Laporkan Masalah

Kota Bekasi : Perkembangan Sebuah Kota Industri 1950-1997

REZA ADITYA MUKTI, Mutiah Amini, S.s, M.Hum.

2014 | Skripsi | ILMU SEJARAH

Perkembangan Kota Bekasi terjadi akibat adanya perkembangan yang terjadi di wilayah Jakarta. Wilayah Bekasi pada zaman kolonial hanyalah sebuah kawedanan atau distrik yang hampir sebagian wilayahnya adalah tanah partikelir. Tidak seperti Jakarta yang sudah diproyeksikan sebagai sebuah kota kolonial perkembangan sudah sangat pesat sejak dahulu. Bekasi baru berkembang setelah masa kemerdekaan, statusnya dinaikan menjadi setingkat Kabupaten. Perkembangan yang signifikan terjadi ketika adanya Instruksi Presiden No. 13 Tahun 1976 tentang diadakannya pengembangan wilayah Jabotabek yang bertujuan untuk meringankan tekanan penduduk yang ada di Jakarta dan guna terciptanya pemerataan pembangunan bagi kawasan-kawasan pinggiran. Akibat adanya konsepsi itu Bekasi harus mampu menanggung beban sebagai kota penyangga. Akibat yang ditimbulkan cukup terasa, ekspansi wilayah Industri ke Bekasi adalah salah satunya. Fasilitas pemukiman juga banyak dibangun, akibat banyaknya developer yang tertarik berinventasi di Bekasi. Serta pertambahan penduduk terjadi sangat cepat kurun waktu tahun 1970-1990an membuat pemenuhan akan pembangunan pemukiman semakin bertambah. fasilitas-fasilitas infrastruktur banyak dibangun guna menunjang aktivitas-aktivitas penghuninya. Wajah Bekasi baik lingkungan fisik, sosial maupun ekonominya kemudian berubah dari yang tadinya adalah wilayah agraris menjadi wilayah perkotaan. Atas dasar tersebut kemudian status Bekasi khususnya yang berada di wilayah Kecamatan Bekasi dinaikan menjadi Kota administratif pada tahun 1982. Perkembangan Kota Bekasi terus berlangsung secara signifikan berbarengan dengan perkembangan yang terjadi di Kota Jakarta karena wilayah Bekasi yang strategis berada tepat bersebelahan mempunyai tanggung jawab sebagai kota penyangga.

The development of Bekasi linked directly with the growth and expansion of Jakarta. Bekasi region in colonial times was only a Kawedanan or district that almost half its area was particulaire (private land). Unlike Jakarta, which has been projected as a colonial city and rapidly flourished since the Dutch time. Bekasi emerged after independence and the status increased to the district level. Significant progress has been noted in Instruksi Presiden No. 13 Tahun 1976 on the extention of the greater JABOTABEK area development that aims to relieve the population explosion and to create an equitable distribution of development to the hinterland areas . Due to the conception, Bekasi designated to bear the burden of urban development as a buffer city. The impact is quite noticeable in the sense of the industrial expansion. Residential facilities and amenities are growing up due to the many developers who are interested in investments. As well as rapid population growth occurred during the years 1970 to 1990 to make compliance with increasing residential development, infrastructure facilities were built to support the activities of its residents. This development changed Bekasi not only physically but also socialy and economically. In which the main feature of this development was the shift from agricultural area to urban site. On the basis of that response, the Subdistrict of Bekasi in particular was changed to Administrative City of Bekasi in 1982. Ongoing development of Bekasi significantly coincided with developments in the city of Jakarta as a strategic area and a buffer city .

Kata Kunci : Perkembangan, Kota Bekasi, Kecamatan, Kota, Kota Penyangga


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.