THE CELEBRATION OF CHINESE JAVANESE IMLEK 2565 IN KETANDAN CHINATOWN YOGYAKARTA
CHARISA FINI EFFENDI, Dewi Cahya Ambarwati, SIP,MA.
2014 | Tugas Akhir | D3 BAHASA INGGRISTugas akhir ini bertujuan membahas tentang Imlek sebagai tradisi dan budaya Tionghoa. Tulisan ini menjelaskan tentang sejarah, keunikan, dan aspek-aspek yang berhubungan dengan Imlek. Selain itu tugas akhir ini mengobeservasi sebuah acara Imlek di Yogyakarta yang lebih dikenal sebagi festival Cap Go Meh 2014. Acara tersebut sangat menarik dan mampu menarik perhatian ribuan pengunjung. Festival Cap Go Meh 2014 ini juga mempengaruhi pariwisata di Yogyakarta dimana kota Yogyakarta terkenal sebagai kota budaya dan pariwisata. Saya menggunakan metode observasi langsung dan wawancara untuk mengumpulkan data mengenai Imlek dan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) 2014. Untuk studi lapangan saya juga melakukan observasi di tempat-tempat umum menjelang Imlek dan PBTY 2014 di Ketandan, kampung pecinan selama satu bulan dari 27 Januari – 21 Februari 2014. Saya telah mewawancarai seorang panitia PBTY 2014 dan beberapa pengunjung PBTY 2014 serta mereka yang meryakan Imlek. Selain itu, saya juga menggunakan beberapa buku dan artikel di Internet untuk beberapa referensi mengenai Imlek, PBTY 2014, dan beberapa informasi terkait. Kesimpulannya, Imlek merupakan tradisi turun temurun dan memiliki sejarah yang unik. Setiap aspek dan ornamen Imlek memiliki arti dan tujuan. Selain tradisi dan budaya, Imlek juga berhubungan dengan kepercayaan orang Tionghoa. Disamping itu, Imlek di Indonesia juga telah berakulturasi dengan budaya lokal, khususnya Imlek yang telah berakulturaasi dengan budaya Jawa di Yogyakarta. Kata kunci: Lunar New Year 2565, Imlek, Budaya China, Sejarah, Pekan Budaya Tionghoa (PBTY) 2014
This graduating paper aims to discuss about Lunar New Year (Imlek) as a tradition in Tionghoa culture. This paper describes about the history, characteristics, and aspects that associated with Imlek. Moreover, this paper observed a big event of Imlek in Yogyakarta which was called Cap Go Meh festival 2014. The event was very interesting and attracted the attention of thousands people. The event also influenced tourism in Yogyakarta since Yogyakarta is popular as a cultural and tourism city. I used direct observation and interview methods to gather up all the information about Lunar New Year (Imlek) and Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) 2014. I also observed some public places and PBTY 2014 event in Ketandan, Chinatown for a month from 27 January – 21 February 2014 to do the field study. I interviewed a committee of PBTY 2014 and some visitors of the event about the PBTY 2014 and those who celebrated Imlek. I also used some few books and articles in the internet for some more references about Imlek, PBTY 2014, and other additional information about Imlek. In short, Lunar New year is a hereditary tradition and it has a unique history. Every aspect and ornament of Imlek has a meaning and purpose. Besides of tradition and culture, Imlek is associated with the Chinese’s beliefs. Furthermore, Imlek in Indonesia also has been acculturated with local culture, and in focus, it has been acculturated with Javanese culture of Yogyakarta. Keywords: Lunar New Year 2565, Imlek, Chinese Culture, History, Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) 2014
Kata Kunci : Lunar New Year 2565, Imlek, Budaya China, Sejarah, Pekan Budaya Tionghoa (PBTY) 2014