Laporkan Masalah

ANTARA BELIS DAN BUBAROK (SEBUAH KAJIAN TENTANG PERKAWINAN PENDATANG FLORES DI WILAYAH SP4 DSP DUSUN SUAK PERAM DESA PAMPANG DUA)

GERARDUS KRISNA SATYA, Dr. Pujo Semedi Hargo Yuwono, M.A.

2014 | Skripsi | ANTROPOLOGI BUDAYA

Pendatang keturunan transmigran Flores, sebuah kompleksitas masyarakat hasil dari pelaksanaan program transmigrasi oleh pemerintah dalam rangka pemerataan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat khususnya di wilayah transmigrasi SP 4 DSP. Pada perjalanannya, pendatang keturunan trangmigran Flores berbenturan dengan berbagai bentukan konflik. Hingga mengerucut pada konflik yang merujuk pada identitas para pendatang dan orang kampung. Para pendatang mengacu kepada para transmigran beserta keturunannya secara umum sedangkan orang kampung mengacu kepada masyarakat Dayak secara umum pula. Dengan menggunakan pendekatan etnografi, ditemukan bahwa adanya fragmentasi tersebut berimplikasi pada terancamnya eksistensi para pendatang di wilayah SP 4 DSP. Keadaan demikian menuntut para pendatang untuk menemukan strategi dalam rangka mempertahankan eksistensnya. Terlebih lagi sebutan para pendatang seakan menjadi instrumen orang kampung untuk menunjukkan superioritasnya melalui kasus dalam temuan penulis. Sebuah strategi yang kemudian ditemukan oleh pendatang Flores khususnya adalah melalui perkawinan. Perkawinan yang dilakukan oleh pendatang Flores dengan orang kampung. Perkawinan menjadi strategi yang signifikan dilakukan oleh pendatang Flores terlebih lagi latar belakang kesamaan agama yang membuat akses untuk melakukan perkawinan tersebut menjadi lebih mudah diterima. Dibandingkan dengan pendatang lain dengan latar belakang agama yang berbeda lebih sulit untuk melakukan perkawinan dengan orang kampung. Lebih lanjut implikasi dari perkawinan para pendatang dengan orang kampung adalah dalam rangka mereduksi jarak antar keduanya. Dan memang dalam dinamikanya pula terdapat kebijakan yang memposisikan para pendatang pada keadaan yang lebih baik dengan identitas baru melalui ikatan perkawinan dengan orang kampung.

Flores descendants homesteader, a complexity of society as outcome of government as transmigrate program head for even distribution and increasing prosperity of each society particularly in transmigrate areas SP 4 DSP. At the course of Flores immigrant collided with various form of conflicts. Until pointed in a identity conflict between pendatang and orang kampung. Pendatang reflected to whole general immigrant with their descendant then orang kampung also reflected to general Dayak people. With an ethnographical approach, funded that those fragment implicate to immigrantas existence in SP 4 become threatened. That situation strive immigrant for finding strategy to hold their existence. Furthermore, predicated with pendatang like an instrument of orang kampung to indicate their superiority pass through case which founded. Then a strategy founded by Flores immigrant is marriage which did it to orang kampung. Marriage seen as a significant strategy of Flores immigrant more over as their background is similar religion with orang kampung. Then, make easier in order to getting their access to doing marriage with orang kampung just than other immigrant whose different religion. As implication, marriage between pendatang and orang kampung in order to reducing gap between them. It is indeed as Flores immigrant as dynamics is found policy which is positioned Flores immigrant better with their new identity pass through doing marriage with orang kampung.

Kata Kunci : Pendatang Flores, Perkawinan, Eksistensi / Flores Immigrant, Marriage, Existence


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.