Laporkan Masalah

ETIKA EKOFEMINIS VANDANA SHIVA DAN KAREN J. WARREN SEBAGAI LANDASAN UNTUK MEREKONSTRUKSI ETIKA LINGKUNGAN DI INDONESIA: Studi Kasus Pengelolaan Hutan Wonosadi di Kabupaten Gunung Kidul

BERNARDUS WIBOWO SULIANTORO, DRS. M.HUM., Prof. Dr. R. Soejadi, S.H.

2015 | Disertasi | S3 STUDI KEBIJAKAN

Kerusakan hutan bukan sekedar disebabkan kesalahan teknis dalam mengorganisir hutan, tetapi lebih pada kekeliruan pola pikir, cara pandang dan sikap manusia terhadap sesama maupun alam. Sesat pikir keyakinan filosofis memunculkan aksi kekerasan simbolik maupun fisik berupa penindasan terhadap alam dan perempuan. Penindasan terhadap perempuan dan alam meningkat ketika kepentingan ekonomi menjadi orientasi utama pada saat mengambil keputusan sehingga melahirkan sistem kapitalisme-patriarkhi. Pemikiran etika ekofeminis Vandana Shiva, Karen J. Warren serta masyarakat desa Beji menawarkan visi alternatif untuk membebaskan perempuan dari praktek penindasan serta mewujudkan kelestarian hutan. Disertasi ini bertujuan mengekplisitkan, mengkritisi, menemukan visi baru pemikiran etika ekofeminis Vandana Shiva, Karen J. Warren serta mengkontekstualisasikan dengan cara pandang masyarakat desa Beji. Peneliti memadukan antara penelitian kepustakaan dan penelitian lapangan. Sumber data primer penelitian kepustakaan dilacak dari hasil pemikiran kedua filsof yang sudah terbukukan dilengkapi dengan sumber data sekunder berupa buku-buku penujang terkait dengan topik penelitian. Data terhimpun dianalisis menggunakan unsur metode filsafat berupa: Deskripsi, Interpretasi, Komparasi dan Holistika. Pengumpulan data lapangan ditempuh dengan melakukan observasi partisipatif di desa Beji serta wawancara mendalam ke beberapa nara sumber. Data temuan lapangan dianalisis menggunakan unsur metode filsafat berupa : hermeneutika dan heuristika. Hasil penelitian menemukan keadilan gender dan kepedulian terhadap lingkungan dapat terwujud jika manusia meninggalkan pola pikir, cara pandang dan praktek kapitalisme patriarkhi.Penekanan Vandana Shiva dan Karen J. Warren pada saat melakukan kritik terhadap kapitalisme-patriarkhi berbeda. Shiva kaya akan data empiris, Warren kuat dalam argumentasi rasional; Shiva lebih banyak membahas dari sisi ekologis, Warren dari sisi feminisme, Shiva lebih banyak mengungkap dampak negatif implementasi kapitalisme-patriarkhi, Warren lebih banyak membahas cara kerja, keterbatasan dan implikasi kerangka kerja konseptual patriarkhi terhadap kehidupan masyarakat. Kedua filsof sepakat untuk mewujudkan keadilan gender dan kelestarian hutan harus dilakukan dengan cara mendekonstruksikan asumsi-asumsi dasar pemikiran yang dikembangkan oleh kapitalisme-patriarkhi serta lebih mempromosikan nilai-nilai femininitas. Gagasan kedua filsof ekofeminis tersebut memilki kemiripan, sudah dipraktekkan, dan diberi inovasi baru oleh masyarakat desa Beji pada saat mengembangkan visi ekofeminis. Visi ekofeminis masyarakat desa Beji tidak hanya berhenti pada kesetaraan tetapi hendak melangkah lebih lanjut pada upaya mewujudkan kesejahteraan.Warga menyadari tidak ada untungnya mengambil sikap memusuhi perempuan dan alam karena yang diperjuangkan bukan kemenangan, tetapi keseimbangan dan kesejahtaraan bersama. Harmoni dalam keselarasan antara manusia dengan sesama dan alam merupakan fondasi yang kokoh untuk mewujudkan keadilan gender dan kelestarian hutan. Kata kunci: ekofeminis, kapitalisme-patriarkhi, keadilan-gender, kelestarian hutan

Forest destruction is not only caused by technical mistake in organizing the forest, but rather on the mindset mistake, perspective and human attitude towards fellow human or nature. Heretical-thought of philosophical belief bring up symbolic or physical violence action in the form of oppression against women and nature. Oppression against women and nature increases when economic interests to be the main orientation at time the decision making that bring forth the capitalism-patriarchy. Vandana Shiva and Karen J. Warren’s ecofeminist Ethics thought and Beji’s village communities offer alternative vision to liberate women from oppression practice and realizing the forest conservation. This dissertation was aimed to explicit, criticizes, and finds new vision of Vandana Shiva and Karen J. Warren’s ecofeminist Ethics thought and contextualizes with the Beji’s village community perspective. The researcher combines library research and field research. The primary data source of literature research was explored from both philosophers idea who already printed into book equipped with secondary data source in the form of supporting books related to the research topic. The collected data are analyzed using philosophical method elements in form: Description, Interpretation, Comparison and Holistic. The collection of field data is taken by participant observation in Beji village and in-depth interviews to several informants. The field findings data are analyzed using philosophical method: hermeneutics and heuristics. The research of study found gender equity and concern to the environment can be realized if human leave the mindset, perspective and capitalism-patriarchy practices. The emphasis of Vandana Shiva and Karen J. Warren during critique the capitalism-patriarchy is different. Shiva rich with empirical data, Warren strong in rational argument; Shiva discussed more in terms of ecological, Warren from the feminism side, Shiva reveal more in negative impact of implementing the capitalism-patriarchy, Warren discusses more in how to work, limitations and implications of patriarchal conceptual framework to community lives. Both philosophers agreed that to realize gender equity and forest conservation must be conducted by deconstructing the basic assumptions of thought developed by capitalism-patriarchy and promoting more in the femininity values. Both ecofeminist philosophers ideas have resemblance, have been practiced, and given new innovation by Beji’s village community when developing ecofeminist vision. The ecofeminist vision of Beji village community does not only stop at equality but going to further step in attempt to realize the welfare. The inhabitant aware that there is no advantage to take hostile attitudes against women and nature since what fought not the victory, but the balance and common well-being. Harmony in conformity between man with fellow human and nature is solid foundation to realize gender equity and forest conservation. Keywords: ecofeminist, capitalism-patriarchy, gender equity, forest conservation preservation

Kata Kunci : ekofeminis, kapitalisme-patriarkhi, keadilan-gender, kelestarian hutan; ecofeminist, capitalism-patriarchy, gender equity, forest conservation preservation


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.