PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PONDOK PESANTREN MELALUI POS KESEHATAN PESANTREN DI KABUPATEN TULUNGAGUNG
Endang Kusnawati, Dra.Yayi Suryo Prabandari, M.Si.,Ph.D
2013 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan MasyarakatLatar Belakang: Salah satu strategi untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat pondok pesantren adalah dengan membentuk pos kesehatan pesantren (poskestren) yang menggunakan prinsip pemberdayaan masyarakat. Di Kabupaten Tulungagung terdapat 10 poskestren yang sudah terbentuk. Poskestren mendapatkan dukungan dana, sarana, dan prasarana dari Kemenkes, Dinas Kesehatan, serta pihak swasta. Berdasarkan hasil studi pendahuluan diperoleh data bahwa pada akhir tahun 2011, poskestren yang berhasil mencapai strata mandiri hanya 10%. Dalam mencapai keberhasilan capaian kemandirian, tentunya banyak faktor yang mempengaruhi. Oleh karena itu, dibutuhkan kajian tentang implementasi pemberdayaan masyarakat pondok pesantren melalui poskestren di Kabupaten Tulungagung serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Tujuan Penelitian: Mengeksplorasi implementasi dan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan upaya pemberdayaan masyarakat pondok pesantren melalui poskestren di Kabupaten Tulungagung. Metode Penelitian: Penelitian kualitatif dengan rancangan studi kasus. Data diambil secara purposif pada 1 poskestren berstrata mandiri yang dibentuk Kemenkes Pusat dan 1 poskestren berstrata pratama yang merupakan poskestren pengembangan Dinas Kesehatan Kabupaten. Subjek penelitian sebanyak 31 orang, Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, diskusi kelompok terarah (DKT), dan observasi. Pengujian keabsahan data dilakukan dengan triangulasi metode dan triangulasi sumber. Hasil dan Pembahasan: Implementasi pemberdayaan masyarakat pondok pesantren melalui poskestren dilakukan dengan tahapan persiapan & sosialisasi, pengorganisasian, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, dan adopsi konsep poskestren. Pemberian dukungan dana, sarana, dan prasarana oleh Kemenkes Pusat dan Dinkes Kabupaten belum mampu menjadi stimuli tumbuhnya potensi internal masyarakat pondok dan justru menimbulkan ketergantungan. Sebaliknya, dana dari pihak swasta mampu menumbuhkan sumber daya internal masyarakat pesantren. Keberhasilan atau kegagalan upaya pemberdayaan melalui poskestren terlihat dari jumlah kegiatan yang berjalan yang merupakan output poskestren. Faktor-faktor yang mempengaruhi implementasi pemberdayaan masyarakat pesantren melalui poskestren yaitu pengetahuan, partisipasi, motivasi & dukungan, kepemimpinan, potensi masyarakat, kerjasama dan kebijakan. Kesimpulan: Implementasi program poskestren sudah melalui tahapan pemberdayaan masyarakat. Keberhasilan poskestren dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu pengetahuan, partisipasi, motivasi & dukungan, kepemimpinan, potensi masyarakat, kerjasama dan kebijakan. Kegagalan pada salah satu poskestren disebabkan karena lemahnya partisipasi masyarakat dan munculnya sifat ketergantungan terhadap bantuan Depkes Pusat dan Dinkes Kabupaten.
Background: Implementing of the boarding school health post (poskestren) program based on community empowerment is one of strategy to increase community health status in boarding school. The implementation of boarding school health post (poskestren) program in Tulungagung district have supported resources, include fund, facilities, and human resources by central ministry of health (MOH), district health office (DHO) and private sector. The supported resources have positive and negative effect for implementation program. Preliminary study showed that only 10 % poskestren reach the mandiri strata. In achieving success and independences, of course, many factors influence. Therefore, there was a need to asses community empowerment implementation in boarding school health post (poskestren) program in Tulungagung district. Objective: to explore the implementation and factors that influence the succesfull of boarding school community empowerment through boarding school health post program in Tulungagung district. Methods: This was qualitative research with case study design. Data was chosen purposively at two poskestrens that were one poskestren with mandiri strata, and one poskestren with pratama strata. There were 31 informants. Data was collected by in-depth interviews, focus group discussion, and observation. Triangulation on methods and sources were used in assessing the trustworthiness of data. Result and Discussion: The process of community empowerment implementation in boarding school health post program include, socialization by giving information, motivation and support, organized movement, capacity building, and adoption of poskestren concept. The supported resources, include fund, facilities, and infrastructure by MOH and DHO can not be a stimulus for the community to develop the internal resources. The support of funds by private sector can develop internal resources of community. The successful or failure poskestren showed from the number of activity program. The factors that influence the successful community empowerment were knowledge, participation, motivation & support, leadership, potential community, cooperation, and policy. Conclusion: The implementation of poskestren program had been implemented community empowerment stage. The factors that influence the successful community empowerment through poskestren program were knowledge, participation, motivation & support, leadership, potential community, cooperation, and policy. The failure in one of poskestren occurs because of weakness in participation and community dependence on outside funding.
Kata Kunci : poskestren, pemberdayaan masyarakat, pondok pesantren