungpring people over Kedung Ombo dam construction policy made in this paper used historical method. Spatial and temporal scope was Kedungpring kampong of Kedungrejo village in Kemusu district Boyolali regency in 1985-2002. The result indicated that social movement of Kedungpring people over Kedung Ombo dam construction was influenced by intimidation of land acquisition for Kedung Ombo dam construction and also influenced by cultural factor of the society. In essence, Kedungpring people were not willing to leave their land because it would be considered as omitting their respect to their ancestor. In other side, compensation and transmigration policy for Kedung Ombo dam construction was executed with intimidatory way that pressed people to leave their land. In the condition and thinking pattern, Kedungpring people did social movement. Goal of the social movement was to stop Kedung Ombo dam construction. However, after their movement goal was not achieved and the dam was watered, they changed their goal to get relocation around the dam with reason that they were still near their ancestor and can obtain benefit result of Kedung Ombo dam construction.
Kata Kunci : pembangunan Waduk Kedung Ombo, gerakan sosial, Kedungpring, kultur lokal.