PENGARUH WAKTU TUNGGU PEMERIKSAAN LABORATORIUM TERHADAP KEPUTUSAN TERAPI PADA PASIEN RAWAT INAP
Margaretha Mulyono, Prof.dr.Iwan Dwiprahasto,M.Med,Se,Ph.D
2014 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan MasyarakatLatar belakang: Hasil pemeriksaan laboratorium yang cepat dan akurat penting bagi klinisi untuk menegakkan diagnosa medis. Penundaan dalam menyampaikan hasil pemeriksaan laboratorium mengacaukan rencana kerja yang sudah dibuat klinisi serta meningkatkan risiko pada pasien akibat tertundanya pemberian/pelaksanaan terapi. Waktu tunggu pemeriksaan laboratorium diduga dapat dipengaruhi oleh sikap kerja laboran dan gangguan-gangguan yang terjadi selama pemeriksaan. Tujuan: Mengevaluasi pengaruh waktu tunggu pemeriksaan laboratotium terhadap keputusan terapi pada pasien Rawat Inap serta mengidentifikasi faktor-faktor yang berpengaruh pada waktu tunggu pemeriksaan laboratorium. Metode: Penelitian ini menggunakan disain mixed-method dengan pendekatan sekuensial kuantitatif dan kualitatif. Penelitian kuantitatif menggunakan descriptive cross-sectional survey dengan besar sampel sebanyak yang diperoleh selama penelitian dipilih secara consecutive. Penelitian kualitatif dengan wawancara semi terstruktur kepada laboran dan jajaran keperawatan. Pemilihan sampel laboran menggunakan criterion sampling sedangkan untuk jajaran keperawatan menggunakan maximum variation sampling. Sampling dilakukan sampai terjadi saturasi data. Hasil dan Pembahasan: Rata-rata total waktu tunggu pemeriksaan laboratorium mulai proses plebotomi di ruangan sampai dengan dokter memberi instruksi adalah 309,00 menit, waktu terlama terjadi pada tahap setelah hasil diterima di ruangan sampai dokter memberi instruksi dengan rata-rata 195,00 menit, disebabkan hasil yang tidak cito diserahkan saat dokter visite berikut. Gangguan yang terjadi selama pemeriksaan durasi waktunya hanya sekitar 1 menit namun mengganggu konsentrasi laboran sehingga rawan terjadi kesalahan dalam pengukuran, pencatatan maupun interpretasi hasil. Kesimpulan dan Saran : Waktu tunggu pemeriksaan laboratorium di RS Dr. OEN SOLO BARU jauh melampaui ketentuan Standar Pelayanan Minimal Departemen Kesehatan RI karena itu perlu dibuat kebijakan standar waktu tunggu pemeriksaan, segera menyampaikan hasil pemeriksaan kepada dokter melalui telepon dan menetapkan pembagian pekerjaan laboran.
Background: Fast and accurate lab test is very critical to clinicians in establishing medical diagnosis. Any delay in presenting lab result may compromise patient care plan and pose higher risk as a result of delayed treatment. Lab turnaround time is probably related to the attitudes of lab staff or some interruption in the process. Objective: The purpose of this study is to evaluate the influence of laboratory tests turnaround time on treatment/clinical decision of inpatients and to identify any factors contributing to laboratory tests turnaround time. Method: This research used a mixed-method study design with sequential quantitative-qualitative approach. The quantitative research applied a descriptive cross-sectional survey with sample size up to all obtained sample which were selected consecutively during the period of lab tests research. Qualitative research used semi-structured interview with lab and nursing staffs. Lab staffs sample were selected using criterion sampling while nursing staffs sample selected using maximum variation sampling. Sampling was done until data saturation occurs. Results and Discussion: The average of total turnaround time of lab tests obtained from phlebotomy procedure at inpatient unit until the time of the clinician making treatment instruction is 309,00 minutes. The longest time expended in the process is between the lab result received by inpatient unit to the time clinician made treatment instruction with the average of 195,00 minutes. It happened due to some non urgent results that were reported to the clinician on the next visit. Interruption duration to the lab staff is about 1 minute but interfere with lab staffs concentrations and prone to an error in measuring, recording and interpretating the test result. Conclusion: Lab turnaround time of Dr. OEN SOLO BARU Hospital fall far beyond the limit as provisioned in the Hospital Minimum Service Standard issued by the Ministry of Health of Indonesia. Therefore, there is a need to establish a turnaround time standart, promptly report laboratory result to the clinician by telephone, and established an effective job division among laboratory staffs .
Kata Kunci : Laboratorium Rumah Sakit, Keterlambatan Diagnosis.