Laporkan Masalah

ADAPTASI TOKOH “PARIYEM”: Dari Prosa Lirik Karya Linus Suryadi Agustinus Ke Pentas Teater “Pariyem 2000”

ARINTA AGUSTINA, Prof. Dr. C. Soebakdi Soemanto, S.U.

2014 | Tesis | S2 Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa

Pariyem 2000 adalah sebuah pertunjukkan drama yang menjadi salah satu dari sekian banyak karya adaptasi dari prosa lirik karya Linus Suryadi Agustinus, Pengakuan Pariyem; Dunia batin Wanita Jawa, yang menjadi hipogramnya. Fenomena karya adaptasi makin marak belakangan ini, hal ini memberikan peluang kreatif bagi para seniman untuk menciptakan sebuah karya yang sama tetapi dengan sudut pandang yang berbeda. Proses adaptasi dapat memberikan dimensi baru dalam dunia seni saat ini, karena di dalamnya terdapat tiga hal, yaitu process of transposistion, process of creation yang melibatkan re-interpretasi dan re-kreasi, serta bentuk intertekstualitas. Dengan menggunakan metode kualitatif, melalui pengumpulan data intrinsik dan mensejajarkan dengan data sosiologi tekstualnya, serta membuat perbandingan terhadap kedua karya tersebut, Pengakuan Pariyem dan Pariyem 2000, adalah upaya untuk menguraikan persoalan, tantangan, dan dialektika dalam proses adaptasi dari prosa lirik ke bentuk pementasan, sehingga dapat diketahui perubahan yang terjadi pada tokoh Pariyem dan aspek sosial budaya yang mengiringinya. Dialektika atau intertekstualitas diperlukan untuk melihat hubungan antara kedua karya tersebut. Tokoh Pariyem dalam Pariyem 2000 bukan hanya sekedar transformasi atau peng-alihwahana-an semata, tetapi juga terdapat reformulasi dari tokoh Pariyem sebelumnya. Perubahan sosial budaya yang terjadi sangat mempengaruhi pembacaan ulang terhadap teks Pengakuan Pariyem ini. Pariyem yang hidup di tahun 2000 tidak lagi dapat mempertahankan prinsip hidup lega lila, nrimo ing pangdum dan keikhlasan yang selama ini ia yakini, terlebih ketika ia dihadapkan dengan kenyataan pahit harus meninggalkan Suryomentaraman dan bekerja di lingkungan yang baru di Jakarta.

Pariyem 2000 is a drama performance that became one of the many works of lyric prose adaptations of the work of Linus Suryadi Agustinus, Pengakuan Pariyem; Dunia Batin Seorang Wanita Jawa, which became the hipogram. The phenomenon of adaptation works more intense in recent years, this provides creative opportunities for artists to create a work of the same but with a different viewpoint. The process of adaptation can provide a new dimension in the art world at this time, because there are three things, process of transposistion, process of creation, which involves re-interpretation and re-creation, as well as the form of intertextuality. Using qualitative methods, through the collection of the data and equate it with the data intrisic textual sociology, Pengakuan Pariyem and Pariyem 2000 wich is an attempt to outline the issues, challenges, ang dialectic in process of adaptation from the prose lyric to the staging, so that it can be seen the changes in figures Pariyem, cultural and social aspects that go with it. Dialectic and intertextuality is necessary to look at the relationship between these works. Pariyem figure in Pariyem 2000 is not only transformation, but also a re-formulation of previous Pariyem figure. Social and cultural changes have strongly influenced the re-reading of the text. Pariyem who lived in year 2000 is no longer able to maintain the principle of life, lega lila, nrimo ing pangdum, and the sincerity, she believe that during this time, especially when she was confronted with the bitter truth, that she had to leave Suryomentaraman and work in the new enviroment of Jakarta.

Kata Kunci : adaptasi, intertekstualitas, sosial budaya


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.