"DARI SUNGAI KE JALAN DARAT" STUDI PERUBAHAN LOKASI PRODUKSI PELADANG HULU SUNGAI DI KALIMANTAN TENGAH
MUHAMMAD ICHSAN RAHMANTO, Dr. Pujo Semedi H.Y., M.A.
2015 | Tesis | S2 ILMU ANTROPOLOGIPertanian ladang dalam komunitas Dayak di desa Kihambatang secara tradisional biasanya berlokasi di pinggiran sungai. Begitu juga dengan pola pemukiman yang dalam sejarah migrasi komunitas ini selalu menempati pinggiran sungai. Meski demikian, perubahan secara perlahan mulai terjadi seiring dengan kehadiran perusahaan kayu, PT.SBK yang memiliki ijin konsesi mencakup wilayah sekitar desa Kihambatang dan sembilan desa lainnya di Kabupaten Katingan dan Seruyan. Pembangunan jalan cabang menuju desa-desa di sekitar wilayah konsesi perusahaan itu menghubungkannya dengan jalan utama atau logging road dengan titik nol di logpond Popay, Melawi, Kalimantan Barat. Secara fisik jalan itu hanya berfungsi sebagai penghubung maupun sarana transportasi. Namun secara simbolik, keberadaan jalan dapat dimaknai sebagai faktor penting dalam transformasi pertanian pedesaan di hulu Kalimantan. Secara politik dan ekonomi, jalan menghubungkan antar satu aktor dengan aktor lainnya, juga menjadi arena dimana bentuk interaksi lewat respon hal-hal baru itu muncul. Secara kultural, perpindahan pemukiman dan aktivitas produksi dari pinggiran sungai ke pinggiran jalan darat menunjukkan adanya perubahan orientasi nilai. Menggunakan jalan darat sebagai jendelanya, maka kajian ini mencoba memahami proses transisi pertanian di desa Kihambatang dari pertanian ladang menjadi kebun karet dan sektor produksi lainnnya. Kehadiran perusahaan, pembangunan jalan darat dan penyediaan fasilitas oleh perusahaan, introduksi perkebunan karet, interaksi masyarakat dengan "dunia luar" ternyata menciptakan sumber-sumber ekonomi baru yang dipandang sebagai peluang menuju kemakmuran. Interkoneksi antar agensi tersebut meski memunculkan peluang yang baik bagi masyarakat di desa sekitar konsesi namun juga memunculkan dampak sosial. Relasi sosial semakin renggang, terdapat divisi tenaga kerja secara gender, konsumerisme meningkat, serta secara teoritik memunculkan bentuk baru mekanisme akses sumberdaya yang berpotensi menimbulkan konflik horizontal maupun vertikal.
Agricultural fields in the Dayak community in Kihambatang traditionally located on the outskirts of the river. As well as the settlement pattern in the history of the migration of this community always occupy riverbanks. However, change is slowly going along with the presence of logging companies, PT.SBK which has a concession license covering the area around the village Kihambatang and nine other villages in Katingan and Seruyan. Construction of the branch road leading the villages in the company's concession area connecting it to the main road or logging road with zero point in logpond Popay, Melawi, West Kalimantan. Physically, the road just serves as a liaison and transportation. But symbolically, where roads can be interpreted as an important factor in the transformation of a rural farm in the upstream Borneo. Political and economically, roads connecting between the actors with other actors, also become the arena in which the interaction response through new things that appear. Culturally, displacement of settlements and production activities from riverbanks to curb land showed a change in value orientation. Using the road as a window, then this study tried to understand the transition process in the agricultural village of farm fields Kihambatang into rubber plantation and production sectors sharing. The presence of the company, the construction of roads and provision of facilities by the company, the introduction of rubber plantations, community interaction with the "outside world" turns creating new economic resources is seen as an opportunity to prosperity. Interconnection between the agency even bring good opportunities for the people in the villages surrounding the concession but also bring social impacts. Social relations increasingly strained, there is a gender division of labor, increased consumerism, and theoretically led to new forms of resource access mechanisms that could potentially lead to conflict horizontally and vertically.
Kata Kunci : masyarakat desa hutan, jalan, sumber ekonomi baru, pertanian pedesaan, Kalimantan