Laporkan Masalah

THE SOCIAL-POLITICAL SIGNIFICANCE OF RITUAL: Ruwatan Desa Ritual in the Pundhen of Mbah Sentono during and after the 2013 local election in the village of Segunung , Mojokerto, East Java

HIDAYATUL WAHIDAH, Zainal Abidir Bagir, Ph.D.

2015 | Tesis | S2 Agama dan Lintas Budaya

Pundhen Mbah Sentono adalah tempat sakral yang sering digunakan sebagai tempat spiritual oleh orang-orang untuk meningkatkan spiritualitas mereka. Pundhen tersebut diakui sebagai tempat sakral untuk melakukan tahlilan, slametan dan ruwatan desa. Isu utama yang saya angkat didalam tesis ini adalah siknifikansi social-politik pada ritual. Ada tiga pertanyaan utama; yakni, pertama, bagaimana ruwatan desa ritual dipraktekkan di pundhen Mbah Sentono? kedua, bagaimana actor politik menggunakan ritual didalam pundhen sebagai alat politik didalam pemilihan? Terakhir, bagaimana masyarakat menggunakan ritual di pundhen untuk keluar dari actor politik? Saya akan menunjukkan bahwa ritual mempunyai siknifikansi social-politik dan beranggapan bahwa actor politik dan masyarakat mempunyai hubungan timbal balik melalui ritual. Dari latar belakang tersebut, saya menegaskan bahwa ritual di pundhen Mbah Sentono dalam kasus ini dibagi menjadi dua periode waktu, selama pemilihan dan sesudah pemilihan. Ritual selama pemilihan adalah tahlilan dan slametan yang ditangani oleh kandidat pemilihan sebagai actor politik untuk membagun pendukung politik dengan menunjuukan visi dan misinya ketika mereka menang, sedangkan ritual setelah pemilihan adalah ruwatan desa ritual yang juga digunakan oleh pemimpin politik untuk jalan negosiasi dan perdamaian untuk menghapus dampak negative pada kompetisi selama pemilihan lurah berlangsung, yang mempengaruhi masyarakat. Disisi lain, masyarakay juga menggunakan ritual untuk meminta sumbangan finansial dari kandidat untuk menyelenggarakan ruwatan desa dan kirab secara besar-besaran. Padahal, di tahun sebelum dan sesudahnya ketika tidak ada pemilihan, ruwatan desa diselenggarakan secara kecil-kecilan. Dalam penelitian ini, saya menganalisa siknifikansi social-politik pada ritual dengan menggunakan kerangka teori yang disadur oleh Kertzer. Berdasarkan penelitian saya dilapangan, saya beranggapan bahwa meskipun hubungan antara pemimpin politik dan orang-orang didalam masyarakat memberikan dampak negative dalam hubungan social politik, akan tetapi mereka saling memberikan keuntungan satu sama lain. Alasan ini yang saya sebut sebagai hubungan timbal balik antara pemimpin politik dengan orang-orang didalm masyrakat melalui ritual. Kata Kunci: Pundhen, ruwatan, slametan, tahlilan,pemimpin politik, masyarakat, hubungan timbal balik, Indonesia.

The Pundhen of Mbah Sentono is a sacred landscape that is used frequently by people to increase their spirituality. It is recognized as a sacred place to perform rituals such as tahlilan, slametan and ruwatan desa. The main issue I raise in this thesis concerns the social-political signifiance of the rituals. The three main questions are, first, how is ruwatan practiced in the Pundhen of Mbah Sentono? Second, how have political actors used the ritual in the pundhen as a political tool in election? The last, how have people also used the ritual in the pundhen to end up from political actors? I will show that the rituals do have social-political significance and argue that both political actors and people in society have mutual relations through the rituals. From this point of view, I state that ritual in the Pundhen of Mbah Sentono is divided into two time periods, during election period and after election period. The ritual during election period are tahlilan and slametan which are handled by the candidates of the local election to build political support, whereas the ritual after election is ruwatan desa which is also used by the winner for negotiation and reconciliation to ease the negative impacts of the competitions during the local election, which affect people. On the other hand, people also use the rituals to ask for financial supports from the candidates for holding big ruwatan desa and kirap. In the years before and after election, ruwatan desa is held as small events. In this research, I analyze the social-political significance of ritual, using a theoretical framework informed by Kertzer. Based on my fieldwork in the research site, I argue that although the relation between political leaders and people give negative impacts for their social-political relation, but they also advantage each other. That is the reason I call it as mutual relation between political leaders and people through rituals. Keywords: Pundhen, ruwatan, slametan, tahlilan, political leader, society, mutual relation, Indonesia.

Kata Kunci : Pundhen, ruwatan, slametan, tahlilan, political leader, society, mutual relation, Indonesia.

  1. S2-2015-354213-abstract.pdf  
  2. S2-2015-354213-bibliography.pdf  
  3. S2-2015-354213-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2015-354213-title.pdf